Sabtu, Desember 15, 2018

Cerpen Tidak Jadi Pulang by Asa Amelia Mahardika

Tidak Jadi Pulang
by Asa Amelia Mahardika

Hari Minggu, waktunya untuk bermalas-malasan. Bangun siang lalu menonton kartun sambil tiduran. Eh, tunggu! Sekarang bukan lagi aku yang dulu. Sekarang harus mengubah sikapku menjadi lebih mandiri. Pakaian kotor telah menumpuk di ember besar, lantai berdebu, kamar berantakan, dan masih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan sendiri. Kini sudah tak ada lagi mama yang mengurus rumah dan keperluan sehari-hari. Saat ini aku benar-benar sendiri.

Andai saja waktu bisa diputar ulang. Ingin rasanya bertemu mereka -orangtua- lagi. Mungkin pekerjaan rumah yang sekarang menumpuk akan terasa menyenangkan bila dikerjakan bersama mama. Tapi ..., itu hal yang mustahil. Harus menunggu enam bulan atau saat ada pesta keluarga saja kami bisa berkumpul lagi.

Rasa malas masih bergelayutan saat aku berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Mata masih belum sepenuhnya terbuka. Ah, ini terpaksa! Padahal aku masih betah melanjutkan mimpi di kasur empuk itu.

Dering telepon terdengar nyaring di dalam kamar. Sesegera mungkin menghampiri sumber bunyi tersebut, siapa tahu ada hal penting sampai pagi-pagi ini menghubungi.

"Bapak! Aku lupa kalau semalam sudah berjanji akan menelponnya," gumamku lirih seraya menggeser panah hijau di sudut kiri ponsel.

"Hallo, udah bangun, Nak?" kata bapak memulai percakapan.

"Iya, ini baru aja mandi. Hehee." Maaf, pak, kali ini aku berbohong. Sebenarnya aku baru saja akan ke kamar mandi.

"Tumben. Hehee ..., gini Bapak mau ngomong sesuatu. Tapi, kamu jangan marah, ya?"

"Kenapa? Pensil warna yang kupesan tidak ada di toko? Atau Bapak merasa keberatan membawakannya saat pulang ke kampung nanti? Aku gak marah kok."

"Bukan. Pensil warnanya sudah Bapak beli, lengkap beserta dua pak kertas HVS. Bapak cuma mau bilang ... kalo Bapak ... Mmm ... gak jadi pulang ke kampung."

Jleb! Tubuhku lemas seketika. Melempar ponsel pintar itu ke tumpukan bantal, hampir mengenai tubuh kucing kesayanganku. Lalu bergegas membersihkan diri. Bendungan air di pelupuk mata tak kuat lagi menahannya. Aku tak boleh menangis!

*** ***

Minggu yang suram. Hening. Tak ada suara apapun yang mengisi ruang hampa ini. Ruang yang kukira istana penuh kenyamanan, namun hanya berisi kekosongan. Sejak kejadian tadi -bapak menelpon- mengingatkanku akan tangisan perpisahan di terminal bis Petarukan. Tepatnya satu tahun lalu.

"Bapak jangan pergi ...," kataku sambil menarik-narik lengannya.

"Bapak harus pergi. Biar bisa beliin lagi pensil warna yang kamu inginkan." Jemarinya menggenggam tanganku. Menatap penuh keyakinan.

"Pak, aku ini bukan anak kecil lagi yang Bapak iming-imingkan dengan benda kesayangan. Aku sudah besar, Pak!" kataku bersikeras menahannya untuk pergi. Merantau di kota orang, beruntung masih ada sanak saudara yang satu daerah.

"Bapak harus kerja!" Seketika dia sedikit berlari menghampiri bis antar provinsi itu. Aku tak mau berpisah jauh darinya. Semasa kecilku sudah ditinggal keluar pulau Jawa, tepatnya dia merantau di Riau. Karena kasihan, dia tak mau lagi merantau keluar pulau.

Bapak langsung mengecup keningku, tak terkecuali juga kedua pipi ini. Mencubitnya, lalu berucap, "Bapak akan kembali liburan nanti, Sayang ...."

Kini air mata mengalir perlahan, mengiringi kepergiannya menuju kota besar. Aku sudah besar, tentunya malu jika menangis di tengah keramaian. Bapak ..., jangan lupakan janjimu itu. Selamat bekerja, dan jangan lupa hubungi aku jika ada waktu.

- SELESAI -
Cerpen Tidak Jadi Pulang

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon