Minggu, Desember 02, 2018

Cerpen Hadiah Senja oleh Urvilla Widya

Hadiah Senja
Oleh : Urvilla Widya

Dalam kurun waktu lama. Pak Kardi setia bekerja pada Tuan Bahar. Kini sudah tua renta dan meminta berhenti sebagai pelayan; tangan kanan, dan penasehat dari Tuan Bahar.

"Tuan, saya sudah renta. Saya ingin istirahat dan fokus dengan keluarga hingga waktunya tiba."

"Sebelum berhenti, apakah kamu masih bisa memenuhi permintaan terakhirku?"

"Apa itu, Tuan?"

"Bangunkan rumah yang besar untukku!"

Meski kesal, ia tak sanggup menolak permintaaan tuannya.

Tidak sepenuh hati mengerjakan rumah. Dalam pikirnya Pak Kardi hanya memburu selesai, dan ia berhenti bekerja.

Sangat singkat, rumah besar akhirnya selesai. Pak Kardi berangkat menemui tuan Bahar.

"Tuan, rumah sudah saya selesaikan."
"Benar? Kamu tidak pernah mengecewakan saya. Jadi apakah rumah itu sesuai dengan apa yang saya minta?"
"Rumah itu sesuai dengan apa yang anda minta, Tuan." Pak Kardi menjawab dengan tidak yakin.

"Kalau begitu maukah, Pak Kardi, menerima permintaan terakhir saya?"

"Iya, Tuan." Pak Kardi kesal karena tidak bisa menolak apapun yang diminta tuannya. Namun bila seperti ini terus maka ia tidak akan bisa pensiun. Hatinya marah, dan kesal tapi, bagaimanapun, Tuan Bahar sangat berjasa dalam hidupnya.

"Terimalah rumah itu. Semoga tidak mengecewakan saya."

Pak Kardi, menangis sejadinya-jadinya. Air mata penyesalan itu kentara sekali. 
Pekerjaan setengah hati tersebut adalah miliknya. Seandainya saja aku mengerjakan seperti biasanya. Pasti itu akan lebih nyaman.

Namun, sudah terlambat, Tuan Bahar sudah tidak pernah dijumpai. Pak Kardi masih menanggung beban. Permintaan, maaf!
Cerpen Hadiah Senja

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon