Selasa, Mei 15, 2018

Cerpen Hari Ketujuh Ramadhan Karya Muhammad Nur Wachid


Hari Ketujuh Ramadhan
Karya : Muhammad Nur Wachid

Pada hari ketujuh setiap Ramadhan, lelaki itu selalu kembali. Bisa dibilang dia menjenguk kembali kampung itu. yang membuat sebuah kerinduan si lelaki kian membuncah. Si lelaki yang bertubuh tinggi dan berkumis tipis, dengan kulit putih langsat, khas kulit pria pribumi, rahangnya yang kokoh. Dan tebaran senyumnya yang akan menggoyang kelopak bebungaan sehingga menguarkan wewangian yang sangat harum. Dan pria itu kini kembali, pada hari ketujuh setiap Ramadhan, menjenguk kampung itu, yang selalu membuatnya rindu, bukan hanya orang-orangnya saja, namun pepohonannya, aromanya. Suara-suaranya yang alami, senda gurau, renyah senyuman. Alunan pengajian yang sendu di surau-surau, kata-kata baik, jamuan yang dipenuhi orang-orang berbagai kalangan setiap menjelang waktu berbuka. Lelaki itu merindukannya…..

Hari ketujuh. Sebuah sepeda tua yang berderit setiap rantainya, hingga seakan-akan seluruh desa mampu mendengar bunyi derak-derak karat itu, seorang bapak-bapak tua, yang kelihatan tua dengan rambut yang serupa salju yang merimbun pada kepalanya, begitu pula janggutnya yang membelantara memutih. Di belakangnya,seorang lelaki yang berbadan tegap, dengan sebuah tas berukuran sedang yang terpikul pada pundak tegapnya. Lelaki itu melingkarkan kedua tangannya erat di pinggul pak tua yang mengayuh sepeda tua yang terus menjerit rantai-rantainya. Tak habis pikir, bagaimana seorang pemuda yang kelihatan kuat dan tangguh itu tega membuat seorang tua harus menanggung beban dengan memboncengnya, bukan malah sebaliknya. Apakah ,memang pria itu tak waras, ataukah dia sudah menawarkan diri,namun pak tua itu menolak karena memang kelihatannya sepeda itu sulit sekali dikendalikan karena memang sendi-sendi sepeda itu sepadan dengan usia pak tua pemiliknya, sehingga alangkah lebih baik pak tua itu saja yang mengayuhnya sehingga tak memerlukan waktu yang lama, dan sebagai bentuk keramahan untuk menyambut tamu seperti lelaki itu, mungkin seperti itu, karena, lelaki itu adalah aku.

“Terima kasih banyak, pak. Saya sangat berhutang budi. Maaf karena merepotkan sehingga bapak kepayahan seperti ini, terima kasih banyak sekali lagi. Ini saya ada sedikit buat bapak.” Saya menyodorkan selembaran rupiah kepada bapak tua itu, namun, pria itu hanya menggeleng dan tersenyum, lalu dia melanjutkan laju sepedanya. Dan aku baru menyadari, bunyi derit rantainya amat berisik.

Akhirnya sampailah diriku di kampung yang sudah sangat lama tak saya tengok, dan sekarang, pada hari ketujuh setiap Ramadhan. Aku mengunjungi kampung untuk kembali bertemu dengan semua hal yang selama ini menciptakan letupan-letupan kerinduanku membuncah. Dan hal pertama yang akan aku datangi adalah sebuah rumah sederhana yang berada di ujung desa, bisa dikatakan itu hanyalah sebuah gubuk. Tempat aku selalu mendarat pertama kali setiap berkunjung ke kampung ini. Aku tak sabar, aku melangkahkan kaki-kaki yang masih setengah kesemutan ini, mungkin karena terlalu lama dalam perjalanan, sehingga urat-urat ini menegang dan kaku. Aku melewati petak-petak sawah yang ditanami padi dan nampak sudah mulai menguning dan terlihat bulir-bulir calon beras itu, hampir siap panen kurasa. Lalu aku melewati beberapa kebun yang ditanami buah tomat dan nanas, oh, baunya ini, bau matang buah-buahan. Aku semakin tak sabar disambut di gubuk yang berada di ujung kampung.

Aku terus melangkah dengan berseri-seri, hingga aku tak menyadari sesuatu, sawah-sawah ini seperti semakin sempit, ah, mungkin Cuma perasaanku saja. Aku lalu bergegas melanjutkan perjalananku.

Kini aku mulai memasuki wilayah kampung, namun mataku tercekat, sesuatu membekukan langkah kaki ini, mungkin karena perasaan tercengang ini. Kampung ini , yang senantiasa aku kunjungi setiap hari ketujuh bulan Ramadhan, kini menjelma sesuatu yang lain. Kampung ini benar-benar berubah. Kampung ini kini menjadi kota. Sebuah kota yang ramai dan megah.

Aku bersyukur, kampung ini akhirnya mendapatkan kemajuan sehingga mampu meningkatkan perekonomian dan bahkan mampu menyulap kampung yang dulunya hanya sebuah jajaran rumah yang berada dilereng perbukitan, dengan jalanan masih tanah yang kala kering akan berdebu, dan ketika musim hujan akan menjadi kolam lumpur. Kini menjadi deretan rumah yang hampir kesemuanya bertembok beton tebal dan dihis keramik berwarna-warna, dengan jalanan beraspal hitam pekat dan kelihatan sangat bersih melintasi seisi kampung, memudahkan langkah para petani, sehingga tak perlu lagi cemas dengan jalanan yang berdebu ataupun yang berlumpur

Namun apakah masih ada para petani itu masih bertolak ke sawah-sawah maupun ladang mereka?

Dan yang kudapati adalah, sawah-sawah itu kini dipenuhi mesin-mesin yang secara otomatis mengerjakan semua kehendak petani, sehingga petani tak perlu repot ketika panen tiba, semuanya sudah dikerjakan oleh mesin-mesin itu, mulai dari menyabit tunas padi, lalu merontokkan bulir-bulir padi yang menjadi Gabah itu, hingga membajak kembali tanah pesawahan, semuanya sudah serba mesin, sehingga petani tak perlu lagi turun ke sawah yang becek dan tak perlu lagi berkubang dalam parit, hanya cukup mengawasi dan melihat mesin-mesin itu bekerja dengan asap-asap yang menegepul-ngepul pekat.

Itu membuat kerinduanku tak terbayar, aku rindu dengan para petani itu yang berangkat ke sawah maupun ke ladang dengan sepeda-sepeda tua mereka, terkadang ada yang bersenandung shalawat, ada yang yang Cuma menggumamkan entah apa sambil menuntun lembu-lembu mereka, lalu ibu-ibu yang ramai menuju ke sawah-sawah bersama-sama guna untuk menancapkan benih-benih padi sambil bercengkrama ramah, hingga waktu siang tiba, dan mereka semua akan beristirahat dibawah pohon-pohon rindang yang ramah pula. Aku rindu pada bagian yang itu. tanpa asap-asap mesin maupun besi-besi yang memenuhi sawah.

Aku pun melanjutkan kembali langkahku, dan perasaan ini seakan-akan kehilangan baranya yang semula tersulut oleh kerinduan kan kampung ini, dan kini semuanya berubah, bukan hanya gedung-gedung serta jalanannya saja, namun orang-orangnya, pepohonannya, serta aromanya. Semuanya tak sama lagi. Tak sama dengan kampung yang selalu kukunjungi setiap hari ketujuh pada Ramadhan.

Dulu rumah-rumah ini hanyalah sederetan rumah berdinding bambu-bambu yang dianyam dan dibuat sangat indah serta diwarnai dengan beraneka rupa warna, sehingga sangat apik. Hampir kesemuanya berdinding seperti itu, hanya beberapa yang sudah bertembok bata merah. Itupun milik kepala desa maupun tempat-tempat umum, seperti masjid, surau, puskesmas, balai desa. Dan kini hampir tak bisa kubedakan yang mana tempat milik umum dan rumah orang-orang, semua rumah memiliki tembok masing-masing yang setebal lima kali tembok bata. Serta dulu rumah yang berdinding anyaman itu selalu memiliki pintu-pintu yang terbuka lebar, sehingga aku selalu mengira rumah-rumah itu tak memiliki pintu, sehingga orang-orang dapat berlalu lalang dengan mudah, dan tuan rumah sangat menyambut kedatangan orang lain kerumahnya guna bertandang, apalagi tamu sepertiku, pasti disambut dengan telapak-telapak hangat serta pintu yang tak pernah terkatup sama sekali.

Dan sekarang semuanya berbeda, rumah-rumah itu kini tak hanya bertembok sangat tebal dengan hiasan keramiknya yang berkilat-kilat, namun juga hampir tiap rumah dukelilingi pagar-pagar baja yang menjulang dan amat rapat, hampir menutupi rumah itu sendiri. Sehingga orang yang lewat pun hanya akan menatap pagar-pagar itu menerkam jalanan. Dan aku kira juga sudah tak ada orang yang bertandang ke rumah orang lain sekedar untuk saling mengunjungi, dengan tembok serta pagar yang begitu kokoh tersebut, bahkan kutu pun akan sesak untuk sekedar melaluinya. Aku mengira orang-orang lebih gemar memenjarakan diri mereka sendiri daripada mengurung ternak-ternak mereka. Pun aku tak habis pikir apa guna itu semua di sebuah desa yang dulunya orang-orang tak mengenal apa arti dari sebuah kejahatan.
Aku hanya memacu langkahku msekipun semakin kuyu. Tak kutemukkan seorangpun yang berpapasan denganku. Tak seorangpun, mungkin hanya beberapa orang tua yang sesekali bersimpangan denganku. Tanppa tegur,tanpa sapa yang selalu ramah dan senyum ramah itu. kerinduanku tak terbayar kembali dan justru kian membuatku merasakan perasaan sunyi meski dulunya kampung ini adalah segala riuh yang baik tercipta.

Aku hanya melangkah gontai hingga waktu Ashar tiba, sebuah surau mengumandangkan Adzan dengan suara yang amat mendayu-dayu dan lantang, lantunan yang halus dan teratur. Aku segera beranjak, dan kudapati seorang pria tua yang sedikit agak bungkuk yang berada disana. Sendirian, dulu kampung ini, surau-surau selalu dipenuhi oleh anak-anak, bahkan sebelum Adzan itu tiba, apakah kini anak-anak itu telah menjadi pemuda-pemuda, dan lupa? Ah, entahlah.
Surau ini semakin Nampak megah, dengan setiap sudut beton-beton tangguh yang besr dengan berukir keramik-keramik berwarna biru dan kuningan, dan juga dinding-dinding yang hampir mengilap, dengan kubah serup yang berada di Hagia Sophia, Istanbul. Hingga Iqomah tiba, tak satupun terlihat satupun pengunjung surau menampakkan diri, aku hanya berdua dengan sang pak tua yang agak bungkuk, yang menjadi juru Adzan sekaligus merangkap Imam, kemungkinan seperti itu, sebelum ini, kampung ini akan dipenuhi oleh bapak-bapak yang masih muda, dan juga para ibu dengan anak-anak mereka, memenuhi surau meski dulu hanya bangunan usang yang ingin roboh tiap kali desau angin menyusupi tiap dinding berongga itu. dan setelah selesai bersembahyang, maka,orang-orang akan mengaji sambil menunggu waktu berbuka tiba, dan itu dilakukan dengan secara bersama-sama, tanpa suatu paksaan apapun. Dan aku sangat merindukkan dengung-dengung yang bergaung memenuhi dinding kupingku dan juga sukmaku.

Namun, semua itu lenyap, begitu saja. Tak ada lagi bunyi orang mengaji hingga maghrib tiba. Tak ada gema yang selalu membenturi dinding surau, tak ada suara kanak-kanak yang berlarian. Hanya pak tua yang agak bungkuk terpekur di sudut surau.

Aku melanjutkan kembali langkahku, dengan harapan sebuah gubuk di ujung kampung ini tak berubah pula, karena itu akan mengobati kerinduanku yang selalu berdeba, tiap kali hari ke tujuh setiap Ramadhn. Langkah-langkah ku menjadi lebih berderap kembali, memanggul kembali harapan.

Dan sebelum langkahku purna, Adzan Maghrib bertalu, meski sayup, masih dapat terdengar suara Adzan itu, mungkin pak tua yang agak bungkuk itu, dapat kukenali suara merdunya. Namun yang terlihat hanyalah suara yang terantuk dinding pagar yang menjulang. Ah, tapi kulihat orang-orang muncul dari dalam kurungan mereka, hampir serempak. Mereka berduyun-duyun, kesana-kemari, meski tanpa percakapan apapun, tanpa tegur, tanpa sapa dan senyuman yang rekah. Mereka memenuhi warung-warung. Namun tak ada perbincangan apapun. Tak ada cengkrama yang baik yang seperti yang terjadi pada kampung ini dulu. Hanya ada orang yang serupa patung-patung bergerak. Lalu dinding-dinding yang hampir menerkam jalanan.

Aku berhenti. Ini sudah ujung jalan, dan tujuan terakhirku pada setiap kali aku berkunjung ke kampung ini, sudah nampak. Dengan perasaan ketertegunanku pada perubahan-perubahan pada kapmpung ini, kampung yang membuat kerinduanku selalu meletup-letup, hingga pada hari ketujuh setiap Ramadhan aku selalu menyempatkan diri kemari. Pelupuk mata berlinang, kaki-kaki ini bergetar serupa pohon-pohon ringkiih yang diguncang bocah-bocah badung. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Suaraku tercekat jauh didalam lubuk kelabu, semakin jauh.

“sejauh manakah kau akan berubah?”

Tubuhku sirna, terpecah seperti kapuk yang dihamburkan. Pada hari ketujuh setiap Ramadhan…

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon