Sabtu, Februari 11, 2017

Cerpen Antara Safa dan Marwah By Fie

Tags

Cerpen Antara Safa dan Marwah By Fie
Cerpen Antara Safa dan Marwah By Fie


Antara Safa dan Marwah
By: Fie
.
Ada yang memintaku untuk melanjutkan cerita" Senja Itu Di kota Madinah". Sebenarnya aku tak ingin melanjutkan cerita itu... biarlah hanya aku sendiri yang mengetahui bagaimana kelanjutannya. Biarlah aku sendiri yang menjalaninya... biarlah....
.
Namun, tak kusangka dengan izin Allah aku kembali ke kota itu . Teman-temanku mengajak aku untuk umroh bersama. 
"Daripada kamu manyun sendiri di rumah Ayra, mari ikut kami, kita umroh... kita kunjungi tempat-tempat suci di sana. Kita ke Madinah menziarahi makam Rasulullah?" 
Madinah? deg... hatiku bergetar keras. Mengapa harus ke sana lagi? MengapaTuhan???
"Ayo Ayra...." Yayah kembali membujukku.
"Nantilah... aku istikharoh dulu," jawabku singkat.
.
Aneh, kepergianku kali ini jauh dari rasa suka. Madinah membuatku menangis lagi.Sekarangpun aku menangis.Tapi bukan aku tidak suka ke Madinah, bukan. Siapapun orang muslim pasti sangat merindukan tempat itu. Hanya mungkin ajakan temanku itu tidak sesuai dengan kondisiku saat kini. Sungguh, aku telah melupakan Semua. Sesuatu yang tak mungkin terwujud; cinta di antara dua benua. Mungkin itu yang terbaik untuknya dan untukku. Madinah masih menyisakan kenangan sedih untukku.
***
Aku mengenalnya; bahasanya yang santun, kesolehannya, kesederhanaannya, kediamannya. Tak perlu kau tanya teman di mana aku mengenalnya, biarlah hanya aku dan dia saja yang tahu di mana kami bertemu. Hanya yang perlu kau tahu teman, berkenalan dengannya telah merubah kehidupanku,kehadirannya telah mengembalikan senyumku yang telah lama hilang, dengan kata lain aku bahagia. Aku juga tak ingin mengetahui masa lalunya, pekerjaannya,prestasinya. Aku hanya tahu dia saja dan itu sudah cukup buatku.
.
Rombongan kami berjumlah dua puluh orang. Di sana kami telah disambut oleh seorang guide. Aku tak pandai berbahasa Arab,Inggrisnyapun Inggris pasaran, jadi waktu kami berbelanja, aku hanya diam dan temankulah yang menanyakan berapa harganya. Aku hanya melihat keindahan bumi rahmat Allah itu. Mekah... terbayang perjuangan Rasulullah dan masih banyak tempat lain lagi yang kami kunjungi. Safa-Marwah, tempat Siti Hajar berbolak-balik mencari air untuk anaknya Ismail. Di situlah kami sekarang berada. Kami ikuti ritual yang ada dan di sana kami banyak berjumpa dengan rombongan dari Indonesia,sesama warganegara dan juga sesama muslim kami saling mengucapkan salam. 
.
Aku masih terhanyut dalam ritual bersama rombonganku, ketika tiba-tiba kudengar suara bening, Abi... abi...!!! Seorang anak perempuan kecil menangis, dengan iba kudekati dan kupeluk dengan lembut.
"Adik manis, kemana abi dan umimu?" Dia masih menangis sambil menunjuk keramaian di depan kami. "Kita tunggu di sini, kita tunggu abi dan umimu, ya sayang?" 
Anak itu ternyata sangat pintar, ia menganggukkan kepalanya seraya mengusap airmatanya. Tak lama kemudian kudengar suara ribut dari arah keramaian itu."Anakku... anakku... di mana?" Seorang perempuan yang masih sangat muda berlari-lari sambil menoleh kesana kemari.
"Umi.....Umiiii" tiba-tiba anak kecil itu berteriak. "Itu umi....."
"Sayang... maafkan kami..." Langsung memeluk buah hatinya sambil menangis. Aku hanya melongo melihat kejadian itu. Begitu aku mau beranjak menyusul teman-temanku, seorang lelaki berlari ke arah kami.

"Anakku...." Lelaki itu langsung menuju ke tempat kami berhenti. Tiba-tiba aku tersentak, dia cepat menoleh kearahku; dia juga tak kalah kagetnya. Aku menatapnya lama tanpa kata, jantungku berdegup kencang. Ia menatapku. Aku tak tahu makna tatapannya, aku pun membalas tatapannya dengan tersenyum ikhlas. Tiba-tiba kurasakan wajahku basah. Kulihat di langit matahari bersinar cerah.kukira hujan turun, ku ambil tisu. Kuusap wajahku yang telah basah itu. Dengan langkah pelan aku berjalan sembari mataku menunduk menatap tanah. Tiba-tiba, entah dari mana datangnya; terasa jauh, sangat jauh, tetapi sangat jelas di hatiku.

" Kembalilah kepada-Ku. Akulah Tuhanmu, sahabatmu,yang tak pernah mengecewakanmu. Kembalilah kepada-Ku...." Aku menangis... menangis sejadi-jadinya. Tuhanku... aku kan bersama-Mu, tak akan ada lain lagi, aku datang Tuhan.... Di sana, di atas bukit Safa dan Marwah matahari menangis.

-Selesai-

WebBlogPur

WebBlogPur

Terima kasih sudah membaca disini


EmoticonEmoticon