Minggu, Mei 20, 2018

Cerpen DIA AYAHKU BUKAN AYAHMU Oleh Sandra Kirana


DIA AYAHKU, BUKAN AYAHMU
Oleh : Sandra Kirana

Namaku Sintia, aku hidup bersama ayah dan ibuku. Aku adalah anak tunggal. Aku masih kelas 3 SMP. Aku masih terbilang anak yang manja. Setiap hari hidupku penuh dengan keceriaan, dan kebahagiaan. Keluarga kami terbilang cukup harmonis. Jarang sekali ayah dan ibuku bertengkar.
Aku ingin sekali mempunyai deorsng adik. Rasanya, hari-hariku masih terasa sepi. Aku membayangkan bagaimana jika aku mempunyai adik. Pasti aku senang sekali, aku bisa menggendongnya, memangkunya, memeluknya, dan bahkan jika ia besar, aku bisa mengajarkannya belajar, mengajarkannya tentang bagaimana dunia luar dengan baik dan masih banyak lagi. Aku pernah bilang pada ibuku bahwa aku ingin memiliki adik.
"Bu, kapan Sinta punya adik kaya teman-teman Sinta yang lain bu?" Tanyaku meminta.
"Sabar sayang, kita serahin semua sama Allah ya nak." Jawab ibu.
"Tapi jangan lama-lama ya bu, Sinta ga sabar pengen main sama adik. Rasanya kalau main dengan adik orang malah kurang bahagia. Tapi kalau adik sendiri pasti Sinta sangat senang." Ujarku.
Ibu pun hanya tersenyum saja pada perkataanku.
Aku selalu Sholat, mengaji, dan tak lupa aku berdoa kepada Allah agar Ia mengabulkan doaku. Aku selalu menekuni pekerjaan rumahku. Baik itu dalam membantu orangtuaku maupun dalam belajar.
Rasanya aku iri sekali pada teman-temanku yang memiliki adik yang lucu-lucu. Yang bisa mendengar cerita mereka, yang bisa mereka ajak main.
Suatu hari pada saat aku didalam kelas tengah belajar, bu Irma memanggilku untuk dapat segera pulang duluan karena Ibu berada dirumah sakit. Aku kaget, secepatnya aku mengambil tas lalu izin pada wali kelas untuk pulang. Perasaanku cemas tak menentu. Aku menunggu angkot yang tak juga mau berhenti. Akhirnya kudapatkan angkot yang berhenti, lalu aku naik.
Saat aku masih diperjalanan, aku panik sekali. Hatiku terus bertanya-tanya. Ada apa dengan ibuku.
Setelah aku sampai dirumah sakit umum, aku menanyakan nomor kamar dan ruangab yang ditempati ibuku kepada suster disana.
"Sus, orang yang bernama Yanti ada diruangan mana ya?" tanyaku.
"Diruangan anggrek no.103" jawabnya sambil melihat buku daftar pasien.
"Oh, terimakasih Sus."
"Sama-sama."
Aku berlari kecil menuju ruangan yang dikatakan pada suster tersebut. Setelah kutemukan, aku masuk dan kutemui ibu terbaring disana dengan wajah pucat bersama seorang dokter yang memeriksa.
"Ibu saya kenapa Dok?" tanyaku cemas.
"Ibu kamu gapapa, ibumu hanya kelelahan saja. Sebaiknya hindari pekerjaan rumah yang membuatnya terasa lelah karena itu dapat merusak janin yang ada didalam kandungan ibumu." Ujar dokter.
"Ibu saya hamil dok?" tanyaku kaget bukan main.
"Iya, selamat ya. Kamu telah memiliki calon adik."
Aku senang sekali, aku bahagia. Rasa khawatirku tergantikan oleh kabar baik. Sebentar lagi aku akan memiliki seorang adik. Impianku akhirnya terwujud. Terimakasih Ya Allah, engkau mengabulkan doaku.
Sejak ibuku hamil, aku selalu mengingatkan ibu untuk makan, dan menjauhkan pekerjaan yang membuatnya cepat letih. Kadang, aku yang memasak untuk ibu. Dan ayah membantu pekerjaan ibu. Keluarga kami sedikit lagi akan lengkap. Keharmonisan pun semakin bertambah. Setiap pulang sekolah aku melihat keadaan ibu, dan semakin hari perutnya semakin membesar. Kadang, aku membelai perut ibu. Rasanya aku tak sabar melihat adikku.
Dan semakin lama semakin hari, akhirnya usia kandungan ibu sudah mecapai 8 bulan. Namun, betapa sedihnya aku ketika ayah mengatakan bahwa minggu ini ayah akan pergi merantau ke Surabaya. Aku sedih sekali, namun mau bagaimana lagi. Jika ayah tak pergi kesana, penghasilan ayah selama bekerja tak akan mencukupi biaya aku dan adikku. Ibu pun berat hati untuk mencoba mengizinkan ayah pergi kesana. Namun, kami mencoba mengikhlaskan. Ayah bilang, bahwa secepatnya ayah akan pulang.
Akhirnya, pada hari itu juga ayah memutuskan untuk berangkat ke Surabaya. Ibu sedih, dan aku pun menangis. Ayah hanya menitipkan salam rindunya untuk kami dan terutama untuk bayi yang dikandung ibu. Ayah pun pergi dengan berat hati meninggalkan rumah ini.
Walaupun ayah telah berada disana, ayah selalu memberikan kabar. Menanyakan kesehatan kami. Semakin lama ayah disana, semakin berkembanglah janin ibuku. Dan akhirnya ibu pun melahirkan, aku mendampingi ibu disaat nifas.
Ibu melahirkan anak perempuan yang cantik dengan bulu mata yang lentik. Ibu yang masih dalam keadaan sangat lemah memberikan nama untuk adikku pada saat itu juga. Sherly Hania, itu nama yang ibu berikan. Aku amat senang karena adikku telah lahir kedunia. Namun, aku dan ibu merasa ada yang kurang. Ya, kurangnya sosok ayah yang tiada disamping kami. Ayah tak melihat kelahiran adikku karena ayah tak mendapat izin. Aku dan ibu sedih. Ayah hanya berkata bahwa secepatnya ayah pulang. Secepatnya, dan secepatnya selalu ayah katakan seperti itu di telepon. Namun itu semua tak terlalu aku pikirkan. Aku dan ibu masih sibuk mengurus Hania. Kami merawat Hania dengan penuh kasih sayang, mengajarinya sedikit demi sedikit, kadang aku mengajaknya main. Dan semakin hari Hania pun sudah ada perkembangan. Ia mulai bisa merangkak, duduk, berdiri, sedikit berjalan, dan yang lainnya hingga umur adikku sudah berusia 1 tahun.
Semenjak Hania telah berumur 1 tahun, ayah tak lagi memberi kami kabar. Biasanya ayah menanyakan bagaimana keadaan Hania. Namun, sekarang aku tak tahu mengapa ayah tak mengabari. Ibu mencoba menelponnya berkali-kali namun tak pernah aktif. Ibu juga mencoba menelpon perusahaan tempat ayah bekerja namun kabarnya, ayah tak lagi bekerja disitu. Lalu kemana ayah sebenarnya? Aku dan ibu cemas, khawatir. Kasihan Hania kalau ia belum pernah melihat sosok ayahnya. Ibu berusaha mencari ayah lewat kakak dan adiknya di Surabaya namun mereka tak tahu dimana ayah. Sehingga hampir hilanglah keputus asaan ibu mencari ayah. Aku dan ibu berusaha membesarkan Hania walau ayah tak ada disamping kami. Kami ajarkan segalanya tentang Hania.
Dan tahun terus berganti tahun. Hania mulai mengerti semuanya. Namun, kami tak pernah membuka mulut untuk menceritakan tentang ayah kepada Hania. Hania hanya tau bahwa ayah sedang bekerja mencari uang untuknya. Selebihnya kami tak memberitahu Hania.
Hania mulai tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik.
Aku dan ibu sangat menyayanginya. Kami ajarkan dia menjadi orang yang tangguh, mandiri, baik, bertatakrama, berbudi pekerti dan yang lainnya. Kami harus membiasakan ini pada Hania agar suatu saat ia tidak menjadi seseorang yang manja, sombong, dan yang lainnya. Hingga sekarang usianya sudah berumur 9 tahun. Aku juga sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhan adik dan ibuku. Aku menunggu ayah dengan harapan untuk pulang kerumah. Setiap Hania menanyakan ayah, ibu hanya berkata "sabar nak, pasti ayah akan pulang." aku ingin mencari ayah, demi Hania. Hania rindu sosok ayah yang tak ia ketahui wajahnya sedikitpun. Aku terus mencari dan mencari.
Hingga pada suatu hari, pada saat matahari mulai menampakan sinarnya yang amat panas. Aku pergi ke toko buku membelikan buku cerita yang diminta Hania. Namun, sekilas tapi nampak kulihat seorang pria setengah baya sedang berada di sebrang sana, di toko emas bersama seorang anak kecil yang usianya hampir sebaya dengan Hania. Aku seperti mengenal pria itu, kucoba mengingat-ingat kembali wajah itu dan akhirnya kutemukan. Dia ayahku, ayahku yang entah kemana perginya tanpa memberi kabar lagi selama 8 tahun. Ayah yang dirindukan dan dinanti-nantikan oleh seorang gadis kecil yang belum tau apa-apa.
Kutemui sosok pria itu disebrang sana. Ia pun melihat kearahku dengan kaget.
"Sinta?" tanya ayah kaget.
"Ayah?"
"Ayah, siapa kakak itu?" tanya seorang anak yang bersama ayah.
"Ayah Hania menantikanmu, Hania merindukanmu ayah, pulanglah."
"Maafkan ayah nak, telah meninggalkan kalian. Ayah sangat bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Ayah tak dapat lagi bersama kalian karena ayah telah menikahi seorang wanita dan sudah memiliki anak. Ini anak ayah nak." ujarnya dengan rasa salah.
"Ayah, mengapa ayah seperti itu? Kami semua telah lama menantikanmu! Ayah, Sinta mohon kembalilah bersama kami ayah. Ayah, sejahat itukah ayah terhadap kami? Mengapa ayah lebih mementingkan keluarga baru ayah dibanding kami yang lebih lama bersama ayah? Sadarkah ayah? Hania menantimu, dia sangat merindukanmu!" ujarku dengan air mata yang jatuh kepipiku. Ayah hanya terdiam, terdiam tak tau apa yang ia ucapkan lagi.
"Ayah, kembalilah. Untuk Hania ayah, Sinta mohon." kataku memohon pada ayah.
"Maafkan ayah nak, ayah sungguh tidak bisa." jawabnya.
Aku hanya bisa menangis dan menangis. Aku pun pergi meninggalkan ayah dan anaknya. Aku pun memutuskan pulang kerumah dengan lemas, dan wajah penuh air mata. Setelah sampai, ibu melihatku.
"Sinta, ada apa denganmu nak?"
"Bu, Hania ada?"
"Hania sedang keluar nak, ada apa? Katakanlah."
"Bu, ayah bu." kataku memeluk ibu sambil menangis dengan air mata yang semakin deras.
"Mengapa dengan ayah nak?" tanya ibu membalas pelukanku.
Kuceritakan semuanya pada ibu tentang kejadian yang baru kudapat. Ibu mengusap air mataku. Tegarnya ibu, hingga ibu berkata "Sudahlah nak, biarkan mereka bahagia. Itu bukan milik kita. Allah yang menentukan nak. Kita harus menerimanya."
"Sinta ga akan rela bu, ga akan. Dia ayah Sinta, dia ayah Sinta dan Hania bu. Dia ayah kami. Ayah kami." jawbaku yang makin menangis.
"Relakan semuanya nak, tanpanya pun kita bisa membimbing Hania. Kita bisa hidup tanpa dia nak. Kita besarkan Hania ya? Belajar lah ikhlas nak. Terimalah takdir bahwa dia bukan milik kita." Aku hanya mengangguk.
Aku berjanji bahwa aku dan ibu akan membesarkan Hania. Aku dan ibu akan membimbingnya tanpa sosok ayah lagi. Dan sampai kini yang aku tahu ia adalah ayahku, ia milikku. Milikku dan milik Hania walau takdir berkata lain.

WebBlogPur

WebBlogPur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon