Senin, Desember 10, 2018

Cerpen Tentang Cerita Cinta (Bagian 1) Karya Wirda Ayu



Tentang Cerita Cinta (Bagian 1)
Karya : Wirda Ayu

Langit baru saja memulai teriknya pada posisi sepenggalah, membakar kulit-kulit peramai pasar yang bernaung langung di bawahnya sehingga tidak ada alasan bagi peluh untuk tetap bersembunyi di bawah kulit. Aktivitas jual beli memang sudah hampir selesai saat itu sehingga bisa digunakan Nabil untuk bersantai di atas tumpukan kardus bekas yang akan diangkut oleh petugas kebersihan pasar menjelang senja nanti. Duduk pula di sampingnya Tegar yang bolak balik mengantarkan pesanan pedagang dari pasar induk menuju pasar-pasar di pelosok. Aroma keringat yang pekat mengebul jadi satu dengan partikel udara belum lagi aroma sayuran yang belum laku tapi sudah tidak segar lagi, bahkan dari lapak ikan laut yang sangat menusuk hidung, namun semua itu tak menyurutkan Nabil dan Tegar menikmati segarnya es kelapa buatan Mang Adi yang berasal dari Surabaya. 
Di sela-sela itu Tegar mengepulkan asap rokoknya, bibirnya sudah berwarna gelap diikuti gusi dan giginya yang sudah tercemar oleh nikotin berdosis tinggi. Baginya merokok adalah jiwanya. Sementara Nabil di sisinya hanya berusaha menghidar dari kepulan asap.

”Kenapa, Bro? Kalau gue ngerokok pasti badannya mundur,” seloroh Tegar.

”Ngebul, Bro,” sahutnya.

”Makanya, coba nih!” seru Tegar menyodorkan rokok ke depan mata Nabil. Ia tak mau mengambilnya sama sekali. Ia mencoba teguh pada pendiriannya bahwa merokok dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Lagipula ibu dan adiknya pasti tidak akan setuju bila ia menjadi perokok.

”Ah, dasar lo. Terlalu polos.” Bibir Tegar menyeringai membuly Nabil yang masih tak bergeming, ”Merokok itu nikmat, tahu?”

”Iya gue tahu, tapi itu cuma bagi pecandu. Gue nggak kok,” timpal Nabil tak mau kalah. Wajahnya yang bersih dari tumbuhnya janggut dan kumis semakin menonjolkan kelembutan dan keteduhan wajahnya.

Ia merasa risih dengan asap rokok, tapi tak ditinggalkan sahabatnya itu hanya dengan alasan rokok. Baginya, Tegar adalah segalanya, sejak kecil selalu bermain bersama saat ikut kedua orang tua mereka berjualan sayuran di pasar.

”Gue ingin punya truk sendiri, Bil,” katanya tiba-tiba, mungkin dibenaknya memang sudah terbesit pikiran itu atau mungkin sudah terlalu lama ia memikirkannya sampai hari ini akhirnya tertumpahlah lewat kalimatnya tadi.

”Elo kan sudah punyai truk pamanmu?” timpal Nabil.

”Itu bukan punya gue, tapi punya paman. Dan nantinya akan diwariskannya kepada Faran putranya,” cetusnya.

”Bilang aja lo iri?”

”Ishh apanya yang iri? Kalau iri, gue akan minta paman menjual truknya dan membagi dua hasil penjualannya,” seloroh Tegar.

”Gue cuma nggak mau bergantung lagi, sudah saatnya untuk mandiri,” tambahnya.

Nabil terdiam sesaat, mencoba membuka pikirannya mengenai usahanya yang sudah dijalannkannya selama tujuh tahun tetapi belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

”Lo benar,” celetuk Nabil.

”Apanya yang benar?”

”Gue juga ingin berubah."

”Hahaha, jadi apa? Satria Baja Hitam?”

Nabil protes lalu menyenggol perut Tegar dengan sikutnya, ”Berubah jadi orang kaya donk. Masa Satria Baja Hitam. Memangnya aku pembela kebenaran? Aku kan pembela kehidupan?”

Mereka terkekeh lalu kembali menyeruput es kelapa dengan sedotan, ”Untuk apalagi sih, Bil? Kios udah punya, rumah juga punya. Malahan lo beruntung memiliki dua kios. Punya lo sama bokap lo.”

Saling menyadari kesamaan nasib mereka yang sama, hanya saja Tegar tak seberuntung Nabil. Kedua orang tuanya meninggal saat usianya masih kecil karena kecelakaan, sehingga ia harus ikut dengan pamannya yang seorang sopir truk pasar. Sampai saat ini ia masih menjadi kernet truk tersebut yang selalu membantu bongkar dan muat.

”Tapi, gue nggak akan selamanya kaya gini. Suatu saat nanti akan keluarga yang akan ditanggung,” ujar Nabil, tatapan matanya menerawang entah ke mana seakan dia bisa menembus takdir di masa depan.

”Oh, jadi pengen kawin?” ledek Tegar menyenggol bahu Nabil dengan sikunya, ”sudah punya calon rupanya?”

Tegar memainkan alisnya ke atas dan ke bawah untuk meledek temannya yang ia tebak-tebak sedang jatuh cinta. ”Siapa? Siapa? Hah? Hah?”

”Dia,” Nabil menunjuk ke depan tetapi dengan asal-asalan. Tak disangka Tegar melihat yang ditunjuk Nabil adalah seorang wanita anggun berkulit putih dengan wajah yang oval, tubuhnya sintal dan rambutnya sebahu.

Tegar mengiyakan hasil tunjuk asal-asalan sahabatnya, ”Wuiih ck ck ck ck, cantik.”

Nabil baru tersadar bahwa pria di sampingnya menganggapnya serius, ”Siapa? Memang siapa yang ak tunjuk?”

”Dia.”

”Mana?” Nabil memiringkan tubuhnya mencari-cari objek yang ditunjuknya.

”Cakeeep,” Tegar merasa terpesona dengan keanggunan gadis yang akhirnya lewat di depannya. Nabil pun melihatnya ia memusatkan perhatian padanya dari rambut sampai ujung kaki. Pucuk dicinta ulam pun tiba, gadis itu berhenti di depan keduanya dengan raut wajah Tegar yang masih melongo memperhatikannya.

”Bang?” panggil SI Gadis.

Nabil berusaha menormalkan kembali konsentrasinya, ia mencoba berdiri dan merapikan kaosnya yang sudah kering dari peluh, serta topinya yang miring dibenarkannya, ”Ada yang bisa dibantu, Mbak?”

”Saya mau beli brokoli, apa masih ada yang jual ya siang-siang gini?” tanyanya.

”Saya punya, Mbak?” jawab Nabil sumringah.

”Oh, syukurlah.”

”Mau berapa banyak?”

”Dua kilo saja,” Gaya bicara gadis ini sangatlah lembut, terlihat dia orang berada dan berpendidikan tinggi. Nabil berpikir sangatlah tidak mungkin mengharapkannya. Tidak akan pernah gadis seperti dia meliriknya.

Nabil memasukkan brokoli ke dalam kantong plastik kresek. Matanya tak beralih sedikitpun dari gadis di depannya itu. Tegar menyerempet tubuh Nabil dari belakang, ia membisikkan sesuatu ke telinga sahabatnya, ”Ayo, kenalan sana! Katanya mau kawin?”

Nabil mendorong Tegar kebelakang sambil berbisik, ”Apaan sih?”

”Cepetan!”

”Udah kenal, kok. Dia calon istriku,” ujar Nabil sekenanya.

”Halaahh,” bibir Tegar melengkung ke bawah, ”mana mungkin cowok kucur kayak kamu berani melamar gadis secantik dia.”
Gadis itu menyodorkan sejumlah uang Rp 100.000,- diikuti Nabil yang menyerahkan kantong plastik berisi brokoli dengan gemetar. Tegar menggenggam pergelangan tangan Nabil.

”Ya ampun, gitu aja gemetar?” gerutu Tegar tepok jidat.

”Gue wakilin, ya?” Tegar mendorong tubuh Nabil menjauh. Kini dia yang mengambil alih percakapan dengan gadis itu.

”Eh, nggak usah mbak. Ini gratis,” seloroh Tegar, menampik uang yang diberikan oleh Si Gadis.

”Gratis? Tapi, nggak ada tulisan gratisnya?” tanya Si Gadis kebingungan.

”Ini gratis yang spontan, mbak. Jadi sekarang bisa mbak ambil barangnya dan simpan kembali uangnya!” jelas Tegar.

”Gitu, ya?”

”Sebagai gantinya, Mbak harus sebutkan nama asli,” tambah Tegar.

”Oh, nama?” Si Gadis langsung mengulurkan tangannya, ”A ...,”

Tanpa menunggu lagi Tegar langsung menyambut tangan putih dan mulus tersebut hingga si gadis batal menyebutkan namanya, ”Abang Tegar."

Rupanya Nabil tak mau kalah juga, iya segera mengulurkan tangannya juga, ”Nabil. ” kemudian mereka menceritakan kios dan suasana pasar hingga terlupa dia baru menyebutkan huruf depan namanya. Lantas ia terburu-buru pulang karena sudah ditunggu, Pada akhirnya nama gadis itupun masih merupakan rahasia.

”Ok, terimakasih ya abang-abang, Atas brokoli gratisnya. Saya pulang dulu,” Gadis itu merapikan rambutnya ke belakang telinganya, kemudian pergi dan menyisakan cita rasa pesona pada dua pemuda yang baru saja ditemui.

”Kok, gratis?” gerutu Nabil.

”Ye biarin aja, itu trik menarik perhatian seorang wanita. Siapa tau dia jadi langganan dan bisa ketemu setiap hari,” bela Tegar sambil berjingkrak salah tingkah.

”Bro, tadi siapa namanya?”

”Eh, siapa ya?” Tegar menggaruk kepalanya yang tidak gatal berusaha mengingat namanya.

”Dia belum sempat bilang namanya siapa, kamu sih ge er duluan, akhirnya dia jadi batal sebutin namanya,” Nabil duduk menjauh dari Tegar dengan tampang yang bête tingkat monas.

***

Hari ini, Tegar mencoba membantu Nabil berjualan sayur, pemuda itu rela menjadi ajudan sahabatnya sendiri demi melepaskan diri dari sang paman. Sehingga, hari ini, Nabil terlihat agak santai dipagi hari. Secangkir teh hangat dan beberapa pisang goreng buatan Anita yang dibantu oleh Nazla menemani pagi hari Nabil di depan meja makan. Tak dipungkiri pertemuannya dengan gadis yang namanya masih misteri itu secara tak disengaja sangat membekas dihatinya. Ia ingin bertemu kembali, tak tau bagaimana caranya, dari mana dirinya, tinggal di mana bagaimana keluarganya sangat membuatnya penasaran. Nazla datang dan duduk di dekatnya, memperhatikan raut wajah yang tak bernyawa karena khayalannya sedang berada di awang-awang.

”Kenapa Kak? Kok bengong sih?” Nazla memicingkan matanya melihat jauh ke dalam pandangan Nabil.

Nabil tersentak dan seketika itu pula buyarlah khayalannya, ”Apaan sih? Ganggu aja.”

”Ih, kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi galak gitu?” balas Nazla tak kalah galaknya.

”Kamu iseng, tau nggak?” sulut Nabil.

”Kan cuma tanya, kakak kenapa? Kalau nggak ada masalah, ngapain marah-marah?”

Geregetnya Nabil, sampai ia mengambil pisang goreng dari tangan Nazla. Akan tetapi gadis itu menahannya. Tak sengaja rambut panjang Nazla menyentuh pipi kakaknya sehingga posisi mereka berdekatan. Ada perasaan aneh terjadi, darahnya berdesir saat wajahnya berdekatan dengan Nazla. Jantungnya pun berdegup tak menentu. Padahal baru dua menit yang lalu ia terpesona membayangkan kecantikan si A huruf yang sempat diucapkan oleh gadis yang ditemuinya di pasar kemarin sore. Tapi kenapa degupan kepada Nazla melebihi pesonanya.

Di saat yang sama gadis ini merasakan hal yang aneh pada tatapan kakaknya, Entah karena dirinya terlalu dekat dengannya atau karena hal yang lain. Ia menjadi gugup melihat mata laki-laki di hadapannya itu. Lama-kelamaan Nabil sadar dengan yang sedang terjadi. Ia merasa bersalah dengan hal ini. Apa yang aku lakukan? Dia adalah adikku, batinnya. Kemudian ia mulai beringsut menjauh. Ia mengusap wajah dan segera menjauhi adiknya dengan segera mengambil sepeda dan segera pergi ke pasar.

Bersambung

Cerpen Tentang Cerita Cinta (Bagian 1)

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon