Senin, Mei 21, 2018

Cerpen PULANG Oleh Ranung Abadhi

Cerpen PULANG Oleh Ranung Abadhi


PULANG
Oleh:Ranung Abadhi

Malam itu aku masih asyik memainkan ponsel android dengan ngemil kacang atom. Menikmati hari kala ditinggal majikan pergi liburan. Hanya kakek yang telah tertidur lelap sejak sore menjadi teman sekaligus tanggung jawabku.

Entah mengapa ingin sekali membuka galeri foto semasa aku pulang beberapa bulan silam. Banyak cerita dan kenangan kala itu. Hanya fotolah yang menjadi penawar ketika rindu datang menerjang. Aku tertuju pada koleksi foto Yang berisikan kebersamaanku dengan ibu. Entah mengapa Ada rasa ingin segera pulang dan memeluknya erat.

Tak terasa bulir bening itu bercucuran tak terbendung. Kutenangkan diri dengan meminum dua gelas air hangat. Pikiranku kembali melayang mengingat ibu Yang semakin tua. Apalagi beberapa hari ini beliau mengeluh sakit. Rasanya ingin sekali aku meluncur pulang, beruntung ada kakak Yang mengurus ibu di rumah.

Karena terus resah, menelpon ibu adalah Cara terbaik menenangkan pikiranku. Meski sudah larut malam, katahu Ibu pasti belum tidur. Berulang kali aku menelponnya hingga suara lembut wanita yang kucintai itu dapat kudengar. Namun, suaranya tak seperti biasa kali ini lebih lemah. Kala aku menanyakan kondisinya, beliau hanya bilang perutnya masih terasa sakit. Mungkin karena penyakit maag maag akut ditambah beliau harus mengonsumsi obat jantung setiap hari.

Hati ini seakan tertusuk paku nan tajam. Aku hanya bisa menyarankan beliau mencari posisi tidur yang enak dan agar besok dibawa lagi ke dokter. Ibu pun menurut dan berpesan agar aku berhati-hati bekerja Di negeri orang.

***

Siang itu perasaanku tidak enak, apalagi ibu dan kakaku tak dapat kuhubungi sejak pagi. Hanya pesan yang bisa kukirimkan untuk mereka.

Setelah menyiapkan makan Siang untuk kakek, langsung aku menelpon kakakku dan menanyakan kondisi ibu. Dari seberang kakaku berkata pelan tak seperti biasanya dan ini pertanda Ada yang tidak beres. Dengan kata yang hati-hati diucapkan, dia memberitahu bahwa ibu harus opname karena jantung terjadi pembengkakan. Sekujur tubuh ini lemas seketika membayangkan kondisi ibu yang lemah harus berjuang melawan penyakitnya.

Setiap hari, hampir setiap jam Aku menelpon keluarga dan mencari tahu perkembangan ibu. Pada Hari keempat kondisinya telah stabil, makanapun sudah banyak. Berkali-kali Aku menelpon dengan video dengannya. Beliau terlihat senang dan memberiku beberapa pesan. Aku senang melihatku ibu sudah lebih baik. Dokter pun bilang bahwa ibu bisa segera pulang asal kondisinya terus stabil.

Hari itu Jumat subuh, kakak mengirim pesan memintaku telpon. Dengan segera kutelpon kakak, pikiranku hanya tertuju pada ibu Dan ibu. Dari seberang kakaku menjelaskan kondisi ibu Yang tiba-tiba menurun. Aku hanya meminta untuk memberikan Yang terbaik untuk Ibu.

Siang harinya Ibu kritis, Di sini Aku menghubungi semua temanku meminta bantuan doa agar ibu bisa melewati masa Kritis. Alhamdulillah selesai Ashar, ibu sudah mulai stabil dan sadar. Hanya saja beliau belum ingin terlalu banyak bicara.

Namun, tubuh ibukku terus melemah. Malam Hari beliau kritis Dan kondisinya terus menurun. Minggu Kala libur pun Aku lebih memilih menyendiri dengan terus memantau perkembangan ibu. Hingga malam itu menyampaikan pesan dokter bahwa apa pun yang terjadi kami harus siap. Tentu saja ini membuatku begitu hancur, harapan kami pun tipis.

Senin, 9 April 2018 Jam 3 pagi , saat di mana para malaikat turun mengajari mereka Yang bertahan a adalah wwaktunesia adalah saksi bisu terlepasnya dunia. Memisahnya nyawa dari badan yang selama ini telah berjuang melawan sakit yang tak berkesudahan. Pulang adalah obat terbaik untukmu Dan Allah adalah sebaik-baik tempat kembali.

WebBlogPur

WebBlogPur

Terima kasih sudah membaca disini

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon