Cerpen Episode Baru Karya Leo Rifaldo

Sunday, July 02, 2017
Episode Baru
Karya : Leo Rifaldo

Cerpen Episode Baru Karya Leo Rifaldo

Aku berjalan sambil menggambar kesejukan, di sepenggal jalan beratap rimbun pepohonan, berpagar sungai nan bersih dalam warna coklat.
Aroma daun memanipulasi segala jengah, lelah. Lengang jalan titipkan pesan tentang sebuah kedamaian.

Barisan kokoh gedung-gedung penanda kota metropolitan, diam dalam kekuasaan di kerajaan tanpa istana. 
Langkah-langkah terayun perlahan, menikmati setiap lekuk tubuh kota yang masih sunyi. 
Peluh masih jua tersembunyi, terhalang angin menari sepoi.
Manja tatap matahari, urungkan cahaya hingga menyentuh raga.

Di perjalanan ini, aku mencoba untuk memahami pribadi Sang Kota, belajar untuk mencintai dengan sepenuh hati. 
Sebab telah kutanamkan benih pohon harapan dan berharap kelak akan memanen buah-buah penuh rasa manis. Sebab telah kutitipkan senja di setiap kristal cahayanya, agar terang senantiasa sinari malam hariku.

Di sebuah halte, aku duduk. Menatap lalu lalang pengguna jalan. Sejenak hati mengisyaratkan akan kisah lalu, sebuah tekad dan keberanian diri untuk mengutip satu keputusan yang tercecer di pinggir keputusasaan.
Inikah jalanku?
Aku dapat mengerti, sejauh apapun tempat, takkan mungkin memberikan panoramanya; keindahan atau kekumuhan, tatkala kita tak pernah beranjak untuk menyambanginya.
Bukankah Tuhan telah menjanjikan, takkan dapat kita berubah, bila kita tak merubahnya.
Sehelai daun kering jatuh, di atas pangkuanku. Bersamanya tertinggal setetes embun, sisa tadi malam.
Waktu telah mengakhirkan kehidupannya, kini dalam ketiadaberdayaannya, sang daun akan terbaring di tanah dan dalam kematiannya telah terwujud kehidupan bagi makhluk hidup yang lain.

Matahari memercikkan sinarnya kini, menyentuh rambutku. Hangat mulai tebarkan rasa pada sekujur raga.
Ini hidupku ...
Ini jalanku ...
Keberanian tekad telah menuntunku hingga di muara ini.
Aku tak harus berlari ...
Aku tak harus pergi menjauh ...
Aku akan tetap di sini, memintal setiap tetes asa menjadi benang dan menenunnya menjadi selendang kehidupan.
Laraku telah terkubur bersama masa lalu.

Ini saatnya aku tunjukkan jati diri, mementaskan episode baru fragmen kehidupan, menyambut fajar dan senja di sisa kehidupan dengan senyuman.

Artikel Lainnya

Latest
Previous
Next Post »
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments