Jumat, Mei 18, 2018

Cerpen BINTANG Karya Cikal Aditya


BINTANG
Karya: Cikal Aditya

Hamparan bola cahaya terhampar diatas sana, tepat di atas kepala-ku, dengan jelas dapat kulihat semuanya, nampak indah. Aku suka, aku sangat suka benda itu. Itu slalu membuat-ku merasa tenang ketika semua masalah hinggap di kehidupan-ku. Bintang.
.
Nama-ku Adeeva Afsheen Meysha. Aku sangat suka dengan benda terang bersinar itu, seakan mereka hidup, ku curahkan semua gundah dan masalahaku pada mereka. Aku tau, ini cukup gila. Namun, apakah aku salah?
.
Setahun sudah aku berpisah dengannya, aku tau, kematian bukan akhir dari segalanya. Namun, kami hanya berpindah alam. Aku slalu paham akan hal itu, tetapi masih jauh dari kata ikhlas aku untuk menerima-nya.
.
Avrilio Arsseha, dia adalah lampu terang di hidupku, sosok yang membawaku pada titik kebahagiaan, mengeluarkanku dari dunia yang pana ini. Namun, Tuhan berkata lain, meski aku menyayangi-nya, namun Tuhan lebih sayang dia, dirinya tak lagi bersamaku. Ia telah tenang di alam sana.
.
Setiap air mata ini tak berhenti, menetes menyesali kepergiannya. Jika saja aku boleh memilih, aku lebih memilih tidak bertemu dengannya, daripada harus ku miliki ‘Ginjal’ ini.
.
Setahun yang lalu, aku mengidap Gagal ginjal, aku tau, itu penyakit yang tak bisa dianggap remeh. Putus asa, benci dan tak semangat, itu yang slalu ku rasakan di hari – hariku setelah aku di diagnosa penyakit ini. Ku rentangkan tanganku, berdiri tegak diatas rel, pikiranku kacau, tak ada lagi semangat dihidup-ku.
.
Teriakan peluit kereta api dengan jelas ku dengar, ku pejamkan mata, aku siap, aku sudah siap. Namun…
“Kau, apa yang kau lakukan?”
.
Tubuhku terhempas, aku merasa tanganku ditarik, apa ini adalah syurga? Apa aku telah berada disisi-Mu Tuhan? Ku buka mata, dan samar – samar kulihat pria yang sedari tadi kutindih, ia menatapku heran dengan ekspresi agak marah.
“Kau tau apa yang kau lakukan,Heh?”
“Kau bisa mati.”
“Itulah tujuanku, kenapa kau menyelamatkan ku? Urus dirimu sendiri, dan tinggalkan aku”
.
Aku bangkit, aku tak tahu siapa dia. Namun, itulah awal pertemuanku dengan-nya. Aku slalu menyesal, menangis, Tuhan, mengapa engkau mempertemukan kami? Jika akhirnya kami dipisahkan? Aku lebih memilih mati dengan penyakit ‘ginjal’ku ini.
.
Singkat cerita, aku telah mengenalnya lebih dalam, dia slalu membuatku nyaman, mengembalikan semua semangat hidupku. Membawaku kembali pada kehidupanku sebelumnya.
.
Pandanganku terhalang cahaya, orang – orang berpakaian hijau mengelilingiku, aku tak bisa mengingat apa yang tejadi sebelumnya. Namun, aku tau, mereka dokter bedah. Sesuatu terasa sakit, menancap di tangan kanan-ku. Pandanganku kabur, Gelap.
“Syukurlah kau selamat, Nak”
.
Suara itu aku kenal, ia menangis? Mengapa? Apa aku sakit? Aku mulai sadar, semua orang berkumpul di dekatku, wajah mereka senang, namun menangis. Apa yang terjadi?
“Syukurlah, kami sangat khawatir padamu,Nak”
.
Ibu? Ia menangis? Ayah juga? Apa yang terjadi, setiap sudut ku pandangi. Namun, aku tak menemukannya, aku tak melihatnya, dimana? Diamana dia? Aku berusaha bangkit dan bertanya pada semua orang, mereka hanya menangis dan mengelus rambutku. Dimana Seha?
.
Seminggu aku dirawat, kini aku telah pulih, tubuhku terasa sehat, Dokter mengizinkan-ku pulang. Ayah dan ibuku juga ada, mereka menemaniku pulang. Namun, lagi – lagi, Seha tak ada. Kemana dia?
Aku khawatir, aku slalu bertanya soal Seha, hingga ayahku menjawab.
“Apa? Seha keluar negeri? Dia sekolah disana?”
“Kenapa dia tidak bilang padaku, kenapa dia membuatku cemas? Apa dia tidak memikirkan perasaanku?”
.
Kala itu aku marah, aku kecewa. Ia pergi disaat aku kritis, ia tak datang, ia tak menemaniku dikala ku tak sadarkan diri. Beberapa media sosialnya tak dapat ku hubungi, sms-ku tak dibalasnya, aku sangat khawatir.
.
Hari ini, aku ulang tahun. Seharusnya aku senang, seharusnya aku bahagia. Namun, semua masih terasa kurang tanpa kehadirannya. Teman – temanku mengucapkan selamat, termasuk tamu – tamu yang datang.
“Nak, kami rasa, kami harus memberikan ini sekarang.”
“Ini, Kado dari Seha”
.
Seha? Dia ingat aku ulang tahun? Bahagia, senang. Aku senang dia masih mengingatku. Kubuka dengan cepat Kado itu.
“Halo Mey, Kalo kamu baca surat ini, berarti kamu udah sehat, ya aku harap kamu sehat – sehat aja.
Oh iya, dan kalo kamu baca surat ini juga, berarti aku udah gak ada”
.
Aku berhenti membaca surat itu, aku menatap Ayah dan Ibu yang terlihat sedih. Mata ku menatap kembali tulisan – tulisan itu.
“Maaf, aku ngasih kadonya lebih dulu, aku minta maaf, aku gak bisa hadir di Ulang tahunmu, tapi harapanku, kamu tetap sehat dan terus jalani hidup ini dengan semangat.
Jika selama ini aku gak ada, aku gak pernah jauh dari kamu kok, aku slalu ada didekat kamu. Aku titipkan ‘Ginjal’ku padamu, jaga baik – baik ya”
.
Air mataku menetes, pandanganku kabur, semua terasa seperti mimpi, sesekali ku tampar wajah, aku ingin bangun, aku tak mau bermimpi buruk seperti ini. Aku ingin bangun.
“Nak, sudah hentikan. Apa yang kau lakukan, sudah.”
“Kami tau, ini berat bagimu, tapi cobalah untuk menerima, dan ikhlas”
****
Setahun berlalu, kini aku masih bisa merasakan nikmatnya hidup. Bukan hal yang mudah untuk menerima kepergian seseorang. Aku slalu menyesal, benar – benar menyesal. Kenapa? Kenapa aku harus bertemu dengannya.
.
Malam – malam kuhabiskan dengan menangis, ku ceritakan semua masalahku pada bola – bola cahaya di langit sana, ku titipkan pesan pada mereka, jaga Seha baik – baik. Katakan padanya, “TERIMA KASIH, AKU SLALU MENCINTAI MU”

Terima Kasih, aku sangat berterima kasih, pada kalian yang sudah baca – baca karya saya. Dengan ini, saya semangat dan terus termotivasi.
Ini cerpen Judul “BINTANG”, terinspirasi dari kehidupan SAHABAT saya yang sangat suka dengan bintang, ia slalu cerita tentang bintang. Apalagi rasi Bintang.
Thanks deh, thanks…

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon