Rabu, Desember 12, 2018

Cerpen Sinar Biru (Bagian 1) By Asa Amelia Mahardika

Sinar Biru (Bagian 1)
By Asa Amelia Mahardika

Perkelahian antara dua pelajar kelas empat sekolah dasar itu semakin menjadi. Berkali-kali pukulan diluncurkan ke tubuh Deo, tendangan demi tendangan dikibaskan. Sigit, yang merupakan ketua kelas itu mencoba melerai kedua temannya. Namun, hasilnya nihil. Rahangnya tak sengaja terkena lemparan vas bunga yang dilemparkan Adi.

"Hentikan!!!" teriakkan Mr. Frans memecahkan perhatian semua siswa di kelas. Adi dan Deo menghentikan perkelahian mereka. Kepalan tangan yang siap menghantam dada masing-masing lawan itu pun seketika diturunkan.

"Ada apa ini?! Kalian lagi?! Ya, ampuuun, kapan kalian akan damai?!"

Hening. Tak satu pun berani angkat suara. Sigit terduduk di sudut papan tulis sambil memegangi rahang yang bercucuran darah, menahan perih.

"Kamu kenapa?" Mr. Frans mendekat ke arah Sigit, lalu berjongkok di depannya. Memeriksa apakah luka itu parah atau hanya luka kecil.

"Kalian berdua, masuk BK! Cepat!" Mata Mr. Frans mengarah tajam ke kedua murid yang bersangkutan.

*** ***

Deo berdiri menghadap tembok di ruang kerja ayahnya. Menunduk, tak bersuara. Dia tahu apa yang nanti akan dilakukan sang ayah, memukulnya dengan gagang sapu? Menjewer telinganya hingga kemerahan? Atau ..., tak mendapat fasilitas antar jemput sekolah?

Suara derit pintu terdengar menegangkan. Mata anak lelaki itu seketika melebar, fokus pada sumber suara. Gugup. Gemetar seluruh tubuhnya. Rasa takut menyeruak bersamaan dengan bunyi langkah kaki. Kali ini lelaki berusia 45 tahun berkebangsaan Jepang itu telah berdiri tepat di belakang anaknya. Senyap. Degup jantung tak beraturan, angin pun seakan menjauh, tak mau ikut campur urusan mereka.

"Jadi, kamu buat keributan lagi?" Suaranya terdengar dingin. Deo rasa, suara ini lebih menakutkan daripada suara harimau yang datang menerkam.

"Iya, Yah."

Lelaki itu segera mengambil tongkat golf yang telah tersedia di samping meja kerjanya. Memukul bertubi-tubi punggung anak itu dengan kasar. Deo menjerit, menahan rasa sakit. Di sekolah sudah kena pukul, sekarang berlanjut di rumah. Bahkan lebih menyakitkan.

"Ayah, hentikan! Ampun, Yah! Aah!!!"

"Biar tau rasa! Seenaknya saja mempermalukan keluarga Funakoshi! Mau sampai kapan kamu begini?!" Suaranya melengking keras di telinga seraya terus memukul tubuh sang anak. Sepertinya tubuh mungil itu mulai lebam, menimbulkan warna kebiruan.

"Ayaah! Ampuun!"

Buuk! Buuk!

"Hiaaa!!!" Sang ayah mengangkat tinggi-tinggi tongkat golf yang digenggamnya, mengerahkan seluruh tenaga, dan ...

Buuuk!!!

"Mama ...!" teriak bocah itu histeris sambil menyongsong tubuh ibunya yang akan tumbang. Pelipis kanan wanita itu terkena pukulan dari suaminya saat hendak melindungi Deo. Mengoyakkan kulit hingga darah segar mengalir perlahan.

"Ayah! Kaaau!" Matanya menatap garang, jemari bocah itu membuka, seolah tengah mendorong sesuatu di hadapannya.

Duaaar!!! Cahaya biru muda menyala keluar dari telapak tangan sang bocah. Mengenaj tubuh ayahnya yang kemudian terhuyung membentur rak buku di belakang.

"Apa itu, Deo?!"

*** ***

"Sekarang, ceritakan pada Ayah!"

"Apa? Deo gak tau apa-apa!" Deo mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada rasa gelisah akan kondisi sang ibunda, juga rasa takut perihal kekuatannya yang sekarang mulai diketahui ayah.

"Cepat ceritakan!"

"Deo akan ceritakan, tapi nanti saat di rumah. Ini masih di rumah sakit, tempat umum," ujar Deo ketus.

- Bersambung ....
Cerpen Sinar Biru (Bagian 1)

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon