Rabu, Desember 27, 2017

Cerpen Nasihat Ibu Karya Awany Sri Bulan

Cerpen Nasihat Ibu Karya Awany Sri Bulan


Nasihat Ibu

Karya : Awany Sri Bulan

Malam minggu... Untuk kesekian kalinya Ci Mei Hua memintaku nginep di agen lagi. Biasa buat menemaninya ngobrol. Pastinya tempatnya di ruang depan agen yang banyak barang dibelakang kotak berat. Buat keluarga kami, keluarga 'Zhao', itu base camp favorit ternyaman buat interaksi. Di tengah ngobrol, tiba-tiba Ci Mei Hua bertanya, "Zhao Yue, di rumah kamu kalo malam minggu begini kira-kira ada yang nyamperin kamu buat ngapelin gak?”
Aku langsung menaikan alis sambil sedikit memonyongkan bibir. 
"Yach, mana aku tau, Ci! Soalnya tadi gak ada yang janji." Ujarku. 
"Ought, begitu? Gimana klo malam minggu ini ada yang apelin kamu tanpa ada janji dulu sama kamu?" Aku merasa Ci Mei Hua ini sedang mengetes! Lalu kujawab, 
"Ah, biar saja. Paling sama Bapak di suruh pulang. Atau di ajak Bapak main karambol sambil nonton bola sama sekalian taruhan! Siapa yang menang biasanya di suruh beliin nasi goreng spesial. Soalnya biasanya bapak selalu kalah main taruhan. Tapi Bapak suka aja!"
"Ha-ha-ha..." Ci Mei Hua tertawa. 
"Bapakmu ada-ada saja yaa!" 
"Yaa begitulah Ci, Namanya juga orang tua." Sahutku santai. 
Tanpa sengaja aku kedua mataku tertuju pada warung bakso Arwan di seberang sana. Bagaikan hantu seketika saja Arwan terlihat muncul di depan warungnya tanpa ketahuan dari mana jalan keluarnya. Kulihat penampilan Arwan cukup keren dan ganteng malam ini. Pasti Arwan mau apel kerumah Joana.
Jadi miris sendiri, gimana tidak? Akukan jomblo? Kapan aku diapelin cowok ganteng n' keren kayak Joana? Aku terus menatap. Terlihat langkah Arwan yang begitu bergegas. Aku menatapnya sampai jauh. Sedangkan Arwan tak sekalipun menoleh padaku! Huftt... Koq rasanya berasa ngenes yaa!
Tapi tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Lucunya gak lama hujan turun, kulihat Arwan balik lagi kewarung baksonya sambil berlari. Aku bengong! Lho? Gak jadi ngapel? Gara-gara turun hujan? Aku gak habis pikir. Saat masih berlari Arwan sempat menoleh padaku. Arwan tertawa karena malu. Akupun juga tertawa demikian pula Ci Mei Hua yang turut melihat. "Kasiaan..." Guman Ci Mei Hua. "Siapa yang kasian?" Sebuah suara sekita muncul.
Itu suara Zhao Ren yang begitu keliatan sosoknya langsung mengambil tempat di sampingku. "Tuh, si Arwan mau apel gak jadi gara-gara." Seruku. 
"Ought..." Zhao Ren manggut-manggut. 
"Klo githu aku beruntung banget dong!" 
"Beruntung gimana?" Aku gak ngerti. 
"Aku beruntung, soalnya tampa susah-susah ngapel aku sudah di apelin sama jejeku yang cantik ini..." Zhao Ren langsung melingkarkan tangannya di bahuku. Tapi aku langsung menunduk, 
"Hoem..." Aku pura-pura muntah. Zhao Ren tertawa kecil. Aku tau Zhao Ren bercanda. Ci Mei Hua tertawa lagi.
"Kalian ini. Kenapa gak pacaran sekalian sih? Kalian sebetulnya sangat serasi lho!" Ujar Ci Mei Hua. 
Aku terdiam. Tapi Zhao Ren langsung menanggapi.
"Gak mungkin, Ci. Kita sudah terlanjur bersama dari bayi. Gak mungkinlah kita punya hubungan selain sodara." 
"Kenapa bisa begitu? Kalian kan gak sedarah." Tanya Ci Mei Hua. 
"Memang, tapi yang jelas aku hanya menginginkan sosok Jeje dari diri Zhao Yue!" Jelas Zhao Ren. 
"Apa keinginan kamu itu gak munafik? Selama ini yang aku lihat kalian berdua selalu bersama dan saling melengkapi. Gimana kalau kelak kalian punya pasangan masing-masing? Apa kebersamaan kalian tidak terasa percuma." 
"Gaklah Ci," Zhao Ren menukas.
"Mungkin Ci Mei Hua kurang tau. Klo kebersamaan keluarga kita berdua sudah ada dari jaman kakek dan nenek moyang kita. Tapi takdir kita hanya sebagai dua keluarga yang saling bersahabat tanpa ikatan perkawinan."
"Jadi gak ada yang percuma, Ci. Yang namanya sodara kan gak harus sedarah. Kalo memang benar sehati-sejiwa setiap melihat raganya mata batin akan melihat darah sendirinya sedang mengalir di tubuhnya. Ikatan kita kuat, Ci." Aku menambahkan.
"Jadi itu alasannya kalian terus bersama?" Selidik Ci Mei Hua. "Gak juga! Karena nasehat Mama!" Bantah Zhao Ren. "Juga Ibuku." Aku menguatkan.
"Sebagai anak, gak mungkinkan kita membantah? Dan kita juga harus berbakti." 
Ci Mei Hua mengangguk pelan dengan muka serius. Semoga kelak tak ada lagi ledekan bila aku sedang bersama Zhao Ren!

WebBlogPur

WebBlogPur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon