Kamis, September 27, 2018

Cerpen Cukup Sudah Rin! Oleh Yan

Cerpen Cukup Sudah Rin!

Cukup Sudah, Rin!
Oleh: Yan

Hal paling mengerikan pada diri cewek tuh ada dua: pertama, dikejar-kejar mereka padahal kita tidak suka, apalagi cinta; kedua, melakukan cara buruk guna mendapat perhatian.

Keduanya ada pada diri Rin.

Lalu harus dengan cara apa aku mesti menjauh dari cewek kurus yang masih kelas dua SMP itu?

“Rin ....”

“Ya? Ada apa, Kak?” Matanya mulai berkaca-kaca, dan sepertinya siap tumpah.

Hadeeuh, baru menyapa itu saja tuh anak kayaknya sudah ngerti omongan aku selanjutnya. Mesti gimana, dong? Kan nggak seru banget mendadak ada cewek nangis hanya gara-gara kukatakan: i don’t hate you but i don’t like you. It’s mean, i do not love you. Understand?

Pastinya akan ada hujan petir karena wajah mendadak mendung tebal.

“Mmng ... kapan ujian semester?”

“Dua minggu lagi. Kayaknya ini udah tiga kali, deh ....”

“Eh, apa?”

“Kakak nanya soal ujian semester kan udah tiga kali untuk hari ini.”

“Apa iya?”

Rin ngangguk. Senyumnya lebar sebab pernyataan yang diduganya tak keluar dari bibirku.

***

Kalau ada yang tanya, kenapa aku nggak suka pada Rin. Cewek itu kan nggak jelek?

What?! Nggak jelek?!!

Oke, nggak jelek, tapi dia nggak cantik. Kulitnya memang putih, yups! Rambutnya sedikit pirang ... tapi tubuhnya kurus banget, dan ... itu loh! Dia menyimpan gitong di balik bibirnya. Tau kan gitong? Ya udah, nggak usah dibahas.

Anything else?

Dia tuh masih kelas dua SMP, dan aku sudah lulus SMA dua tahun, cuy!

Lho, memangnya kenapa? Kan nggak tua-tua banget.

Okey, tapi yang namanya cinta itu kan susah dipaksa. Kalau ada yang bilang, jalani aja dulu. Nah, bukannya tidak dicoba. Sudah! Dan semakin tidak suka. Alasannya:
jangan bilang dulu pada orangtuamu bahwa aku ini pacarmu!

Huhuhu! Sebal sewaktu dengan entengnya dia bilang dengan bahasa rahasia, bahwa aku ini her boyfriend. What?! Itu makin bikin aku ilfil banget.

Kedua dia ngakalin gini:

Para berandalan mengadang mereka di depan sekolah. Dia dan dua teman perempuan diganggu. Ditarik-tarik mereka sambil terus menggoda. Entah kenapa karena merasa tak ada rasa, tak ada keinginan untuk marah. Apalagi ingin membela. Namun dia ceritakan itu di depan kedua orangtuanya. Coba? Apa maksudnya?

Ya udah, dengan dua teman kudatangi markas berandalan itu. Alih-alih terjadi keributan, suasana malah baik-baik saja. Mereka bersumpah bahwa cerita itu tak ada. Kurang puas, kudatangi kedua teman Rin. Kupaksa mereka mengaku kejadian sebenarnya. Ya Tuhaaan, ternyata Rin memang mengarang cerita!

Maksudnya apa coba? Pengin aku mendadak jadi hero dan jadi dewa penolong? Pengin melihat aku bereaksi melindunginya sebagai seorang kekasih sejati? Hadeeuh ...!

Itu yang kemudian membuatku mulai mengatur jarak. Namun bukannya mengerti dengan kesalahan yang dibuat, Rin malah melakukan tindakan yang sangat ‘luar biasa’.

Plak! Plak!

“Aow! Adouw! Ibu, ya Alloh ... ibu, apa-apaan ini? Masuk kamar langsung mukul pakai sapu?”

“Anak kurang ajar! Berbuat apa kamu sama Rin? Tega kamu bikin malu ibu, ya? Ya Alloooh, kenapa kamu sampai begini? Kenapa kamu tega melakukan hal ini sampai mencoreng aib di muka kami?”

“Bu, Bu ... tenang dulu. Ada apa? Mencoreng aib apa?”

“Masih mau cari alasan? Orang-orang bilang Rin hamil dan itu perbuatan kamu ....”

“Astaghfirullah al’aziim ....”

Dengan susah payah aku mesti menjelaskan kepada ibu, juga bapak. Bahwa itu bukan perbuatanku. Aku sama sekali tidak pernah ‘menyentuh’ Rin. Itu tidak mungkin terjadi.

“Sungguh keterlaluan! Apa maksud kamu menyebarkan cerita bohong kepada semua orang? Apa kamu tidak berpikir, kamu telah membuat aib besar kepada keluargaku? Astaghfirullah al’aziim ... Rin, sungguh! Aku tidak bisa memaafkan kelakuan kamu yang satu ini. Ini benar-benar keterlaluan.”

Rin diam dan seperti biasa ... menangis.

Ini sudah fix. Tak ada ampun lagi. Kuceritakan semua kepada orangtuanya, termasuk bahwa aku ini bukan pacarnya. Bukan siapa-siapa dia juga. Aku cuma sekadar ketua karang taruna dan Rin hanya satu di antara sekian banyak remaja yang tergabung di dalamnya. Tidak lebih!

Setelah kuletakkan jabatan sebagai karang taruna, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Kurasa lebih baik sementara waktu menyingkir dulu ke rumah paman di Jakarta Timur. Fokus kuliah dan melakukan aktivitas lain.

Terakhir dengar kabar katanya Rin mau bunuh diri.

Fine! I don’t care. Perempuan seperti itu sepertinya lebih mengerikan ketimbang hantu.

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon