Selasa, Mei 16, 2017

Cerpen Cinta Si Culun Karya Sang Lanna

Tags

Cerpen Cinta Si Culun Karya Sang Lanna
Cerpen Cinta Si Culun Karya Sang Lanna

Cinta Si Culun
Karya: Sang Lanna

Lydia tercengang menatap rangkaian bunga mawar merah yang Arman sodorkan. Terlebih saat dilihatnya secarik kertas merah jambu menempel di salah satu tangkai, bertuliskan kata 'I Love You'.
Sesaat Lydia menatap wajah Arman yang tertunduk malu, namun dengan mata berharap. Melihat wajah lelaki di hadapannya yang bersemu merah bak kepiting rebus itu, Lydia tak mampu lagi menahan luapan perasaan.
"Hahahaa ...," tawa Lydia meledak seketika. Tergelak-gelak, hingga matanya berair.
Arman terbengong heran. 'Kok, malah tertawa?' batin Arman bingung. Matanya tak lepas menatap Lydia yang tengah terbahak-bahak. Sesaat ia mengamati rangkaian bunga di tangan, lalu beralih ke sekujur tubuhnya. 'Apa yang salah, ya?'
Melihat tingkah lugu Arman yang kebingungan, makin meledaklah tawa Lydia. "Hahahaaa ...."
Mendadak tiga orang rekan kerja mereka memasuki ruangan itu.
"Ada apa, Ly? Keras amat ketawanya?" tanya Wanto.
"Iya! Heboh banget, sih! Sampai kedengeran dari luar ruangan," Edi menimpali.
"Ada, apa nih? Lagi seneng, ya?!" Siska ikutan nimbrung seraya menatap Lydia dan Arman berganti-ganti, "eh, kok ada Arman di sini?"
Arman menunduk malu. Bunga di tangan sampai bergoyang keras, terbawa gemetar tubuhnya.
Dengan susah payah, Lydia menghentikan tawanya. "Ini, hahaha ... Arman si culun! Dia ngasih aku bunga, hahaha ... dengan kertas bertuliskan 'I love you'! Hahahaa ...," ucapnya sambil terkekeh geli.
Ketiga rekannya itu seketika terbelalak, menatap Arman dan bunga di tangan dengan pandangan tak percaya. Lalu, meledaklah tawa mereka!
"Huuaahahaha ...."
Lydia pun kembali ikut tertawa terbahak-bahak. Tinggal Arman terdiam sendiri dengan sejuta malu tanpa mampu berbuat apa-apa.
"Man! Kamu lagi kesurupan ya?!" ucap Anto sembari menahan tawa. Ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Arman. Kemudian beralih ke pantatnya sendiri, "wah, lebih panas jidat Arman daripada pantatku!" serunya.
"Huahahaa ...."
"Wah! Si culun ini ternyata punya nyali juga, ya? Berani nembak kembang tempat kerja kita, nih!" ucap Edi, "Hei, Man! Kamu dipaksa kawin sama emakmu apa emang udah kebelet, sampai senekat itu?!"
"Huahahaa ...."
"Arman? Ngasih kamu bunga? Emang dia berani megang bunga? Lihat ulatnya aja pingsan! Hihihiii ...," Siska terus saja memegangi perutnya yang terasa kaku.
Arman terdiam seribu bahasa dengan wajah kian memucat pasi.
"Eh, dia takut ulat, Sis?" tanya Lydia disela tawanya.
Siska mengangguk, "sini, pinjem ikat rambutmu yang berbulu itu."
Setengah heran, Lydia memberikan ikat rambutnya yang terbuat dari kain berbulu lembut. Siska mengambil ikat rambut itu, lalu menyodorkannya kepada Arman.
"Huuaaaa!" seketika Arman memekik takut, "jangaaan! Jangaan dekatkan!"
"Huahahahaa ...." kembali tawa mereka meledak.
"Cowok apaan?! Sama iket rambut aja takut! Dasar culun!" ucap Lydia ketus, "kayak gitu kok berani-beranian nembak aku! Bener-bener gak waras!"
"Eh, tahu gak kenapa si culun ini takut sama ulat bulu?" kata Edi.
"Kenapa?"
"Ia takut ulat bulu, karena si Arman gak punya bulu alias plontos!"
"Huahahaa ...."
"Eh, plontos? Apanya, Ed?" tanya Wanto menggoda.
"Plontos dalamnya, semua sampai bawah! Hahahaa ...."
"Huahahaa ...."
Arman tak tahan lagi. Tangannya meremas kuat bunga di genggaman hingga hancur. Dari wajahnya yang menunduk, tetesan air mata mulai jatuh.
"Jangan ... menghinaku ...," isaknya lirih. "Apa salahku? Kenapa kalian menghina aku? Apa aku tak berhak jatuh cinta? Apa aku tak boleh mencintai wanita?"
"Yaah, dia nangis tuh! Hayo loh, Ed. Kamu dah bikin anak orang nangis! Hahaha ...."
"Bukan aku! Itu Lydia yang bikin nangis karena menolak cinta si culun ini! Hahaha ...," sahut Edi, "Ly, ayo terima cintanya! Jangan sampai dia nangis guling-gulingan! Huahaha ...."
"Iih! Amit-amit aku punya cowok culun kayak gini!" balas Lydia sewot, "sama ikat rambutku aja takut, apalagi sama tinjuku ini, nih!" katanya seraya mengacungkan kepalan tinju ke wajah Arman.
"Huahahaa ...."
Arman kian merungkut pucat pasi. "Kau ... menolakku. Tak mengapa .... Tapi, mengapa kau menghinaku ...?" bisiknya lirih nyaris tak terdengar.
Lalu dengan terisak, ia bergegas keluar dari ruangan diiringi tawa terbahak keempat orang itu.
Arman berlari masuk ke toilet pria. Ia menunduk terisak di depan cermin westafel. Perlahan isaknya mereda. Ia mendongak, menatap pantulan wajah di cermin. Tangannya mengusap mata dan pipi yang basah oleh air mata.
'Kenapa semua wanita menolakku? kenapa mereka menertawakanku? Bahkan menghinaku? Apa aku tak berhak jatuh cinta? Apa aku tak boleh mencintai? Apa aku tak boleh seperti yang lainnya, memiliki seorang wanita sebagai pasangan?' rintih batinnya terluka.
Hatinya berdarah. Luka menganga lebar, menimbulkan sakit tak tertahan. Sakit yang menikam jantung, membuatnya berlubang! Dan, dari lubang itu keluarlah gelegak emosi!
'Tidak! Aku berhak jatuh cinta! Aku pantas mencintai! Aku boleh memiliki wanita yang kuinginkan!' seru gelegak emosinya. 'Wanita yang menolakku, adalah wanita bodoh! Dan wanita yang menghinaku, adalah wanita yang tak pantas hidup! Cintaku tidak untuk ditolak! Cintaku mesti memiliki! Karena, bila aku tak bisa memiliki, maka yang lainpun tak akan ada yang bisa memiliki!'
Lalu, perlahan sebuah seringai muncul di wajahnya. Seringai jahat yang kian melebar ... terlihat buas!
***
Lydia berjalan perlahan ke tempat parkir kendaraan. Hari itu ia pulang agak malam, karena ada pekerjaan ekstra dari bos. Sesaat ia menatap ruang parkir kendaraan yang sunyi dengan cahaya remang-remang. Lalu langkahnya bergegas menuju motor yang ia parkirkan. Tanpa disadari, sesosok tubuh mengikuti dari belakang.
Saat tangannya bergerak hendak memasukan anak kunci pada motor, tiba-tiba sepasang lengan menyergap dari belakang! Mulutnya dibekap dengan kuat, bersamaan dengan tubuhnya diseret menjauhi motor itu.
Lydia memberontak sekuat tenaga. Namun sosok yang membekap dan menyeretnya itu ternyata lebih kuat! Lydia terus diseret hingga masuk ke sebuah kamar mandi kosong di sudut ruang parkir. Lalu, tubuh Lydia dihempaskan dengan keras ke lantai kamar mandi!
Bruuuk!
Lydia merintih, merasakan pinggangnya yang bagai remuk akibat hempasan itu. Namun tanpa peduli, sosok tersebut telah langsung menindih dan menduduki perutnya! Secepat itu juga tangan yang tadi membekap mulut, kini beralih mencekik batang lehernya! Kerongkongan Lydia terasa sakit karena tersumbat dengan kuat! Ia hanya mampu melotot, menatap wajah sosok yang kini duduk di atas tubuhnya.
"K...ka...kau...?" susah payah ia bersuara, "ke...kena... pa? Ja... jang...an....A...am...puun...."
Namun sosok itu hanya menyeringai ... buas dan kejam! Tangannya yang sebelah bergerak ke pinggang. Dan saat tangan itu terangkat, sebuah pisau belati berkilauan teracung tepat di atas dada Lydia!
Lydia semakin tercekat! Ia memberontak sekuat daya ... namun sia-sia! "Ja...jang...an....Am...puun..." kini Lydia menangis dalam panik dan takut.
Sosok itu tak memperdulikannya. Bahkan menyeringai semakin buas. Lalu, pisau belati itu berkelebat menusuk! Berulangkali ...!
Jleeb! Jleeb! Jleeb!
Darah memercik hingga ke tembok ruangan. Lydia tak mampu lagi berontak. Sebuah rintihan terakhir ia lontarkan. Lalu tubuhnya terkulai diam. Namun, pisau itu tak juga berhenti berkelebat! Terus menusuk dengan kejam! Dan seringai pada sosok itu semakin lebar ... semakin buas!
Setelah merasa puas, sosok itu bangkit berdiri. Menatap tubuh Lydia yang tewas, bersimbah darah. Sesaat ia membungkuk, meraih sesuatu di kepala Lydia. Lalu seraya setengah tertawa setengah menangis, ia berjalan meninggalkan mayat Lydia begitu saja ....
***
"Ya Tuhan! Sadis sekali pembunuh itu ya!"
"Kabarnya, ada lebih dari sepuluh luka tusukan di sekujur tubuh Lydia!"
"Hiih! Sampai segitunya! Siapa orang yang begitu tega dan kejam?! Sampai sekarang polisi belum juga bisa menangkapnya! Padahal, Lydia gadis yang suka bergaul, banyak berteman."
Siang itu, ruangan kerja diramaikan oleh perbincangan tentang peristiwa pembunuhan sadis yang menimpa Lydia. Beberapa teman tampak masih memerah matanya, menangisi kematian Lydia yang tragis itu.
Sebuah langkah kaki perlahan menyeruak di antara kerumunan orang-orang itu.
"Hei, Man! Udah dengar kabar kematian gadis yang pernah kau tembak itu?" ucap Edi yang melihat Arman melangkah.
Arman hanya tertunduk diam, dengan mata sembab memerah.
"Sepertinya dia sudah mendengarnya. Lihat, matanya merah! Pasti si culun ini telah menangis berember-ember di toilet!" tukas Wanto mengejek!
"Huahahaa ...."
"Tidak, tidak! Dia bukan menangis! Tapi terkencing-kencing ketakutan, mendengar Lydia dibunuh dengan begitu sadis!" timpal Edi lagi.
"Huahahaa ...."
"Gimana enggak terkencing-kencing? Melihat ikat rambut yang menyerupai ulat bulu saja sudah ketakutan setengah mati, apalagi melihat tubuh bermandikan darah! Pasti kejang-kejang seraya ngompol di celana!"
"Huahahaa ...."
"Hei, Culun! Sebaiknya, kalau kemana-mana, kamu tuh memakai popok! Biar kencingmu tidak membanjir keluar!"
"Huahahaa ...."
Arman terus menunduk. Air mata kembali menetes di pipi. Orang-orang kian terbahak menertawai.
"Tuh, kan! Dia nangis! Bentar lagi ngompol dah!"
"Huahahahaa ...."
Arman mempercepat langkahnya. Bergegas menyelinap masuk ke dalam toilet pria.
Sesaat ia tertunduk diam di depan cermin wastafel. Lalu perlahan menengadah, menatap wajahnya di cermin. Tangannya bergerak lambat mengusap air mata di pipi. Tak lama, sebuah seringai muncul di wajahnya. Semakin lebar .... Seringai buas penuh kepuasan!
Kemudian tangannya bergerak merogoh saku celana. Sebuah benda di telapak tangannya, ia dekatkan ke wajah. Lalu dicium dengan penuh suka cita. Benda itu ... sebuah ikat rambut berbulu yang bernoda darah!
"Hhmm, dari Lydia!" bisiknya seraya tersenyum puas. "Ikat rambut ini mewakillimu, sebagai tanda kau telah kumiliki, Lydia! Hehehee ...! Cintaku telah berhasil memilikimu!"
Ia lalu mengambil sebuah tas kecil yang tersimpan rapi di bawah westafel itu. Saat dibuka, di dalamnya tampak beberapa ikat rambut dengan berbagai macam model. Semuanya ... bernoda darah!
"Ah, sudah cukup banyak ikat rambut yang mewakili wanita yang berhasil kumiliki! Namun aku belum puas! Aku masih akan mencintai dan memiliki wanita lagi! Sampai mereka tak lagi menghinaku! Sampai ada yang benar-benar menerima cintaku!" gumamnya seraya menyeringai kejam! "Siapa lagi berikutnya nanti?"

*Selesai*

Pur

Pur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon