Cerpen Episode Baru Karya Leo Rifaldo

Sunday, July 02, 2017 0
Episode Baru
Karya : Leo Rifaldo

Cerpen Episode Baru Karya Leo Rifaldo

Aku berjalan sambil menggambar kesejukan, di sepenggal jalan beratap rimbun pepohonan, berpagar sungai nan bersih dalam warna coklat.
Aroma daun memanipulasi segala jengah, lelah. Lengang jalan titipkan pesan tentang sebuah kedamaian.

Barisan kokoh gedung-gedung penanda kota metropolitan, diam dalam kekuasaan di kerajaan tanpa istana. 
Langkah-langkah terayun perlahan, menikmati setiap lekuk tubuh kota yang masih sunyi. 
Peluh masih jua tersembunyi, terhalang angin menari sepoi.
Manja tatap matahari, urungkan cahaya hingga menyentuh raga.

Di perjalanan ini, aku mencoba untuk memahami pribadi Sang Kota, belajar untuk mencintai dengan sepenuh hati. 
Sebab telah kutanamkan benih pohon harapan dan berharap kelak akan memanen buah-buah penuh rasa manis. Sebab telah kutitipkan senja di setiap kristal cahayanya, agar terang senantiasa sinari malam hariku.

Di sebuah halte, aku duduk. Menatap lalu lalang pengguna jalan. Sejenak hati mengisyaratkan akan kisah lalu, sebuah tekad dan keberanian diri untuk mengutip satu keputusan yang tercecer di pinggir keputusasaan.
Inikah jalanku?
Aku dapat mengerti, sejauh apapun tempat, takkan mungkin memberikan panoramanya; keindahan atau kekumuhan, tatkala kita tak pernah beranjak untuk menyambanginya.
Bukankah Tuhan telah menjanjikan, takkan dapat kita berubah, bila kita tak merubahnya.
Sehelai daun kering jatuh, di atas pangkuanku. Bersamanya tertinggal setetes embun, sisa tadi malam.
Waktu telah mengakhirkan kehidupannya, kini dalam ketiadaberdayaannya, sang daun akan terbaring di tanah dan dalam kematiannya telah terwujud kehidupan bagi makhluk hidup yang lain.

Matahari memercikkan sinarnya kini, menyentuh rambutku. Hangat mulai tebarkan rasa pada sekujur raga.
Ini hidupku ...
Ini jalanku ...
Keberanian tekad telah menuntunku hingga di muara ini.
Aku tak harus berlari ...
Aku tak harus pergi menjauh ...
Aku akan tetap di sini, memintal setiap tetes asa menjadi benang dan menenunnya menjadi selendang kehidupan.
Laraku telah terkubur bersama masa lalu.

Ini saatnya aku tunjukkan jati diri, mementaskan episode baru fragmen kehidupan, menyambut fajar dan senja di sisa kehidupan dengan senyuman.

Cerpen Jangan Takut Tua Karya Deasy

Sunday, July 02, 2017 0
Jangan Takut Tua
Karya : Deasy

Cerpen Jangan Takut Tua Karya Deasy

Tak terasa aku sedang mengemut kenangan masa muda. Manisnya luar biasa. Kepada kaki aku berbicara "Langkahmu dulu ceria, ketika keropos belum menggerogoti persendian."
Hai, lihat! Mengapa keriput ada di mana-mana? Bukankah dulu aku sangat merawat kulit?
Ah, Umur sudah lebih dulu menyapa, sebelum aku menikmati kecantikan.
Aku takut tua? Ah tidak! Apa yang terjadi bila usia terus saja menimbun masa muda? Apa aku masih menjadi yang tersayang teruntuk kekasih? Apa sebaliknya, ia akan segera berpaling jika melihat uban-ubanku berlambaian di kepala.
Hmm, sungguh kekanakkan jika aku berpikir seperti itu. Bukankan banyak orang yang menanti hari tua? Dengan janji-janji muluk asuransi hari tua misalnya. Atau anak-anak kita, akan memberi kita cucu yang imut-imut. Hal yang indah, bukan? Tapi mengapa aku malah menghindarinya?
Bolehlah, sekadar usaha untuk selalu awet muda atau apalah, akan kita peroleh hal itu di salon-salon kecantikan. Asalkan ada uang, keriput dan uban bisa di sembunyikan.
Hanya saja satu yang harus kita selalu upayakan agar ia tak sembunyi dan malah harus diraih. Tua dengan kedewasaan. Dalam artian tua matang dengan segala pengalaman. Bukanlah kita akan merasa sesuatu, jika memiliki itu?
Jangan takut jika kecantikan dan ketampanan memudar, menurut saya, pasti akan lebih menakutkan lagi jika di hari tua kelak, hanya diisi kekhawatiran tentang usia yang dijalani. Apa kita enggak akan terlihat semakin tua saja? Pastinya, Kita terlihat renta dengan pikiran yang ada.
Mungkin menyambut hari tua dengan ceria, salah satu resep kita agar selalu terlihat awet muda yang tanpa mengeluarkan biaya.

Cerpen Ramadhan Karya Nizam Al-Kahfi PKB

Saturday, May 27, 2017 0
Cerpen Ramadhan Karya Nizam Al-Kahfi PKB
Cerpen Ramadhan Karya Nizam Al-Kahfi PKB

Ramadhan
Karya: Nizam Al-Kahfi PKB

‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ 
Gerry tidak sedikit pun tampak seperti orang Inggeris. Rambutnya keriting, hitam mengkilat dan ia punya jenggut. Sekali imbas, aku awalnya menyangka kami sama-sama orang asing. Ia sendiri mengakui kadang kala ia dilayan seperti orang asing di negeri Inggeris ini. Mungkin karena itu juga kami jadi akrab. Kami sama-sama berusia dua puluh tahun.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Kita sama perahu," katanya sambil berjenaka. "Orang asing di sini. Bedanya aku orang lokal dan kau orang luar negeri."
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Aku kuliah atas beasiswa pemerintah, dan seperti layaknya anak-anak muda yang baru lepas dari pengawasan orang tua, aku memanfaatkan kebebasan tersebut. Di sini, jauh dari orang tua, tidak ada kongkongan lagi dalam hidupku. Aku lebih bebas dari Gerry karena aku baru kenal erti kebebasan. Edan sepenuhnya.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Meski sudah tidak solat lagi, peminum dan pengunjung setia pub, namun apabila tiba bulan Ramadan aku akan berpuasa. Gerry heran melihat aku tidak makan dan minum sepanjang hari, dan lebih heran lagi ketika melihat aku bersahur.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Kau gila?" tanyanya saat melihat aku sibuk di dapur waktu dinihari. "Memasak jam-jam seperti ini?"
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Kami mengontrak di rumah yang sama berkongsi dapur. Aku menerangkan sedikit tentang puasaku. Sukar baginya memahami konsep berpuasa.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Untuk apa berpuasa kalau malamnya kaumakan sampai separuh mati?"
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Aku tidak bisa menjawab, karena aku juga memang tidak tau apa-apa tentang agama. Berpuasa pada bulan Ramadan itu hanya kebiasaanku sejak dari kecil lagi. Aku menyambut kedatangan Ramadan dengan gembira.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Aku tidak paham," katanya. "Kau excited untuk tidak makan sehari-hari?"
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Sebulan tidak minum miras juga," kataku. 
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Itu aku bisa terima," kata Gerry. Ia bukan seorang yang pemabuk. "Kalau bisa kau terus jangan minum-minum. Aku capek nguruskan kau kalau lagi mabuk."
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Satu bulan itu aku tidak pernah mabuk, tidak mau masuk pub. Tidak bergaul bebas dengan teman-teman perempuan. Tidak bisa diprovokasi: normalnya aku sangat sensitif tentang. Sedikit saja aku merasa terhina, aku akan menendang menerjang meninju. Bukan sekali aku bergaduh. Tapi pada bulan Ramadan aku lebih banyak diam. Jika ada yang cari hal aku tenang saja seperti air yang tidak berbuaya.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Habis Ramadan aku kembali 'normal'; mabuk-mabuk, bikin kacau dan suka bergaduh jika diprovokasi. Hal yang sepele bisa jadi kelahi sampai luka-luka parah.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Kau lebih parah dari orang Inggeris yang pemabuk," kata Gerry. 
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ Setiap kali aku pulang lewat malam, muntah dan mabuk-mabuk, Gerry dengan sabar mengurusku. Kadang kala ia tertawa apabila melihat aku pulang dalam kondisi babak belur. Parut di kening kananku yang dirawatnya sampai sekarang masih ada.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ “Tidak pandai jera,” katanya. “Badan kayak paman-paman Putri Salju, tapi bergaduhnya suka berlebih-lebihan.”
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Setiap Ramadan datang, aku menjadi manusia yang paling sopan dan santun sedunia, malah pakaianku bersih setiap hari (hari-hari lain satu pakaian yang berbau arak untuk dua atau tiga pekan sekali cuci). Setelah tiga musim Ramadan di sana, Gerry sudah bisa menebak kedatangan Ramadan. 
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Apa ini sudah Armordern?" tanya Gerry saat melihat aku teramat ceria dan tercium pakaianku berbau harum. Ia bisa merasakan betapa sukanya aku akan ketibaan Ramadan. Tidak kurang juga ia gembira karena ia akan aman selama sebulan dari ulahku yang buruk. 
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Aku tidak paham bagaimana ia bertahan jadi sahabatku. Ia sendiri juga tidak paham. Ia juga tidak paham bagaimana bulan Ramadan bisa merubahku sehingga 180°.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Jika kau begini, aku lebih suka kalau Armordern itu sepanjang tahun," ujarnya.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Aku memandangnya, sepertinya aku pernah mendengar kata-kata yang mirip itu.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Pada Ramadan tahun terakhir aku di sana, ia ikut berpuasa. Hanya dua hari ia sanggup, dan itu pun ia minum air kalau haus.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Sure," katanya, "I'll miss you and your Armordern."
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Hingga saat berpisah, tidak pernah benar sebutan Ramadannya.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Selepas wisuda, kami masing-masing dengan haluan hidup, dan tidak mendengar kabar-berita lagi selama lebih empat puluh tahun sehingga dipertemukan semula, pada bulan Ramadan juga. Dia mampir ke rumahku bersama beberapa orang teman-temannya yang berbilang bangsa. Mereka memperkenalkan diri dari Jemaah Tabligh dengan misi mengajakku untuk solat di masjid. Ia terus bisa mengenaliku.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Masya Allah," katanya, memelukku. "Ini teman zaman edanku, Nizam Al-Kahfi."
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Gerry?" Aku memandang mukanya. Jenggotnya sudah lebih panjang dari zaman remaja dulu, pastinya.
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Gerry Gazzali," katanya. "Sudah sekian lama aku mencarimu. Aku berterima kasih kepada Allah karena cintamu pada Ramadan."
‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Entah, kapan dia memeluk Islam, aku tidak tahu. Ia bisa mengenaliku karena parut di kening kananku yang dirawatnya dulu.

Cerpen Syahadat Karya Nizam Al-Kahfi PKB

Thursday, May 25, 2017 0
Cerpen Syahadat Karya Nizam Al-Kahfi PKB
Cerpen Syahadat Karya Nizam Al-Kahfi PKB


SYAHADAT
Karya: Nizam Al-Kahfi PKB

‍‍
"Gak apa," katanya, memandangku dengan senyum yang lembut. "Walau kita tidak solat asal kita jangan jahat sedikit pun pada sesiapa."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Ia kakakku, sudah berusia 74 tahun. Ia orang baik. Sepanjang pengetahuanku ia tidak pernah jahat pada sesiapa, baik dari tutur kata maupun perlakuannya. Cuma itu saja, ia tidak pernah solat. Istrinyalah yang menyuruh aku, sebagai saudara kandung tunggal suaminya itu, untuk memberi menasihat. Memang dari dulu aku sudah pun berusaha, sebaik yang termampu. Aku cuma mengajak sekadarnya, dan tidak mahu menceramahinya apalagi menghujah kata-katanya itu. Takut apabila dihujah ia akan menghujah kembali dengan kata-kata yang mengundang kemurkaan Allah. Itu kebenaran yang diimaninya dari dulu, sejak remaja hingga sekarang. Tiada sesiapa suka kepercayaannya digugat, apalagi oleh orang sepertiku yang tidak mendalam ilmu agamanya, lebih-lebih lagi aku seorang adik. Ia lebih lima belas tahun tua dariku. Jika ada apa-apa, usia seperti ini juga bukanlah saat yang bersaudara saling bergeser.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Sebelum pensiunan, ia seorang pejabat pertanian yang berpangkat besar dan sibuk juga (sekarang berkebun buah-buahan), punya dua orang anak. Isterinya sudah menunaikan ibadah haji. Ia sendiri tidak mahu. Belum bersedia, katanya. Alhamdulillah, anak-anaknya tidak terpengaruh dengan pegangan bapa mereka itu. Menurut anak-anaknya itu, mereka juga sudah berusaha, namun hujah itulah juga yang diulang-ulangi bapa mereka: 'Walau kita tidak solat asal kita jangan jahat sedikit pun pada seseorang.'
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Dan memang bapa tidak pernah jahat pada sesiapa pun."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Sudah aku soal apa cacatnya dengan 'statement' bapa mereka itu.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Paman," kata mereka hampir-hampir serentak, "itu hanya alasan dibuat-buat oleh orang yang terlanjur gak pernah solat sepanjang hidupnya."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Kalau itu benar," kata anak yang tua, "kebalikannya juga benar."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Apa tuh kebalikannya?" soalku. "Jujur, aku belum terfikirkan."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Boleh buat jahat sebanyak-banyaknya kepada semua orang asal kita tidak tinggal solat," kata yang bungsu. "Itu kebalikannya, Paman."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Aku menyarankan agar mereka selalu mendoakannya. Mohon keampunan dan petunjuk untuknya. Hidayah itu prerogatif Allah. 
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Mintalah pada Allah untuk bapa kamu," kataku. "Dalam kasus ini kamu tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Ia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. Jangan lelah meminta itu saja."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Sekitar jam sebelas pagi kamaren aku menerima panggilan telepon dari anaknya yang tertua. Katanya bapanya hilang.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Mama khawatir banget terjadi apa-apa padanya," katanya. "Bapa keluar jam tujuh pagi tadi, mau ambil pensiunannya di ATM, dan sampai sekarang belum pulang."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Aku hampir-hampir saja tertawa. Itu baru empat jam. Pasti ada urusan-urusan lain yang dibuatnya. Aku rasa kakakku itu belum pikun, ia sendiri yang menyetir mobil yang baru dibelinya. Istrinya saja yang berlebihan khawatir. Aku dipanggil ke rumahnya untuk bersolat hajat memohon supaya kakakku itu cepat pulang. Baru empat jam hilang sudah sibuk banget. Aku ke sana. Kata mereka telponnya tidak bisa dihubungi lagi.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Kali dia ada istri muda rahasia, kak," aku menduga istri kakakku.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Kau jangan bercanda," jawabnya. "Dia tidak pernah berbuat jahat pada sesiapa pun, jauh sekali padaku."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Kekhawatirannya berasas juga, karena sampai jam enam sore kakakku itu belum juga pulang-pulang. Banyak kemungkinan yang dibayangkan istrinya, misalnya suaminya itu didicolek lalu dibunuh, dan mobil baru mewahnya dibawa lari; atau ia dirampok lalu dibunuh dan mayatnya dibuang di longkang; atau organ-organ tubuhnya diambil untuk dijual. Itu keterlaluan - aku rasa organ orang tua tidak akan laku dijual. 
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Sekitar jam tujuh malam, selesai kami solat Magrib dan solat hajat berdoa untuknya, kami terdengar bunyi mobilnya masuk di pekarangan rumah. Istrinya menyambut dengan histeris. 
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Aku hilang ingatan," ceritanya. "Gak tau aku di mana. Aku tersesat dari pagi sampai magrib mencari jalan pulang. Aku gak ingat apa-apa."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Katanya ia menyetir dan menyetir, dan semakin jauh jalannya semakin ia bingung, ia tidak ingat di mana rumahnya, atau siapa dia.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Tapi Allah Maha Pengasih padaku," katanya.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Barangkali itulah pertama kali, untuk sekian lamanya, aku mendengar ia menyebut nama Allah. Katanya selama hilang ingatan itu ia ingat hanya satu: syahadah.
‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Asyhadu al-laa ilaaha Illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah," katanya. "Entah bagaimana syahadah itu tumben muncul di dalam kepalaku."
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Sahadah itulah yang diulang-ulanginya tanpa henti-henti sehingga perlahan-lahan ingatannya kembali dan ia menemukan jalan pulang.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ "Baru sekarang aku ingat siapa aku," katanya.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍‍‍ Malam itu ia ikut kami berjemaah solat Isya.

*selesai*

Cerpen Sembunyi di Balik Kabar Karya Zangi Dost

Friday, May 19, 2017 0
Cerpen Sembunyi di Balik Kabar Karya Zangi Dost
Cerpen Sembunyi di Balik Kabar Karya Zangi Dost

Sembunyi di Balik Kabar
Karya: Zangi Dost

Bagaimanapun menyenangkan atau menyedihkannya masa lalu, semua itu hanya kenangan. Tidak bisa kembali, tak pernah bisa ditawar. Sialnya dia selalu merindukan masa itu, seolah waktu mengutuk, membiarkan terus hidup sedang separuh makna hidupnya tertinggal bahkan hilang di sana.
Lelaki itu tidak pernah takut akan masa depan, bagaimanapun buruknya. Sebab segala harapan, cita-cita, dan ... cinta. Sudah mati di waktu lampau. Apa yang perlu ditakutkan? Sedang alasan untuk takut pun sudah tidak ada.
Nirmala, adalah alasannya merasakan takut. Setiap hari, takut bila si kekasih meninggalkan, takut kehilangan. Hingga saat itu tiba. Apa yang ditakutkan terjadi. Nirmala, benar-benar pergi. Mulai hari itu, meski dia tidak ikut mati, tetap saja setiap hari lelaki itu menziarahi kuburan sendiri, meratap, menangis pilu di depan batu nisan kenangan.
"Lima belas tahun, Mas. Sudah lima belas tahun. Apa yang perlu ditangisi?"
"Justru itu, Put. Sudah lima belas tahun, dan Masmu ini tidak bisa melupakannya. Sangat menyedihkan."
"Mas Darwin. Mbak Nirmala sudah pergi. Harusnya Mas bisa merelakan."
"Tidak! Dia masih di rumah itu, Put. Menunggu Mas pulang." Darwin meninggalkan Putri yang memandangnya penuh iba.
Rumah itu sangat sepi, meski bersih dan terawat. Darwin duduk di kursi teras depan, memandang halaman luas, tempat di mana dia melihat Nirmala meninggal mengenaskan lima belas tahun lalu. Melihat mayat sang kekasih tanpa kepala.
Kematian yang sangat misterius, satu-satunya yang diduga saksi mata yakni tukang kebun hilang tanpa jejak. Membuat Imran selalu menduga bahwa tukang kebun itulah yang membunuh kekasihnya. Tapi, mana buktinya? Apa motifnya? Tukang kebun itu bahkan sudah sepuluh tahun menjadi pegawai setia, rasanya mustahil. Atau ... tukang kebun itu pun dibunuh, sebab menjadi saksi pembunuhan istrinya? Ah, entahlah.
Darwin menghela napas, pertanyaan itu selalu menghantuinya sejak lima belas tahun lalu. Segala usaha sudah dilakukan, akan tetapi tidak pernah menghasilkan jawaban.
Trit ... trit ... trit ....
Bunyi handphone menyadarkannya.
"Hallo."
"Bos, saya bertemu Nyonya Nirmala."
"Apa? Sialan kamu!" Darwin kaget, betapa berani anak buahnya.
"Serius, Bos." Suara di telepon demikian tegas. "Bersama dua orang, dan sekarang menuju ke sana."
"Tutup mulutmu!" Dengan marah Darwin membanting teleponnya. Gila! Bagaimana mungkin? Dia bukan tidak akan senang bila Nirmala benar-benar ada. Tetapi, mempercayai orang yang sudah mati kembali ke dunia? Dia tidak begitu gila, kawan.
"Halo, Mas Darwin ...."
Sejenak Darwin terpaku, suara itu ....
"Ni ... Nirmala?"
"Mas, Darwin ...." Wanita cantik itu mendekat, memeluk Darwin yang masih melotot. Ini gila.
"Kau setan! Pergi jangan ganggu aku!" Darwin cepat menjauh, melotot memandang wanita yang tersenyum di hadapan.
"Saya Nirmala, Mas."
"Tidak mungkin. Nirmala sudah mati!" Darwin menutupkan mata, mengeleng kepala, keringat membasahi dahinya. "Apa aku sudah gila?"
"Saya benar Nirmala, Mas. Maafkan saya meninggalkan Mas terlalu lama. Saya berjanji tidak akan meninggalkan Mas lagi. Sekarang semuanya sudah beres, Mas." Wanita itu memandang terharu lelaki yang sudah seperti gila di depannya.
"Nirmala, lima belas tahun lalu sudah meninggal tanpa kepala. Kau pasti hantunya. Iya, hantunya. Hahaha."
"Cukup, Mas. Wanita yang meninggal itu bukan saya!" Nirmala memandang dua orang di belakangnya. Seakan mengerti, dua orang itu mendekati Darwin, memeganginya, lalu menyuntikan sesuatu.
Darwin lunglai, pandangan terasa kabur. Tetapi tidak lama dia menjadi tenang.
"Wanita yang meninggal lima belas tahun lalu itu mayat dari rumah sakit, Mas. Sengaja dipenggal kepalanya supaya orang mengira itu saya."
Nirmala memeluk Darwin, mengusap kepala kekasihnya.
"Lima belas tahun lalu, saat itu kita terancam bahaya. Tapi Mas tidak menyadarinya. Mas pasti tidak tahu, bila tukang kebun Mas yang setia itu menjadi antek-antek musuh.
Suatu hari tanpa sengaja saya mendengarnya bercakap-cakap dengan seseorang lewat telepon. Sangat mencurigakan. Anak buah saya menangkap dan memaksanya mengaku. Mas tahu tidak siapa yang membeli kesetiaan tukang kebun itu? Mantan pacar saya, Mas." Nirmala menangis, mendekap Darwin yang masih melongo tidak percaya.
"Bagaimana ... bagaimana itu terjadi?" Lelaki itu perlahan mendapat ketenangan kembali, menatap manik mata wanita di hadapannya.
Bersambung ....