Rabu, Mei 16, 2018

Cerpen Kita Hanya Sepasang Pemimpi Karya Ismy Ayu Wandirra


Kita Hanya Sepasang Pemimpi
Karya : Ismy Ayu Wandirra

Dirra menghindari tatapan mata Aditiya. Ia membalikan badan dan memandang keluar kaca jendela. Hujan belum juga reda, disertai suara petir yang saling bersahutan. Sore menggulita. Tidak ada senja dengan cahaya keemasannya yang indah. Hanya tampak langit kelabu yang mencekam seperti malam.

Sesungguhnya Dirra menyembunyikan air matanya dari pria yang sudah 7 tahun menjadi kekasihnya itu. Sekaligus rasa bersalah dan takut yang sedang memburu hatinya.

"Aku sudah tahu semuanya, tidak ada yang perlu kamu sembunyikan lagi." kata Aditiya dengan suara tegas.

Aditiya memang bertubuh kurus dan tinggi. Tetapi jika sedang marah rahangnya akan terlihat menyeramkan. Matanya meruncing.

Dirra semakin sesak nafas. Ia berusaha menahan tangisannya.
Aditiya meraih bahunya. Dipaksanya Dirra agar mereka bisa saling berpandangan. Dirra memejam. Tak berani melihat aditiya. 
Tetapi air matanya benar-benar menderas.

"Kamu mencintainya?"
Aditiya menahan peluru yang menghujam hatinya. Pertanyaannya itu sesungguhnya sangat membuatnya terpukul. Ia membenci pertanyaan yang keluar dari mulutnya sendiri itu. Ia membenci dirinya sendiri yang tak pernah bisa membahagiakan perempuan yang selama ini ia anggap bahagia bersamanya.

"Kamu mencintainya??" Aditiya mengulangi lagi pertanyaan memuakan itu, tetapi Dirra masih terbungkam. Ia lalu mengguncang bahu dirra cukup keras.

"Kamu mencintainya kan??!! Iya kan??!!"

Tangis Dirra kali ini benar-benar pecah. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Aditiya. Ia memilih roboh dipelukan pria itu. Menangis sejadi-jadinya. 
Aditiya dengan ragu membelai rambut Dirra dan menciumnya. Hati Aditiya berperang melawan rasa marah dan cinta. Kedua-duanya membunuhnya. Memeledakannya dalam bungkam.

Sementara di luar hujan belum juga reda.

***

Matahari memancarkan panas yang luar biasa. Di dalam bus Dirra berkali-kali membasuh keringatnya dengan tissu. Padahal kaca jendela bus sudah ia buka cukup lebar agar memberi angin. Tidak lama lagi bus akan memasuki tujuan akhir, Dirra dan beberapa penumpang lainnya bersiap untuk turun.

Tetapi perjalanannya belum selesai, begitu turun dari bus ia masih harus sedikit berjalan kaki menuju stasiun kereta api. Begitulah setiap harinya ia menjalani perjalanan pulang perginya.

Antrean calon penumpang kereta api tidak terlalu membludak seperti biasanya. Mungkin karena hari minggu, lebih banyak karyawan yang libur bekerja. Tentu saja kecuali Dirra yang tidak terikat aturan main itu, tidak ada libur di hari minggu. 
Dirra mendapat giliran antre di loket nomor 3.

"Hai, ketemu lagi!" kata petugas loket yang melayani Dirra dengan tersenyum ramah.
Petugas loket itu bertubuh sedikit berisi, berkulit cokelat, berambut acak-acakan seperti tidak disisir dengan rapi.

Mereka saling beradu pandang. Dirra memang sering melihat petugas loket dengan nama A. Nuryadi yang menempel di seragam kerjanya itu. Pikirannya sederhana saja, setiap harinya ia memang naik kereta dari stasiun Manggarai, dan petugas itu memang di tugaskan bekerja di stasiun Manggarai. Wajar saja kalau pertemuan itu sering terjadi.

"Depok kan?" tebak petugas loket sebelum Dirra memberi tahu kemana tujuannya.

Termasuk hal itu, Dirra masih menganggapnya wajar. Mungkin petugas loket bernama A. Nuryadi itu mempunyai ingatan yang baik sehingga bisa menghafal tujuan-tujuan para penumpangnya.

Dirra mengangguk sambil menempelkan kartu keretanya di mesin Tap-tiket.

"Nama kamu siapa? Boleh tahu?" tanya Yadi.

Dirra hanya menjawabnya dengan senyuman. Setelah mengambil uang kembalian, ia berlalu meninggalkan antrean.

Ia melangkahkan kakinya menuju peron enam, tempat dimana kereta tujuannya akan masuk dan membawanya pulang. Rumah; selalu menjadi hal yang paling dirindukannya.

***

Seorang perempuan paruh baya membawa nampan berisi secangkir teh dan sepiring kue bolu menuju teras rumah. Disambutnya Aditiya yang sudah menunggu sejak beberapa menit lalu. Diletakannya secangkir teh dan sepiring kue bolu diatas meja.
Aditiya memberi salam lalu mencium punggung tangan beliau penuh hormat.

"Maaf nak Adit, Ibu dari tadi di dapur sedang memasak. Maaf baru bisa membuatkan minum." 
"Ah Ibu, selalu saja aku merepotkan Ibu kalau bertamu."
"Ya masa calon mantu tidak di kasih minum dit, bisa cari calon mertua lagi nanti."
Keduanya tertawa hangat.

Tak lama Dirra keluar dari pintu dengan dress merah dan sepatu heels putih.

"Bu, aku sama Adit mau keluar sebentar. Ada kondangan di rumah teman" beritahu Dirra sambil mencium punggung tangan Ibunya.
"Baru saja di buatkan minum sudah mau pergi" 
Aditiya melihat wajah calon mertuanya penuh kemurungan. Ia lalu mengambil secangkir teh dan meminumnya.

"Tenang bu, perjalanan jauh. Aku pasti minum dulu" 
Setengah gelas teh manis masuk ke tenggorokannya menghapus dahaga. Ia lalu melihat wajah calon mertuanya mulai berseri-seri kembali.

"Ya sudah kalian hati-hati di jalan"

Aditiya bangkit dari kursinya dan pamit dengan mencium punggung tangan calon mertuanya itu. Aditiya menyayangi Dirra sekaligus Ibunya. Aditiya mencintai Dirra sekaligus keluarganya. Tujuh tahun bersama telah menumbuhkan ikatan yang kuat. Aditiya telah mencintai semua yang ada pada Dirra.

***

Resepsi pernikahan Andara dan Zaki berlangsung meriah. Keduanya telah cukup lama menabung demi terwujudnya keinginan tulus mempersatukan dua hati dan dua keluarga itu. Andara perempuan asal jawa yang kemayu. Sementara Zaki asli orang betawi.

"Akhirnya mereka menikah juga ya sayang." kata Aditiya ditengah makan. 
"Iya." jawab Dirra sekedarnya.

Aditiya menghentikan makannya, memandangi wajah Dirra yang tertunduk lesu.

"Hei, sabar sayang. Mengertilah, suatu hari pasti kita bisa menyusul. Sabar ya!"

Dirra mencoba memberikan senyumannya. Ditatapnya Aditiya penuh keyakinan. Ia tahu bahwa pria itu sedang berusaha mewujudkan keinginannya pelan-pelan. 
Tujuh tahun berpacaran bukan tidak mungkin begitu banyak sahabat, teman, dan keluarga yang membicarakan kapan mereka akan segera menikah. Sesungguhnya Dirra juga tidak sabar ingin duduk di kursi pelaminan bersama kekasihnya itu. Pernah dua tahun lalu mereka dan keluarga sudah sepakat menyelenggarakan pernikahan di bulan syawal. Semua persiapan sudah 90 persen rampung. Tenda dan catring makan sudah disewa. Gaun pengantin sudah siap. Undangan pun sudah disebar. 
Tetapi tepat sehari sebelum pernikahan, Ibunda Aditiya meninggal dunia karena jatuh di kamar mandi. Pernikahan urung dilaksanakan karena masih dalam suasana berduka. 
Dirra pun harus menunggu lagi. 
Sampai saat mereka duduk di resepsi pernikahan Andara dan Zaki, pernikahan belum juga terjadi, bahkan obrolan seputar rencana pun belum pernah menjadi keseriusan lagi.

Aditiya menggenggam kuat tangan Dirra.

"Ya sudah makannya diteruskan, pelan-pelan!"

Dirra mengangguk sambil tersenyum.

***

Jam istirahat Yadi tiba. Ia keluar loket dengan perasaan riang gembira mirip dengan apa yang sedang dirasakan anak SD ketika mendengar bel pulang sekolah dibunyikan. Maklum, perutnya sudah keroncongan. Pagi tadi ia tidak sempat sarapan dan harus menahannya sampai makan siang.

Ia memilih makan di pinggiran jalan stasiun. Warung nasi Bu Musa favoritnya. Selain karena rasanya yang enak, tempatnya juga bersih. Sangat cocok untuk menikmati istirahat siang.

Yadi makan dengan lahap. 
Yadi mendengar Bu Musa melayani beberapa pembeli dengan ramah. Ia tak sempat memperhatikan. Sampai akhirnya ia baru tahu jika salah satu pembelinya adalah perempuan yang selama ini diajaknya berkenalan di antrean loket kereta api. 
Perempuan itu makan tepat disampingnya.

Yadi sempat tak percaya. Ia meneguk berkali-kali es teh manisnya.

"Heiii, ketemu disini!!".

Perempuan itu menatapnya dengan terkejut pula, lalu memberikan senyum.

"Makan disini juga?" tanya Yadi basa-basi.
"Kadang-kadang saja" jawab perempuan itu ramah.

Kali ini perasaan Yadi jauh lebih senang daripada mendapati giliran jam istirahatnya tiba, sudah lama ia ingin berkenalan dengan perempuan antrean loket kereta api itu. 
Sering bertemu, sering melihat tapi tak kunjung mengetahui siapa nama perempuan itu. Bahkan Yadi juga rela menunggu perempuan itu datang dan mengantre di loketnya setiap hari.

Yadi selesai makan lebih dulu. Jam istirahatnya tidak lama, hanya setengah jam. Ia memanfaatkannya untuk makan dan sholat. Meskipun sebenarnya ia masih ingin berlama-lama di warung nasi bu musa sebab perempuan itu. Tetapi Yadi mencoba disiplin.

Yadi tak melewatkan kesempatan. Sebelum beranjak dari kursinya, ia mengulurkan tangannya pada perempuan itu.

"Aku Yadi. Kamu?"

Perempuan itu tak lantas menyambutnya. Perempuan itu menatapnya lagi lekat-lekat.
Yadi menunggu tangannya dibiarkan kosong.

"Dirra"

Yadi lega. Tangan mereka pun akhirnya bersalaman.

"Aku duluan ya. Semoga kita bertemu lagi di loket."

Dirra hanya tersenyum menangapi ucapan Yadi. Padahal Dirra baru saja turun dari kereta dan hendak naik bus menuju tempat kerja. Ia baru akan kembali ke stasiun Manggarai nanti malam, sepulang bekerja.

"Loket 2 ya!"

Yadi berlalu dari hadapan Dirra menuju Bu Musa. Ia membayar 2 menu, menunya dan menu Dirra. Tentu saja tanpa sepengetahuan Dirra. Bu Musa hanya senyum-senyum saja melihat Yadi yang sedang jatuh cinta.

***

Dirra mencari Yadi. Dilemparkan pandangannya beberapa kali ke semua petugas loket tiket kereta api tapi tak juga melihat pria itu. 
Dirra hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih karena siang tadi Yadi telah membayar makan siangnya di warung Bu Musa. Sungguh Dirra tidak enak hati.

Dirra pulang dan mengantre di loket 1. 
Ia memberanikan diri bertanya seputar keberadaan Yadi pada petugas loket.

"Mas, ada Yadi?."
"Oh, Yadi masuk pagi pulang jam 3."
"Besok masuk apa ya?."
"Sebentar."

Petugas loket bernama Anwar itu mengalihkan pandangannya menuju sebuah kertas yang tertempel di dinding yang tak jauh darinya.
Terpampang tulisan paling atas "SCHEDULLE TICKETING STASIUN MANGGARAI bulan September".

"Besok Yadi masuk siang mbak."
"Oke terimakasih ya mas."

Dirra pun berlalu setelah mengetahui bahwa rupanya Yadi sudah pulang sejak sore. Pantas saja ia tak melihatnya. 
Entah mengapa Dirra jadi terus memikirkan Yadi. Selama perjalanan, bahkan sampai ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan hendak memejam.

***

Dirra sengaja mengantre di loket 3 dimana petugasnya adalah Yadi. Keduanya bertemu mata dan saling tersipu malu. 
Buru-buru Dirra sadar apa yang akan dilakukannya.

"Terima kasih ya kemarin siang sudah bayar makanku."
"Tidak masalah untuk sebuah perkenalan, asal jangan sering-sering nanti aku bangkrut."
Keduanya tertawa renyah.

"Mau pulang ya?" tanya yadi sambil menahan uang kembalian agar Dirra tak lekas berlalu.
"Iya. Kalau masuk siang pulang jam segini." jawab Dirra.

Yadi menengok jam di tangan kanannya, menunjukan pukul 22:15 malam.

"Mau tunggu sebentar?" kata Yadi ragu-ragu.
"Maksudnya?" Dirra masih tak mengerti.
"Lima menit lagi aku closing. Terus ganti baju sebentar. Kita satu arah. Maksudku, naik keretanya bareng." Yadi menjelaskan pelan-pelan.

Dirra berfikir sejenak. Sebelum ia memberikan jawaban, Yadi mencoba memohon.

"Please-"

Dirra tersenyum dan mengangguk tanda bahwa ia setuju menunggu jam pulang Yadi.

"Ya sudah kamu cari tempat duduk dulu ya jangan kabur. Jangan naik kereta lebih dulu"

"Iyaaa"

Dirra tak pernah tahu mengapa akhirnya ia menyetujui permintaan Yadi untuk pulang bersama. Tidak biasanya ia mau meladeni orang yang masih asing baginya. Ia merasa Yadi cukup bersahabat dan sopan. Sekedar berteman tak apalah , pikir Dirra.

***

Dirra merayakan hari ulang tahun Ibunya dengan mengajak keluarga makan malam di sebuah restoran seafood di bilangan Margonda Raya. Ia juga mengajak Aditiya.

Semua kumpul bersama; Dirra, Ibu, Ayah, Kak Nanda dan suaminya, Farel adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, dan Aditiya kekasihnya.

Dirra memberikan Ibunya kado, disusul oleh Ayah, Aditiya, serta Kak Nanda dan suami, sementara Farel hanya senyum-senyum saja karena tak membawa apa-apa.

"Farel mah suruh menyapu dan mengepel saja bu selama seminggu, masak dan mencuci kalau perlu. Masa iya Ibu ulang tahun tidak kasih apa-apa" ledek Kak Nanda. 
Semua tertawa hangat.

"Bu.."
Aditiya tiba-tiba meredam tawa dengan memasang wajah serius.
"Bu, aku dan keluarga mau datang melamar Dirra minggu depan."

Dirra tersentak kaget karena sebelumnya Aditiya tidak pernah membicarakan hal itu padanya.

"Oh ya silakan nak Adit silakan. Pintu selalu terbuka untuk kamu dan keluargamu"

"Maaf jadi dua kali melamar karena dua tahun yang lalu gagal menikah bu"

Ayah menepuk bahu adit.

"Tenang nak Adit, yang sudah biarkan saja. Yang penting bagaimana kedepannya semoga terwujud apa yang kita semua inginkan."

Aditiya mengangguk lemah.

"Jadi kapan kamu dan keluarga mau kerumah, nak?" tanya ibu.

"Minggu bu"

Semua sumringah kecuali Dirra. Dirra terdiam menahan perasaan apakah yang sebenarnya sedang dirasakannya. Seharusnya ia menjadi satu-satunya perempuan paling bahagia di dunia sebab kekasihnya akan datang untuk melamar (lagi), artinya pernikahan yang selama ini di impikan akan segera terwujud.

Dirra memandangi Aditiya, Ibu, Ayah, Kak Nanda dan suami, serta Farel yang memancarkan aura kebahagiaan luar biasa. Pernikahannya dan Aditiya adalah hal yang paling diharapkan sekaligus di do'akan. Sejak lama. Bahkan ia sendiri pernah tidak sabar menantikannya.

Malam ini, Dirra tak bisa berkata-kata. Ia diam seribu bahasa.

***

Motor beat merah milik Yadi melaju menuju arah matraman. Ia tidak sendiri, melainkan membonceng Dirra. Mereka hendak ke toko buku. 
Dirra tidak menyangka kalau Yadi adalah penyuka sastra seperti dirinya. Hal itu diketahuinya ketika mereka sedang makan siang dan Dirra melihat Yadi mengeluarkan beberapa buku karya Sapardi Djoko Damono penyair yang dikaguminya. Terkejut juga ia karena tidak banyak pria puitis yang bisa dijumpainya sekarang ini.

"Kamu suka membaca, ra?"
"Ya, suka sekali!"
"Kamu harus baca ini, Sapardi Djoko Damono Hujan bulan juni!"
"Buku ini sudah ada di rak buku di kamarku. Aku sudah membacanya berulang-ulang."

Kali ini gantian Yadi yang kaget. Ia mengira bahwa perempuan sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di salon atau di mall, rupanya Dirra masih melestarikan budaya membaca dalam hidupnya.

"Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni di rahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu..
Yadi baru saja akan meneruskan bait milik Sapardi itu, Dirra buru-buru saja menyela;
"Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu..
Dan keduanya lalu bersiap mengambil nafas untuk kompak melanjutkan;
"Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu"

Mereka menyelesaikan puisi milik Sapardi tanpa membaca. Mereka menghafalnya diluar kepala. Kecocokan itu lalu menumbuhkan kekaguman dihati masing-masing.

"Jadi kapan kita akan berburu buku?" tanya Yadi antusias.
"Baiklah, aku rasa rak buku ku masih muat buku-buku barru" jawab Dirra tidak kalah semangat.

Mereka memilih sabtu sore ini untuk pergi ke toko buku. Dirra dan Yadi sama-sama sedang menikmati waktu liburnya.
Begitu sampai mereka tahu harus kemana. Rak buku sastra !

Dirra membesarkan egonya, selama tujuh tahun bersama Aditiya, ia belum pernah merasakan kebahagiaan seperti yang ia rasakan dengan Yadi. Entah mengapa ia jadi membanding-bandingkan Aditiya dan Yadi.
Betapa egoisnya ia memikirkan dirinya sendiri.

Dirra meraih buku milik M. Aan Mansyur. Dibacanya dalam hening salah satu kutipan puisi tersebut;
"Sepasang matamu, bencana raksasa di kejauhan. Tidak berhenti membuat hidupku jadi benda kecil yang memiliki hati"

Dirra memandangi Yadi. Begitu pun Yadi yang seketika itu juga memalingkan wajahnya dari buku. Mereka saling bertatapan.

Hati Dirra tertombak !

***

Aditiya mengajak Dirra menikmati selasa malam mereka di Gubuk Durian yang terletak di sekitar Jalan Nusantara Depok. Aditiya memesan pancake durian sementara Dirra memilih sop durian untuk lumer di mulutnya.

"Sayang, bulan depan aku di promosikan jadi kepala bagian." beritahu Aditiya berseri-seri.
"Syukurlah, itu artinya ada dua kesimpulan yang bisa diambil. Pertama; kerja kamu dinilai baik. Kedua; kerja kamu naik level tanggung jawabnya."
"Iya, do'akan ya sayang. Semoga semuanya lancar dan mudah."
"Aamiin"

Dirra turut bahagia dengan apa yang telah dicapai kekasihnya itu. Ia kenal betul Aditiya; pekerja yang gigih dan penuh loyalitas terhadap perusahan.

Tadinya kencan Dirra dan Aditiya berlangsung tenang, sampai pada akhirnya mata Dirra menemukan sesuatu yang mengejutkan. Ia tak percaya, di meja seberang -tepatnya di meja 13, ia melihat Yadi tengah memperhatikannya. Entah sejak kapan.

Dirra mengira itu halusinasi karena ia mulai keranjingan memikirkan petugas loket kereta api itu. Tetapi Yadi benar-benar melemparkan senyum padanya. Ia mendapati Yadi sedang berkumpul dengan beberapa orang teman.

Dirra buru-buru sekali meminta ijin pada Aditiya untuk pergi ke toilet. Ia memainkan matanya agar Yadi segera mengikutinya pelan-pelan tanpa harus dicurigai.

Mereka bertemu didepan toilet.

"Kamu sedang apa disini?" tanya Dirra panik.
"Ada reunian teman SMK, ra."

Mereka tak bisa menyembunyikan rasa bahagia bisa bertemu di tempat tak terduga. Mereka rupanya mulai saling merindukan.

"Handphone kamu tidak aktiv, ra?" .
"Iya ku matikan. Kamu menghubungiku?"
"Niatnya mau mengajak kamu ikut ke acara reunian kecil ini. Barangkali bisa bertemu karena aku tahu rumahmu di sekitar Depok. Rupanya kamu sudah datang bersama...pacarmu ya?"

Dirra menunduk. Yadi menunggu jawaban. 
Dirra menyembunyikan cincin di jemari kanannya, berharap Yadi tak pernah melihatnya. Kemarin minggu Aditiya telah melamarnya dan mengikatnya dengan benda melingkar itu.

Yadi tak melewatkan moment salah tingkah itu. Ia tersenyum saat melihat jemari Dirra yang sudah terhias cantiknya cincin emas putih. Bagaimana pun Dirrra mencoba menyembunyikan, Yadi telah lebih dulu melihatnya.

"Nanti pulangnya hati-hati ya, ra."

Dirra mengangguk. 
Yadi lalu mencubit pipi Dirra sambil tersenyum lemah.

"Kau adalah kenyataan paling manis sekaligus paling pahit. Aku bisa menikmati keduanya dalam waktu yang bersamaan. Jangan tanya apa yang ku rasakan, ra."

Yadi lalu memunggunggi dirra dan pergi berlalu.
Dirra tak kuasa menahan kecambuk dalam hatinya. Perasaannya benar-benar kacau. Sewaktu ia kembali ke mejanya, di seberangnya tak ia jumpai lagi Yadi, hanya tersisa teman-temannya. Mungkin pulang, batin dirra menebak.

Aditiya merasakan ada perubahan yang aneh pada Dirra. Sekembalinya Dirra dari toilet, kekasihnya itu terlihat murung.

"Ada apa sayang?"
"Tidak apa-apa, hanya sedikit tidak enak-"
"Tidak enak badan?"

Dirra mengangguk.
Sakit yang dirasakannya lebih nyeri daripada sakit sekujur badan.

***

Langit di hamili mendung. Hanya tinggal menunggu waktu untuk melahirkan hujan.

Jam menunjukan pukul sepuluh pagi.
Dirra memilih tenggelam dengan laptop, ia merenangi facebook.

Tidak beberapa lama muncul 1 pesan .
Dirra mengkliknya.

Ahmad Nuryadi
Semakin hari aku melihat diriku semakin retak
Senyumanmu selalu punya cara melakukannya
Ku benci kau sekaligus ku cintai
Kau; kenyataan yang tak bisa ku peluk
Sementara kewarasanku telah melampaui batas

Lampu hijau Ahmad Nuryadi menyala hijau, tanda bahwa Ahmad Nuryadi masih ada dalam daftar obrolan. Buru-buru Dirra mengetik balasan dan mengirimnya.

Mandirra
Kita barangkali tak pernah sengaja menamam benih-benih rindu, hingga kita membiarkannya tumbuh sekalipun berduri dan melukai. Kau onak yang ku cintai. K-i-t-a jurang terjal yang ingin kupaksakan tetap terjun sampai menemui dasarnya.
Begitulah, aku ingin mempertahankanmu.

Pesan itu sudah di baca oleh Ahmad Nuryadi. Namun hingga dua puluh menit Dirra menunggu, pesan balasan belum juga datang. Hingga akhirnya ia memilih menutup laptop-nya, dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Ia menghela nafas dalam-dalam. Merasakan sesak yang luar biasa. Pria petugas loket kereta api itu telah membuatnya lebih dari sekedar jatuh cinta.

Tiba-tiba handphone Dirra berbunyi, ia meraihnya tanpa harus bangkit karena sejangkauan tangannya.

Dilihatnya 1 BBM dari;
Ahmad Nuryadi
Ra, di luar hujan. Adakah kamu mau menerjangnya agar jarak diantara kita tiada?
Aku ingin makan siang denganmu.

Dirra bangkit dari tempat tidurnya menuju kaca jendela. Dilihatnya hujan sudah mulai turun.

Dirra mengetik balasan;
Katakan bahwa kau adalah hujan yang menabrak kaca jendela kamarku, mencoba memaksa ingin masuk merindukan peluk.

Handphone Dirra kembali berbunyi;
Ahmad Nuryadi
Kau hujan yang menghantui hidupku. Hatiku gemuruh. Mataku basah kuyup. Mencintaimu, merindukanmu, aku ngilu. 
Aku sudah di stasiun Depok. Ku jemput kamu dirumah?

Jempol Dirra kembali memencet keyped handphonenya;
Tunggu disana jangan kerumah.

Dirra mematut diri di cermin. Ia mengenakan sweater biru muda dan celana jeans hitam. Tidak lupa ia membawa tas. Flatshoes merah dipilih untuk mempercantik kakinya.

Dirra keluar rumah dengan payung merah muda. Ia hendak menerjang jarak, menuju yadi.

***

Di warung pecel ayam pinggir Jalan Kartini Depok Dirra dan Yadi menikmati makan siang. Sementara hujan masih membungkus suasana dengan khidmat. Dirra mengaduk es kopinya dengan sedotan. Yadi tersenyum memperhatikan.
Tak jauh dari pandangan, Yadi melihat payung merah muda milik Dirra belum terlipat. Masih menjadi pemandangan indah.
Dirra, hujan, dan payung merah muda seolah berlomba-lomba untuk dipilih manakah yang lebih cantik?

"Ra, pada akhirnya jarak tak pernah benar-benar kalah. Sekalipun telah kujumpai kamu, nyatanya kita tetap sepasang pemimpi yang masih berusaha untuk terbangun atau memilih melanjutkan tidur panjang. Kita adalah keresahan dalam resah yang kita ciptakan sendiri."

Dirra hanya memandangi dengan lemah tak berdaya. Yadi tersenyum pahit.

"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, ra!"

Ada mendung di wajah Yadi. Dirra dengan jelas melihat hujan nyaris tumpah dari mata pria itu. Sepasang mata Yadi yang membuat Dirra memiliki isi di dalam keheningan, yang tanpa sadar telah membuat hujan di matanya sendiri.

***

Handphone Dirra berdering berkali-kali menunggu dijawab. Sementara perempuan itu sedang di kamar mandi. Aditiya memilih meraihnya untuk memastikan siapa yang menelepon. Dilihatnya nama Yadi tertulis di layar.
Dijawabnya panggilan itu dengan diam.

"Ra, nanti malam launching buku terbaru Jokpin sekaligus bedah buku juga . Kita jadi kesana ya? Ra? Halo,ra?"

Aditiya memilih mengakhiri panggilan. Ia lalu menghapus log terakhir si penelepon. 
Aditiya berfikir panjang. Launching buku? Jokpin? Bedah buku? Aditiya benar-benar tak mengerti dunia apa yang sedang di geluti sang kekasih. Ia hanya tahu kekasihnya itu suka membaca. Dan siapakah seseorang bernama Yadi itu? 
Aditiya merenung. Curiga menyelinap ke hatinya.

Tak lama Dirra kembali dari kamar mandi. Aditiya berusaha tenang seolah tak terjadi apa-apa. Ia meneguk kopinya.

"Sayang, mau tidak nanti malam temani aku ke toko hadiah. Aku lupa kemarin bos ku ulangtahun, rupanya hanya aku yang belum memberinya kado. Aku jadi tidak enak hati."

Dirra terdiam sejenak. Aditiya menunggu jawaban.

"Tapi aku sudah ada janji dengan teman di kantor untuk memenuhi undangan traktiran Nadia, dia baru saja naik jabatan jadi leader. Bagaimana ya?"

Aditiya memberikan senyumannya sambil mengelus pipi Dirra.

"Ya sudah tidak masalah"

Teman kantor? Nadia? Naik jabatan? Traktiran?
Beda lagi !! Aditiya mengumpat dalam diam.

"Sayang, kamu makan ya, tadi pagi Ibu masak khusus untuk kamu. Cumi saus tiram dan cah kangkung. Sebentar aku ambilkan!" kata dirra sambil berlalu menuju dapur.

Aditiya masih diliputi rasa curiga.

***

Acara launching dan bedah buku milik Joko Pinurbo telah selesai. Dirra dan Yadi memilih makan malam di pinggiran jalan di depan toko buku. 
Mereka masuk ke warung tenda ayam bakar.
Selesai makan, mereka kembali ke parkiran mengambil motor untuk bergegas pulang.

Diboncengi, Dirra memeluk Yadi dengan erat seakan tak mau melepaskan pria itu. Sementara hujan mulai turun membasahi.

"Pakai jas hujan ya, ra?"
"Tidak perlu. Aku mencintai hujan sama seperti aku mencintaimu. Sekalipun aku akan demam dan influenza."

Dari kejauhan motor CBR hitam bernomor polisi B6315ZAA mengikuti tanpa sepengetahuan mereka. Aditiya menembus derasnya hujan dengan amarah memuncak. Dirra, telah membunyikan genderang perang dihatinya !

***

Di pangkuan Dirra, Yadi merebahkan kepalanya. Mereka memandang keluar kaca jendela yang masih dibasahi hujan. 
Dirra mengusap rambut Yadi.

"Ra, aku pernah jatuh cinta dan patah hati, lama sekali. Sampai akhirnya aku bertemu kamu di loket tiket antrean kereta api, yang membuatku sadar bahwa hatiku mulai terisi kembali. Aku merasa kamu bukan hanya seperti sebuah benda ajaib yang memberi kehidupan baru disekelilingku. Kamu tidak dilengkapi remote kontrol atau mesin. Semuanya nampak hidup, ra. Kamu menggerakan duniaku yang sempat mati. Kamu melakukannya. Seperti meniupkan ruh yang menjadikanku lahir kembali"

Yadi menggenggam erat tangan Dirra.

"Kalau kamu, apa yang kamu rasakan terhadapku, ra?

Dirra terdiam tak menjawab. Mereka saling berpandangan.

Tiba-tiba Yadi melemparkan senyumnya sambil mencubit pipi Dirra.

"Bingung jawab apa ya? tahu-tahu sudah bertunangan. Sudah punya orang"

Wajah Dirra memerah malu. Yadi baru saja meledeknya.

"Kamu bahagia,ra?"
"Ya."
"Bersama aditiya?"
"Ya."
"Bersamaku?".
"Ya."

Dirra mengatupkan bibir Yadi dengan jari telunjuknya agar Yadi tak melanjutkan kalimat apapun yang tak kuasa didengarnya.

"Aku tidak sedang mencari tempat berlari untuk menumpahkan sepi dan jenuhku. Menemukanmu, aku tidak sedang berada di dunia fantasi. Kau kebahagiaan yang sewaktu-waktu bisa membawa bencana besar dalam hidupku. Kau cerminan diriku. Kau adalah aku."

Mereka lalu hanyut dalam sebuah ciuman yang panjang. Di luar, hujan masih deras sekali.

***

Aditiya menunggu kepulangan Dirra sambil berbincang dengan calon mertuanya. Ya, Ibunya Dirra setia menemani.

Tepat jam 23:25 dirra tiba dirumah. Ia terkejut mendapati Ibunya belum tidur, dan justru ada Aditiya yang tidak biasanya bertamu sampai larut malam.

"Kamu disini sayang?"
"Iya. Handphone-mu mati?"

Dirra mengangguk.

"Ya sudah kalian bicara dulu, Ibu mau tidur. Temani nak Adit, ra, kasihan sudah lama menunggu!"
"Ya bu."

Perempuan separuh baya itu lalu melangkah masuk kekamar tidur. Dirra terduduk disamping aditiya.

Dirra menunduk. Tetapi ia tahu Aditiya sedang memperhatikannya.

"Lelah ya sayang?"

Dirra mengangguk.

"Ya sudah kamu istirahat, yang terpenting kamu sudah pulang. Handphone tidak bisa dihubungi aku jadi khawatir takut kereta sudah tidak ada. Ya tadinya mau aku jemput pakai motor ke Jakarta tapi bagaimana handphone-mu saja tidak bisa dihubungi."

Kali ini Dirra memberanikan diri memandang wajah Aditiya.

"Kenapa?"

Dirra menggeleng.

"Bagaimana acara makan-makan dengan teman-temanmu? Kapan kamu akan menyusul Nadia naik jabatan?"
"Ya, aku tidak minat naik jabatan, hanya saja tadi itu makanannya enak loh sayang. Kapan-kapan kita dinner disana ya."

Dirra berdusta, ia bukan pulang dari acara makan-makan kenaikan jabatan Nadia melainkan pergi bersama Yadi dan berkasih di rumah pria itu.
Dirra berusaha memasang wajah meyakinkan.

Aditiya menjatuhkan Dirra kedalam pelukannya. Dibelai dan diciuminya rambut perempuan itu penuh kasih sayang. 
Meskipun ia tahu perempuannya itu sedang berusaha menyembunyikan kebohongan besar. 
Entah mengapa ia tak bisa menunjukan kekesalan yang bersarang dihatinya.

"Kata ibu, pernikahan jatuh di bulan mei. Dua bulan lagi sayang. Kamu masih menantikannya kan?"

Wajah Dirra kembali memurung. Ia tak kuasa menahan air bening dimatanya.

***

Yadi melamun memandangi cincin di hadapannya. Benda melingkar itu baru saja di belinya di toko emas yang tak begitu jauh dari rumahnya. Ia sangat ingin memasangnya di jemari Dirra, meskipun ia tahu jemari Dirra sudah lebih dulu tersemat cincin pertunangan dengan Aditiya. 
Yadi menarik nafas panjang. 
Ia buru-buru menurunkan harapannya yang melambung, baginya tak apa tak dipakai asalkan dirra mau menerima dan menyimpannya saja sebagai kenang-kenangan.

Yadi sadar kehadirannya yang sangat terlambat. Dua bulan lagi perempuannya itu akan melangsungkan pernikahan. Ia tak mungkin membawa kabur Dirra seperti di film-film india, ia tak mungkin menerjang jurang terjal yang menghalangi.

"Ah persetan dengan cincin yang sekarang tersemat di jemarimu, ia tak bisa mengikat apapun. Sebab aku telah mengikat mati hatimu, cintamu."

Yadi mengetik satu pesan BBM untuk Dirra;
Aku sudah di warung Bu Musa. Kamu dimana?

Tidak begitu lama setelah pesannya dibaca, Dirra muncul dihadapan Yadi. Perempuan itu menggunakan blous putih dan rok merah muda. Rambutnya dibiarkannya tergerai. Yadi bisa mencium bau harum shamponya. Salah satu khas Dirra yang selalu membuatnya rindu.

"Maaf ya telat sedikit tadi belum sampai stasiun Depok ban motor Aditiya bocor. Aku harus mencari ojeg."
"Tidak apa-apa."

Bu Musa menghampiri mereka dengan membawa pesanan, setelah itu ia segera berlalu.
Dirra memesan es jeruk. Sementara Yadi memesan kopi hitam.

Mereka terdiam saling memandangi.
Dirra salah tingkah. Setiap kali Yadi menatapnya, Dirra merasakan hatinya tertombak. Lalu robek. Tak berdaya.

"Ra, ini buat kamu" kata Yadi memecah keheningan. Ia menyerahkan kotak merah hati itu pada Dirra.

Dirra segera membukanya.
Sesungguhnya hatinya bahagia sekali menerimanya. Bahkan lebih dari rasa bahagia yang pernah ia rasakan waktu Aditiya melamarnya.

"Aku tidak memaksa kamu pakai itu ra, disimpan juga tidak apa-apa. Atau kamu mau aku bagaimana ra, aku berjuang? Culik kamu? Bawa kabur kamu? Kamu maunya bagaimana ra? 
"Aku cuma takut tindakanku membawa bencana di hidup kamu,ra."

Dirra semakin lemah tak berdaya.

"Lengan kita pendek yad, sedangkan keinginan itu panjang dan jauh. Tidak akan terjangkau"

Dirra memasukan kotak cincin itu kedalam tasnya. Ia tak sempat menyeruput es jeruknya. Buru-buru sekali ia memakai tas dan bangkit. Lalu mencium pipi Yadi. Sementara Yadi masih heran melihat perempuannya itu hendak pergi begitu saja.

"Ra, kita belum selesai" suara Yadi parau.
"Kita selesai. Aku mencintaimu, Yad" kata Dirra sambil melangkahkan kaki.

Dirra memunggungi Yadi dan berjalan lebih cepat. Yadi tahu Dirra menangis. Yadi tahu Dirra tak ingin Yadi mengejarnya.

Bersamaan dengan kepergian Dirra, Yadi merasakan dunianya terhenti.

***

Di teras rumah Dirra, Aditiya terduduk cukup lama. Dirra dan Ayah bekerja, Farel sekolah, Ibu tidak ada dirumah. Rumahnya terkunci. Tidak satupun salamnya dijawab. 
Ia berniat untuk meminjam laptop milik Dirra, ada keperluan membuat laporan pekerjaan sebab laptopnya tiba-tiba saja rusak dan harus dibawa ke tukang servis.

Handphone Aditiya bergetar, ada pesan masuk. Dilihatnya dari Mandirra.

Kesayanganku;
Ambil saja sayang laptop ada dikamar.

Aditiya mengetik balasan;
Iya tapi Ibu sedang tidak dirumah. Aku diteras sejak tadi.

Kesayanganku;
Sabar sayang.

Perempuan separuh baya yang sedang ditunggunya akhirnya tiba dengan membawa plastik belanja. Buru-buru Aditiya mengantongi handphone dan menyalami calon mertuanya itu.

"Sejak kapan nak Adit menunggu? Ibu kepasar nak, maaf ya."
"Tidak apa-apa bu aku baru saja datang kok."
"Masuk nak, ada apa?" 
"Mohon ijin kekamar Dirra bu, aku mau mengambil laptop. Laptop-ku rusak jadi laporan pekerjaan belum bisa aku selesaikan"

Ibunya Dirra segera membuka pintu setelah memasukan kunci dan memutarnya.
Beliau lalu mengantar Aaditiya sampai kedepan pintu kamar Dirra. Setelah itu membiarkan Aditiya mengambil keperluannya.

Aditiya melipat laptop dan memasukannya ke tas jinjing. Matanya mengarah pada banyak hal di kamar itu; meja yang berantakan, foto-foto mesra Dirra bersamanya, foto-foto keluarga Dirra, rak buku yang sesak.

Aditiya hendak menulis notes untuk Dirra. 
"Barangkali lucu kalau aku tempel di mejanya kata-kata penyemangat."
Ia membuka laci pertama pada meja. Ia baru menemukan buku kecil. Ia mengacak-acak lagi isinya berharap menemukan pulpen atau pensil. Ia lalu membuka lagi laci kedua. Ia menemukan beberapa pulpen dan spidol. Ia memilih spidol agar tulisannya bisa terbaca lebih jelas. Tapi tunggu, betapa terkejutnya ia ketika tangannya menyentuh sebuah kotak berwarna merah berbentuk hati. Dibukanya kotak itu.

"Cincin?"

Aditiya merasa seumur hidupnya tak pernah menghadiahi cincin dengan model seperti itu pada Dirra. Aditiya juga tidak pernah melihat Dirra memakai cincin itu. Cincin yang ada pada Dirra hanya cincin pertunangan mereka itupun baru beberapa minggu diberikan.

Aditiya buru-buru menepis kecurigaannya. Barangkali Dirra yang membelinya namun tidak pernah dipakai atau bisa jadi hadiah dari Ibu. Aditiya berusaha tenang.

Begitu selesai dengan urusannya, pria itu segera pamit pulang.

Dirumah ia mulai menyibukan diri dengan laporan pekerjaan yang belum selesai.

Sambil menyeruput kopi, ia mengalihkan pekerjaannya ke laman facebook untuk menghilangkan sedikit jenuh.

Rupanya ia masih memasuki akun facebook milik Dirra. Di kliknya beranda untuk melihat kabar berita terbaru.

Dilihatnya berita paling atas.

Ahmad Nuryadi.
; ra
Kehilangan adalah ibu dari segala duka. Maka ketika selangkah kakimu pergi meninggalkanku, aku melihat duniaku seketika mencekam. Tidak ada puisi sebab kau membawa pergi semua bait-bait, kau menutup paksa paragraf, bahkan kau mencuri semua kata-kata. Hanya ada ampas kopi sisa bermalam-malam yang sama legamnya seperti kesepian. 
Kau adalah ruh. Kelahiran jiwaku akan pertemuan kita. Namun juga kematiannya begitu perpisahan kau ucapkan hanya dengan sekata sudah. 
Aku melihatmu dimana-mana. Di antrean loket tiket kereta api, di peron jalur enam, di setiap halaman buku puisi milik Sapardi maupun Aan dan Jokpin, di senyuman anak-anak kecil yang menarikan hujan, aku melihatmu dimana-mana.
Ra, nyatanya kita hanyalah sepasang pemimpi yang tak berani melakukan apapun. Apalagi untuk menerjang jurang terjal itu. Kita membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya dan menghancurkan kita. 
Suatu hari nanti jika kau butuh tempat untuk mengusir jenuh, carilah aku. Aku memiliki sepasang lengan yang mampu merebahkanmu kedalam riuh pelukan. Atau jika kau butuh seseorang untuk disakiti, datangilah hatiku. Hatiku akan selalu bersedia menampung harapan-harapan cinta kita yang terlampau tinggi. 
Aku meletakanmu di ingatan. Kehilangan adalah bukti bahwa aku pernah sangat mencintaimu. Tetapi merelakan adalah pelajaran tentang ketabahan yang lebih mendalam mengalahkan penantian. 
Terima kasih untuk segalanya.
Semoga Tuhan selalu memelukmu, ra.

Aditiya menghela nafas panjang. Aditiya mengarahkan kursor ke kotak masuk facebook. Ada beberapa pesan dari Ahmad Nuryadi yang belum sempat terbaca.
Ia membukanya dengan nafas memburu penuh amarah.

Aditiya lalu mengklik nama Ahmad Nuryadi, sehingga penjelajahan mengantarkannya pada profil Ahmad Nuryadi. Di klik foto profil pria itu. 
Aditiya lalu memukul meja dengan keras. 
Ia ingat betul wajah pria yang mengajak dirra makan malam di warung tenda ayam bakar di depan toko buku sekaligus memboncengi dirra dengan motor beat merah itu.

"Brengseeeeeeeekkkkk !!!!!!!"

***

Dirra menghindari tatapan mata Aditiya. Ia membalikan badan dan memandang keluar kaca jendela. Hujan belum juga reda, disertai suara petir yang saling bersahutan. Sore menggulita. Tidak ada senja dengan cahaya keemasannya yang indah. Hanya tampak langit kelabu yang mencekam seperti malam.

Sesungguhnya Dirra menyembunyikan air matanya dari pria yang sudah 7 tahun menjadi kekasihnya itu. Sekaligus rasa bersalah dan takut yang sedang memburu hatinya.

"Aku sudah tahu semuanya, tidak ada yang perlu kamu sembunyikan lagi." kata aditiya dengan suara tegas.

Aditiya memang bertubuh kurus dan tinggi. Tetapi jika sedang marah rahangnya akan terlihat menyeramkan. Matanya meruncing.

Dirra semakin sesak nafas. Ia berusaha menahan tangisannya.
Aditiya meraih bahunya. Dipaksanya dirra agar mereka bisa saling berpandangan. Dirra memejam. Tak berani melihat Aditiya. 
Tetapi air matanya sudah benar-benar menderas.

"Kamu mencintainya?"
Aditiya menahan peluru yang menghujam hatinya. Pertanyaannya itu sesungguhnya sangat membuatnya terpukul. Ia membenci pertanyaan yang keluar dari mulutnya sendiri itu. Ia membenci dirinya sendiri yang tak pernah bisa membahagiakan perempuan yang selama ini ia anggap bahagia bersamanya.

"Kamu mencintainya??" Aditiya mengulangi lagi pertanyaan memuakan itu, tetapi Dirra masih terbungkam. Ia lalu mengguncang bahu Dirra cukup keras.
"Kamu mencintainya kan??!! Iya kan??!!"

Tangis Dirra kali ini benar-benar pecah. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Aditiya. Ia memilih roboh dipelukan pria itu. Menangis sejadi-jadinya. 
Aditiya dengan ragu membelai rambut Dirra dan menciumnya. Hati Aditiya berperang melawan rasa marah dan cinta. Kedua-duanya membunuhnya. Memeledakannya dalam bungkam.

Dirra tak henti-hentinya menangis di pelukan Aditiya. 
Ia tidak menyangka bahwa meminjamkan laptop-nya pada Aditiya akan membawa petaka. Tadinya ia merasa tenang saja sebab ia tahu Aditiya jarang membuka facebook. Aditiya pekerja keras yang tidak suka bermain game. Aditiya jarang peka dengan media sosialnya.

Mungkin Tuhan memang sedang menunjukan semuanya, bathin dirra masih tak percaya.

***

Dirra terbangun dari tidur. Dilihatnya gorden pada kaca jendela kamar yang sudah tersingkap.

Ia termenung menatapi langit pagi.
Matahari masih disembunyikan mendung yang kelabu. Padahal jam dinding menunjukan pukul 07:00 tetapi masih terasa seperti suasana subuh.

"Selamat pagi sayang. Rupanya sudah bangun"

Aditiya muncul dari balik pintu kamar membawa secangkir cokelat panas dan sepiring roti isi selai kacang. Ia meletakannya di meja di samping tempat tidur.

Dirra lalu bangkit. Aditiya mengambil duduk di sampingnya. Diciumnya kening Dirra penuh cinta. 
Mereka saling berpandangan dan tersenyum.

"Coklat panas dan roti selai kacangnya sudah siap. Air hangat untuk kamu mandi juga sudah siap."
"Terima kasih sayang."
"Selamat menikmati hari pertama jadi Ibu rumah tangga ya sayang."
"Dan selamat menganggur pastinya"
"Tidak apa-apa, Dirra sayang. Mengurus rumah juga mulia. Do'akan selalu agar rezeki kita cukup dan berkah"
Keduanya lalu berpelukan.

Terdengar suara hujan mulai mengetuk atap-atap rumah. Dirra lalu berjalan menghampiri kaca jendela. Ia memandangi rerintik air langit yang mulai membasahi jalan-jalan. Kali ini tak ada payung merah jambu. Tak ada jarak yang harus di terjang. Tak ada rindu yang harus digenapi.

Aditiya menghampirinya, melingkarkan peluk di pinggulnya.

"Ini bulan apa, dit?"
"Bulan juni. Seminggu sudah kita menjadi suami isteri. Semoga untuk selamanya."
"Aamiin"

Bulan juni.
Dirra melihat diluar sana Sapardi sedang kyusuk membacakan puisi. Dirra melihat diluar sana ia dan Yadi sedang asyik menari memutari Sapardi.
Diluar sana mereka sangat bergembira. Diluar sana rupanya masih ada payung merah muda.

"tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu"
Sapardi Djoko Damono dalam Hujan bulan juni.

Dirra lalu melihat Sapardi membawa pergi Yadi, entah kemana menembus langit kelabu. Ditinggalkannya ia seorang diri dalam derasnya hujan.

Tiba-tiba dirra merasakan pipinya basah.
Hujan bulan juni masih ada. Sapardi masih ada. Rindu itu masih ada.
Hanya Yadi yang sudah tidak ada.

"Aku mencintaimu, dit."
"Iya ra, aku juga mencintaimu."

Dirra masih memandangi hujan.
Dalam hati ia melanjutkan kalimatnya;
"Dan aku masih mencintaimu Yadi"

SELESAI.

Laptopku CH

Laptopku CH

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon