Senin, Desember 25, 2017

Cerpen Tidak Berguna Karya Nizam Al-Kahfi PKB



TIDAK BERGUNA
karya: Nizam Al-Kahfi PKB


Masih awal pagi, toko-toko lainnya masih tutup, yang buka hanyalah warung-warung makan dan minum. Aku baru selesai minum. Memang lengang Jalan Bundo awal-awal pagi seperti ini. Aku tampak seekor anjing mencium-cium sesuatu di seberang sana kemudian ia membawa benda itu dengan mulutnya. Ketika ia sudah dekat, aku tampak benda itu seperti tangan yang terputus - mungkin saja tangan boneka. Lembar koran bergulingan ditiup angin perlahan, angin itu berubah jadi angin pusar dan kertas suratkahbar ikut berputar-putar naik kemudian jatuh ketika angin itu berhenti dan hilang. Aneh juga karena angin pusar biasanya hanya ada tengahari atau ketika cuaca sudah panas terik. Seorang pria tua berambut dan berjenggot putih menegurku.

"Maaf," katanya. "Aku terlambat datang. Sudah lama menunggu?"

Sebenarnya aku bukan menunggu; aku cuma berdiri-diri sambil mencungkil-cungkil celah gigi. Aku baru tahu ada toko di sebelah kiriku ini. Ia memasukkan kunci dan membuka pintu tokonya. Pintunya antik, kecil dan hanya bisa dilalui oleh satu orang saja dalam satu waktu. Toko ini menarik perhatianku karena papan labelnya: MENJUAL BARANG-BARANG TIDAK BERGUNA. Menurutku ini agak lucu; jika barang-barang itu tidak berguna siapa pula hendak membelinya.

"Silahkan masuk! Silahkan masuk!"

‍‍Aku mengikutinya naik tangga ke lantai satu. Memasuki tokonya ini, aku hampir-hampir saja tertawa. Memang barang-barang yang dijualnya ini barang-barang tidak berguna: sepatu buruk yang cuma ada sebelah, buku sekolah yang sudah setengah terbakar, celana dalam yang sudah koyak, boneka yang kehilangan tangan, dan segala macam barang yang sebagian pernah aku dan kaumiliki, dan sekarang tidak berguna lagi; barang buangan. Tidak ada satu pun benda yang aku mau.

‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍Ia mambawa aku masuk ke ruang kedua. 

‍‍‍‍‍‍ ‍‍"Ini tempat binatang-binatang piaraaan yang tidak berguna." 

Di sini ada kucing, anjing, kelinci, berbagai jenis burung dan hewan-hewan lain, semuanya di dalam kurungan, tunduk-tunduk, kurus-kurus, berpenyakit, senyap, setiap mata kurasa memandangku seolah-olah aku yang bersalah.

Ia membawa aku masuk ke ruang ketiga.

 ‍‍‍"Ini tempat orang-orang yang tidak berguna," ujarnya.

Di sini ada bayi-bayi yang baru lahir, anak-anak yang kelaparan, remaja pria dan perempuan, aku juga nampak orang dewasa sepertiku, masing-masing mereka menyepi, berpikir berat dalam kurungan. Kemudian aku terlihat dalam beberapa kurungan ada bapa-bapa, ibu-ibu dan nenek-nenek, tunduk-tunduk memeluk lutut. Aku ingin keluar secepat mungkin dari toko ini. Aku tidak ingin melihat semua ini.

"Anak-anak manalah yang sangat kurang ajar dan durhaka ini?" kataku kesal. "Mereka tidak berguna lagi akan orang-orang tua mereka!"

‍‍‍‍‍‍Kemudian orang tua berambut dan berjenggot putih menarik tanganku dan membawa aku ke satu kurungan.

Di situ aku melihat ibuku yang sudah tua duduk memeluk lutut. Ia memandangku seolah-olah tidak lagi kenal kepadaku. Di satu kurungan aku melihat ayahku yang sudah 10 tahun meninggal dunia.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍
Aku merenggut dan menarik jenggot orang tua pemilik toko. Aku tidak peduli orang-orang lain itu, tapi mengapa pula ibu dan ayahku berada dan dikurung di sini? 

"Sejak kapan kau mengurung orang tuaku?"

"Ibumu sejak tiga tahun lebih," katanya, "dan ayahmu sejak 9 atau 10 tahun - aku sudah tidak ingat lagi."

"Kau memang kurang ajar!" Aku segera meninggalkan toko ini.

"Aku cuma menjual barang-barang yang tidak berguna." Orang tua itu menertawakanku. Tawanya bergaung.

Aku terus ke mobilku dan menyetir menuju ke desa. Bukan jauh sangat cuma perjalanan lebih sedikit dua jam. Ibu duduk-duduk di luar rumah. Melihat aku datang wajahnya terus berseri-seri. Entah, mungkin saja duduk-duduknya itu duduk menunggu kepulanganku. Dengan bersusah payah ia bangun menggunakan tongkat untuk menyambut kedatanganku, jalannya tidak teguh, aku mengambil dan mencium tangan yang hanya dibalut kulit, terasa tulangnya gemetar. Tangan yang gemetar inilah yang telah membesarkanku, membelai-belaiku, membersihkan najis dan kekotoranku, menyuapi makanan ke mulutku, memberi aku minum saat aku kecil dan tidak berdaya, saat aku sakit, sekarang tangan-tangan ini sudah tinggal tulang, tidak habis-habis ketarnya, dan dengan urat-urat yang timbul. Aku memimpin ibuku masuk ke rumah, jalannya lambat sekali, goyah dan susah. Sangat susah. Entah selama ini siapa yang telah baik hati menjaganya. Ibu tidak pula menyoal kenapa aku tidak pulang-pulang sudah lebih tiga tahun - bahkan hari lebaran pun aku tidak menziarahinya.

"Besok-besok jika kau ada waktu Nak," kata ibu, "bawa ibu menziarahi kuburan ayahmu - sudah lama kita tidak menziarahi kuburnya."

‍‍‍‍‍‍Pagi itu juga aku memandikan ibuku, menggosok daki dan kulit-kulit mati di belakangnya, menyikat rambutnya. Setelah mandi, tolong memakaikan pakaian yang bersih. Ada orang berbaik hati menyumbangkannya pakaian, terima kasih, terima kasih, seharusnya akulah yang memedulinya. Aku tidak menunggu besok-besok lagi, aku membawanya ke pusara ayah pagi itu juga. Semenjak ayah meninggal aku tidak pernah ke makamnya.

"Ayahmu membutuhkan doa anaknya," kata ibu.

Meskipun sudah lebih tiga tahun aku tidak menjenguk ibu, sedikit pun aku tidak melihat tanda-tanda kesal pada wajahnya. Aku rasa ia tidak pernah merasa kesal karena aku adalah anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan.

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon