Senin, Mei 15, 2017

Cerpen Terkenal karya Nizam Al-Kahfi Pkb

Tags

Cerpen Terkenal karya Nizam Al-Kahfi Pkb
Cerpen Terkenal karya Nizam Al-Kahfi Pkb


Terkenal


Aku tidak tahu siapa dia. Dia tersenyum-senyum kepadaku. Aku membaca tag nama yang tersemat di bajunya: Saufi Ali. Membaca nama itu pikiranku masih kosong. Dia sedikit berperawakan Arab, berkulit hitam manis, rambutnya keriting dengan alis mata yang tebal.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Tidak kenal aku?" katanya. "Aku orang terkenal sekarang."
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍   Dia meletakkan novel yang dibawanya di depanku. Blurb di kulit depan novel itu menyatakan bahwa novel itu novel terlaris sekarang, sudah sejuta naskah terjual. Barangkali dia yang menulis novel itu menggunakan nama samaran: Liya Nissa. Aku tidak tahu apa-apa tentang dunia pernovelan. Aku hanyalah pembaca komik Shin Chan. Novel yang pernah kubaca cuma novel untuk ujian - itu pun aku tidak lulus dan aku sudah lupa judul novel dan penulisnya. Aku selalu menyangka bahwa penulis novel adalah manusia yang misterius. Untuk bertemu langsung dengan seorang penulis novel adalah sesuatu yang mengagumkan. Aku selalu menggambarkan bahwa penulis memiliki kosa kata yang banyak, otak mereka penuh dengan kata-kata yang selalu mencari jalan untuk keluar sehingga ketika mereka bernapas yang keluar dari lubang hidung mereka adalah huruf-huruf. Keringat mereka juga huruf-huruf. Aku melihat wajah Saufi Ali ini - dia tidak punya karakter untuk jadi seorang penulis seperti yang kuandaikan itu.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Kau yang menulis novel tebal ini?" kataku.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Bukan," katanya. "Aku cuma pembaca."
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ "Owh," kataku sedikit kecewa juga, meskipun aku sudah menyangka bukan dia penulis novel laris itu.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Dia membuka novel itu pada halaman tertentu yang sudah ditandanya, dan menunjukkan satu paragraf kepadaku.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Coba baca," katanya.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Aku membaca: Pemuda berkulit hitam manis itu, membuka pintu mobil untuk mempersilakan Tuan Akhtar jutawan kerupuk udang terlaris sedunia. Saufi Ali sempat melihat seorang gadis berkulit putih duduk di kursi belakang. Gadis itu memberikannya senyuman. Ini adalah pertama kali dia melihat gadis itu. Saufi Ali baru seminggu bekerja di sini sebagai karyawan serba boleh kepada Tuan Akhtar. Dia tidak berani terlalu berlebih-lebihan membalas senyuman gadis itu. Dia membalas dengan senyuman yang hanyalah bayangan di bibirnya. Saufi Ali sedikit berperawakan Arab, berkulit hitam manis, rambutnya keriting dengan alis mata yang tebal ...
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍"Ini tepat seperti kau," kataku.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍"Bukan lagi seperti, tapi itu adalah aku," kata Saufi Ali. "Aku adalah karakter dalam novel terlaris ini."
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Bukan setiap hari kita berpeluang bertemu dengan orang terkenal - aku rasa beruntung juga. Dia memberikan novel itu kepadaku, bacalah, katanya, dia sudah membacanya lebih empat kali. Ini kisah cinta yang penuh tantangan antara dia dengan anak angkat Tuan Akhtar. Aku memberikannya komik Shin Chan, jika mau baca, bisa baca, kataku, kita bertukar buku. Dia mengambil komik itu.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Eh," kata Saufi Ali melihat mukaku. "Shin Chan ini kaukah?"
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Muka Shin Chan sama seperti mukaku. Jadi sebenarnya aku juga terkenal.

*Selesai*

WebBlogPur

WebBlogPur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon