Rabu, Mei 17, 2017

Cerpen Penunggu Kamar Mandi Karya Sang Lanna

Tags

Cerpen Penunggu Kamar Mandi Karya Sang Lanna
Cerpen Penunggu Kamar Mandi Karya Sang Lanna

Penunggu Kamar Mandi
Karya: Sang Lanna

Hari itu, kamis malam ....
Sepulang dari kerja, aku ngumpul di kamar kost Hendy, salah seorang teman kerja, untuk membahas masalah pekerjaan tadi siang. Tempat kostnya adalah sebuah rumah besar kuno, namun telah direnovasi sesuai model bangunan kini. Ada 12 kamar yang disewakan untuk kost umum, lelaki dan perempuan.
Baru saja masalah pekerjaan selesai dibahas, Wanto langsung saja bangkit berdiri. "Hen, aku ke kamar mandi dulu, ya. Kebelet nih!" katanya sambil meringis menahan 'desakan alam'.
Yang lain tertawa mencemooh. Sambil tersenyum, Hendy ikut bangkit. "Yuk, aku anterin."
"Heh? Gak usahlah! Masa ke kamar mandi deket situ aja dianterin?" Wanto protes. "Kamar mandinya belum pindahkan?"
Hendy sesaat terdiam. Lalu menjawab dengan hati-hati, "jangan pakai kamar mandi itu dulu. Pakai yang di luar rumah aja, ya!"
"Emang kenapa?" Wanto menjadi heran. Aku dan Dhani pun ikutan menatap dengan pandangan heran.
Hendy menghela napas, "ini hari kamis, malam jumat, kan?" katanya memastikan. "Kalau tiap malam jumat, terutama pada tanggal ganjil seperti hari ini ... sering ada yang aneh di kamar mandi itu."
Wanto terbelalak! Aku dan Dhani ikut kaget mendengarnya.
"Yang bener, Hen? Masa sih? kok kamu gak pernah cerita-cerita?" tanya Wanto dengan nada mulai takut.
Hendy kembali menarik napas panjang.
"Hen, coba ceritain. Mumpung ada Lanna nih, di sini. Siapa tahu bisa bantuin," kata Dhani.
Hendy sesaat menatapku. "Kamu bisa, Lann?" tanyanya.
Aku tersenyum. "Kita coba, dengan bantuan Allah," jawabku. "Tapi, ceritain dulu, ada apa?"
"Gini, Lann," Hendy mulai bercerita. "Cerita sebenarnya, aku juga kurang paham. Tapi menurut yang udah lama kost di sini, udah dari awal rumah ini buat kost-kostan, kamar mandi yang di dalam rumah, ada penunggunya! Kalau malam jumat, biasanya tercium bau melati dari sana. Kadang, seperti ada sosok berkelebat di belakang orang yang hendak ke kamar mandi itu. Tapi, terutama pada malam jumat yang tanggalnya ganjil, pasti ada penampakan! Seorang wanita berbaju putih. Rambut panjang meriap menutupi wajahnya! Ia selalu berdiri, menghadang siapa saja yang malam-malam mau ke kamar mandi itu!"
Dhany dan Wanto langsung merapat ke tubuhku. "Yang bener, Hen ...," ucap Wanto dengan suara gemetar.
Hendy kembali menghela napas. "Aku tadinya juga gak percaya, Wan. Lalu suatu hari, malam jumat, tepat tanggal ganjil ... karena kebelet aku nekat aja ke kamar mandi itu. Waktu itu jam sepuluh-an. Kost-kostan udah sepi. Aku langsung aja ke kamar mandi. Tapi, baru aja sampai di depan pintu ... tiba-tiba tercium bau melati sangat tajam! Sekujur bulu kudukku langsung merinding! Aku berhenti, mencari-cari asal bau itu. Gak ada apa-apa. Aku nekat mau tetap masuk, karena kebeletnya! Aku raih handel pintu kamar mandi itu. Dan, aku terkejut! Handel pintu itu dingin sekali! Bagai memegang sebongkah es batu! Dan anehnya, tanganku gak bisa lepas dari handel itu!"
Wanto semakin menempel erat ke tubuhku.
Hendy melanjutkan ceritanya. "Saat aku melihat ke tanganku yang memegang handel pintu, ternyata ... tanganku sedang dipegangi oleh sebuah tangan lain yang pucat, putih kebiruan! Tangan itulah yang menimbulkan rasa dingin luar biasa! Aku terpaku ketakutan! Namun dengan sisa-sisa keberanian dan kesadaran, aku masih sempat menoleh ke pemilik tangan itu, yang entah kapan, tiba-tiba telah berada di sampingku! Ia seorang wanita, dengan rambut hitam lebat dan panjang menutupi wajah! Pakaiannya putih, seperti daster ... tapi terlihat lusuh! Bau melati tajam menyengat dari tubuhnya! Ia seolah menatapku, lalu menggeleng-gelengkan kepala, perlahan namun tegas! Rasa terkejut dan takut yang amat sangat, membuatku seketika jatuh pingsan! Sesaat sebelum kepalaku menyentuh lantai, sempat kulihat ... kaki wanita itu melayang di atas lantai! Lalu, semua gelap! Tau-tau aku tersadar, udah di dalam kamar kostku lagi," katanya mengakhiri cerita.
Wanto dan Dhani semakin merinding ketakutan. Aku menghela napas panjang.
"Gimana, Lann?" tanya Hendy. Wanto dan Dhani ikut menatap aku.
"Ya, udah. Ayo, coba kita lihat," kataku seraya bangkit, melangkah keluar kamar.
Hendy, Wanto dan Dhani mengikuti dari belakang.
***
Lorong di depan kamar mandi itu nampak gelap. Memang disengaja, agar tak ada yang ke sana saat malam. Hendy mendekati aku .... "Lann ... lampunya nyalain, gak?" tanyanya dengan suara gemetar.
Aku mengangguk pelan. Samar-samar, mulai tercium bau bunga melati, menyeruak tajam ....
Klik!
Lampu menyala! Lorong pun terlihat terang, walau tidak seterang ruangan lain. Aku melangkah maju mendekati pintu kamar mandi. Ketiga temanku hanya menatap dari jauh.
Aku terdiam sesaat di depan pintu. Tak ada terjadi apa-apa. Namun, wangi melati semakin kuat tercium! Tanganku bergerak, menyentuh handel pintu. Tiba-tiba, hembusan angin yang membawa tajamnya aroma melati, menerpa wajahku!
Aku menoleh. Sesosok mahluk telah berdiri di sampingku! Wujudnya seorang wanita, dengan rambut panjang meriap menutupi wajah. Ia melayang-layang di atas lantai! Baju putihnya yang panjang hingga ke mata kaki, tampak lusuh! Sesaat aku menatapnya tajam, seraya melafadzkan ayat-ayat suci dalam hati.
"Siapa kau?" tanyaku perlahan.
Sosok itu hanya diam. Aku melangkah mendekatinya .... Ia melayang, mundur perlahan .... Tangannya terangkat kaku, mencegahku untuk mendekat.
Aku berhenti. "Siapa kau?" tanyaku lagi. "Apa maumu?"
Ia tetap diam. Namun tangannya kini bergerak kaku menggeleng-geleng.
"Apa yang tidak?"
Ia menggerakkan tangannya, menunjuk ke pintu kamar mandi.
"Aku tidak boleh masuk ke sana?"
Kepalanya nampak mengangguk, pelan dan kaku.
"Kenapa?"
Kembali ia menunjuk ke pintu kamar mandi ...
"Ada apa? Ada sesuatu di dalam sana?"
Ia kembali mengangguk kaku.
"Jahatkah?"
Ia mengangguk lagi. Aku menghela napas panjang. Perlahan aku mulai memahami maksudnya. Rupanya ia sengaja menghadang orang-orang yang akan masuk ke kamar mandi itu, karena ada sesuatu yang jahat di dalam sana!
Aku kemudian berkonsentrasi. Melafadzkan beberapa ayat suci dan berdoa memasrahkan diri, mohon pertolongan-Nya. Setelah keyakinan akan kuasa Illahi memenuhi batinku, aku meraih handel pintu itu dan membukanya perlahan.
***
Pintu kamar mandi terbuka diiringi suara berkeriut nyaring! Ruangan dalam kamar mandi terlihat remang-remang, terkena bias cahaya dari lampu lorong. Aku melangkah masuk. Mendadak angin dingin berhembus dalam ruangan itu. Angin yang membawa bau busuk yang memualkan! Semampunya, aku menahan napas. Sesaat kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Dan mataku terpaku pada bak mandi besar di pojokan ruangan. Kutatap tajam-tajam bak mandi itu. Perlahan, tampak air di dalam bak mandi itu seperti bergolak! Asap tipis terlihat mengepul dari sana. Asap itu lah yang menebarkan aroma busuk!
Aku perlahan mendekati sambil terus melafadz ayat-ayat suci .... Dan air itu semakin bergolak hebat! Tiba-tiba, sebuah kepala menyembul keluar dari dalam bak mandi! Dalam kaget, kuberseru menyebut kebesaran nama-Nya!
Sosok kepala dalam bak mandi itu menoleh, menatapku. Ternyata ia seorang gadis yang amat cantik jelita! Wajahnya putih merona, dengan senyum manis tersungging di bibir indah. Matanya nampak bagai berkilau, menatapku dengan berbinar-binar. Rambutnya tergerai panjang, mengambang di atas permukaan air bak yang masih bergolak. Aku segera kembali melafadzkan ayat-ayat suci, penuh keyakinan, seraya menempelkan telapak tanganku ke mulut. Lalu kuangkat tanganku, menghadapkan telapaknya ke gadis cantik itu!
Ggrrraaaarrgghh ...!
Terdengar raungan aneh menggema! Air dalam bak semakin bergolak! Kini perlahan, air itu berubah warnanya menjadi merah darah! Aku terus mendekat seraya mengarahkan telapak tanganku ke wajahnya! Ia meraung-raung! Perlahan, wajah cantiknya menghilang! Berubah menjadi hitam legam dengan rambut putih tipis meriap-riap! Wujudnya kini menjelma menjadi nenek tua dengan wajah menyeramkan!
Aku terus mendekatinya dan semakin keras melafadz ayat-ayat suci! Disertai raungan panjang, nenek itu tenggelam kembali ke dalam air bak! Hingga akhirnya hilang! Asap tipis itu pun perlahan sirna .... Golakan air mereda ... hingga akhirnya diam dan kembali tenang. Air pun kembali bening seperti sedia kala.
Aku mengucap puji syukur terima kasih ke hadirat-Nya atas segala pertolongan dan kuasa.
***
Sejak itu, kamar mandi itupun tak lagi ditakuti dan digunakan seperti umumnya kamar mandi lain di rumah itu. Tiada yang tahu, cerita tentang siapa sosok nenek menyeramkan dan sosok wanita berbaju putih yang menjaga kamar mandi. Karena sosok wanita berbaju putih itupun telah menghilang, tak pernah lagi tampak. Alhamdulillah ....
Seperti juga pada manusia, jangan terburu berpikiran negatif pada mahluk gaib. Mereka pun punya sikap dan perilaku seperti kita ... ada yang baik dan ada yang jahat. Karena itu, jangan langsung takut dan berpikiran negatif pada mereka. Iman pada Sang Pencipta, yang akan melindungi kita dari mereka yang termasuk golongan jahat.
*Selesai*

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon