Senin, Desember 10, 2018

Cerpen Tentang Cerita Cinta (Bagian 1) Karya Wirda Ayu

Tentang Cerita Cinta (Bagian 1)
Karya : Wirda Ayu

Langit baru saja memulai teriknya pada posisi sepenggalah, membakar kulit-kulit peramai pasar yang bernaung langung di bawahnya sehingga tidak ada alasan bagi peluh untuk tetap bersembunyi di bawah kulit. Aktivitas jual beli memang sudah hampir selesai saat itu sehingga bisa digunakan Nabil untuk bersantai di atas tumpukan kardus bekas yang akan diangkut oleh petugas kebersihan pasar menjelang senja nanti. Duduk pula di sampingnya Tegar yang bolak balik mengantarkan pesanan pedagang dari pasar induk menuju pasar-pasar di pelosok. Aroma keringat yang pekat mengebul jadi satu dengan partikel udara belum lagi aroma sayuran yang belum laku tapi sudah tidak segar lagi, bahkan dari lapak ikan laut yang sangat menusuk hidung, namun semua itu tak menyurutkan Nabil dan Tegar menikmati segarnya es kelapa buatan Mang Adi yang berasal dari Surabaya. 
Di sela-sela itu Tegar mengepulkan asap rokoknya, bibirnya sudah berwarna gelap diikuti gusi dan giginya yang sudah tercemar oleh nikotin berdosis tinggi. Baginya merokok adalah jiwanya. Sementara Nabil di sisinya hanya berusaha menghidar dari kepulan asap.

”Kenapa, Bro? Kalau gue ngerokok pasti badannya mundur,” seloroh Tegar.

”Ngebul, Bro,” sahutnya.

”Makanya, coba nih!” seru Tegar menyodorkan rokok ke depan mata Nabil. Ia tak mau mengambilnya sama sekali. Ia mencoba teguh pada pendiriannya bahwa merokok dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Lagipula ibu dan adiknya pasti tidak akan setuju bila ia menjadi perokok.

”Ah, dasar lo. Terlalu polos.” Bibir Tegar menyeringai membuly Nabil yang masih tak bergeming, ”Merokok itu nikmat, tahu?”

”Iya gue tahu, tapi itu cuma bagi pecandu. Gue nggak kok,” timpal Nabil tak mau kalah. Wajahnya yang bersih dari tumbuhnya janggut dan kumis semakin menonjolkan kelembutan dan keteduhan wajahnya.

Ia merasa risih dengan asap rokok, tapi tak ditinggalkan sahabatnya itu hanya dengan alasan rokok. Baginya, Tegar adalah segalanya, sejak kecil selalu bermain bersama saat ikut kedua orang tua mereka berjualan sayuran di pasar.

”Gue ingin punya truk sendiri, Bil,” katanya tiba-tiba, mungkin dibenaknya memang sudah terbesit pikiran itu atau mungkin sudah terlalu lama ia memikirkannya sampai hari ini akhirnya tertumpahlah lewat kalimatnya tadi.

”Elo kan sudah punyai truk pamanmu?” timpal Nabil.

”Itu bukan punya gue, tapi punya paman. Dan nantinya akan diwariskannya kepada Faran putranya,” cetusnya.

”Bilang aja lo iri?”

”Ishh apanya yang iri? Kalau iri, gue akan minta paman menjual truknya dan membagi dua hasil penjualannya,” seloroh Tegar.

”Gue cuma nggak mau bergantung lagi, sudah saatnya untuk mandiri,” tambahnya.

Nabil terdiam sesaat, mencoba membuka pikirannya mengenai usahanya yang sudah dijalannkannya selama tujuh tahun tetapi belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

”Lo benar,” celetuk Nabil.

”Apanya yang benar?”

”Gue juga ingin berubah."

”Hahaha, jadi apa? Satria Baja Hitam?”

Nabil protes lalu menyenggol perut Tegar dengan sikutnya, ”Berubah jadi orang kaya donk. Masa Satria Baja Hitam. Memangnya aku pembela kebenaran? Aku kan pembela kehidupan?”

Mereka terkekeh lalu kembali menyeruput es kelapa dengan sedotan, ”Untuk apalagi sih, Bil? Kios udah punya, rumah juga punya. Malahan lo beruntung memiliki dua kios. Punya lo sama bokap lo.”

Saling menyadari kesamaan nasib mereka yang sama, hanya saja Tegar tak seberuntung Nabil. Kedua orang tuanya meninggal saat usianya masih kecil karena kecelakaan, sehingga ia harus ikut dengan pamannya yang seorang sopir truk pasar. Sampai saat ini ia masih menjadi kernet truk tersebut yang selalu membantu bongkar dan muat.

”Tapi, gue nggak akan selamanya kaya gini. Suatu saat nanti akan keluarga yang akan ditanggung,” ujar Nabil, tatapan matanya menerawang entah ke mana seakan dia bisa menembus takdir di masa depan.

”Oh, jadi pengen kawin?” ledek Tegar menyenggol bahu Nabil dengan sikunya, ”sudah punya calon rupanya?”

Tegar memainkan alisnya ke atas dan ke bawah untuk meledek temannya yang ia tebak-tebak sedang jatuh cinta. ”Siapa? Siapa? Hah? Hah?”

”Dia,” Nabil menunjuk ke depan tetapi dengan asal-asalan. Tak disangka Tegar melihat yang ditunjuk Nabil adalah seorang wanita anggun berkulit putih dengan wajah yang oval, tubuhnya sintal dan rambutnya sebahu.

Tegar mengiyakan hasil tunjuk asal-asalan sahabatnya, ”Wuiih ck ck ck ck, cantik.”

Nabil baru tersadar bahwa pria di sampingnya menganggapnya serius, ”Siapa? Memang siapa yang ak tunjuk?”

”Dia.”

”Mana?” Nabil memiringkan tubuhnya mencari-cari objek yang ditunjuknya.

”Cakeeep,” Tegar merasa terpesona dengan keanggunan gadis yang akhirnya lewat di depannya. Nabil pun melihatnya ia memusatkan perhatian padanya dari rambut sampai ujung kaki. Pucuk dicinta ulam pun tiba, gadis itu berhenti di depan keduanya dengan raut wajah Tegar yang masih melongo memperhatikannya.

”Bang?” panggil SI Gadis.

Nabil berusaha menormalkan kembali konsentrasinya, ia mencoba berdiri dan merapikan kaosnya yang sudah kering dari peluh, serta topinya yang miring dibenarkannya, ”Ada yang bisa dibantu, Mbak?”

”Saya mau beli brokoli, apa masih ada yang jual ya siang-siang gini?” tanyanya.

”Saya punya, Mbak?” jawab Nabil sumringah.

”Oh, syukurlah.”

”Mau berapa banyak?”

”Dua kilo saja,” Gaya bicara gadis ini sangatlah lembut, terlihat dia orang berada dan berpendidikan tinggi. Nabil berpikir sangatlah tidak mungkin mengharapkannya. Tidak akan pernah gadis seperti dia meliriknya.

Nabil memasukkan brokoli ke dalam kantong plastik kresek. Matanya tak beralih sedikitpun dari gadis di depannya itu. Tegar menyerempet tubuh Nabil dari belakang, ia membisikkan sesuatu ke telinga sahabatnya, ”Ayo, kenalan sana! Katanya mau kawin?”

Nabil mendorong Tegar kebelakang sambil berbisik, ”Apaan sih?”

”Cepetan!”

”Udah kenal, kok. Dia calon istriku,” ujar Nabil sekenanya.

”Halaahh,” bibir Tegar melengkung ke bawah, ”mana mungkin cowok kucur kayak kamu berani melamar gadis secantik dia.”
Gadis itu menyodorkan sejumlah uang Rp 100.000,- diikuti Nabil yang menyerahkan kantong plastik berisi brokoli dengan gemetar. Tegar menggenggam pergelangan tangan Nabil.

”Ya ampun, gitu aja gemetar?” gerutu Tegar tepok jidat.

”Gue wakilin, ya?” Tegar mendorong tubuh Nabil menjauh. Kini dia yang mengambil alih percakapan dengan gadis itu.

”Eh, nggak usah mbak. Ini gratis,” seloroh Tegar, menampik uang yang diberikan oleh Si Gadis.

”Gratis? Tapi, nggak ada tulisan gratisnya?” tanya Si Gadis kebingungan.

”Ini gratis yang spontan, mbak. Jadi sekarang bisa mbak ambil barangnya dan simpan kembali uangnya!” jelas Tegar.

”Gitu, ya?”

”Sebagai gantinya, Mbak harus sebutkan nama asli,” tambah Tegar.

”Oh, nama?” Si Gadis langsung mengulurkan tangannya, ”A ...,”

Tanpa menunggu lagi Tegar langsung menyambut tangan putih dan mulus tersebut hingga si gadis batal menyebutkan namanya, ”Abang Tegar."

Rupanya Nabil tak mau kalah juga, iya segera mengulurkan tangannya juga, ”Nabil. ” kemudian mereka menceritakan kios dan suasana pasar hingga terlupa dia baru menyebutkan huruf depan namanya. Lantas ia terburu-buru pulang karena sudah ditunggu, Pada akhirnya nama gadis itupun masih merupakan rahasia.

”Ok, terimakasih ya abang-abang, Atas brokoli gratisnya. Saya pulang dulu,” Gadis itu merapikan rambutnya ke belakang telinganya, kemudian pergi dan menyisakan cita rasa pesona pada dua pemuda yang baru saja ditemui.

”Kok, gratis?” gerutu Nabil.

”Ye biarin aja, itu trik menarik perhatian seorang wanita. Siapa tau dia jadi langganan dan bisa ketemu setiap hari,” bela Tegar sambil berjingkrak salah tingkah.

”Bro, tadi siapa namanya?”

”Eh, siapa ya?” Tegar menggaruk kepalanya yang tidak gatal berusaha mengingat namanya.

”Dia belum sempat bilang namanya siapa, kamu sih ge er duluan, akhirnya dia jadi batal sebutin namanya,” Nabil duduk menjauh dari Tegar dengan tampang yang bête tingkat monas.

***

Hari ini, Tegar mencoba membantu Nabil berjualan sayur, pemuda itu rela menjadi ajudan sahabatnya sendiri demi melepaskan diri dari sang paman. Sehingga, hari ini, Nabil terlihat agak santai dipagi hari. Secangkir teh hangat dan beberapa pisang goreng buatan Anita yang dibantu oleh Nazla menemani pagi hari Nabil di depan meja makan. Tak dipungkiri pertemuannya dengan gadis yang namanya masih misteri itu secara tak disengaja sangat membekas dihatinya. Ia ingin bertemu kembali, tak tau bagaimana caranya, dari mana dirinya, tinggal di mana bagaimana keluarganya sangat membuatnya penasaran. Nazla datang dan duduk di dekatnya, memperhatikan raut wajah yang tak bernyawa karena khayalannya sedang berada di awang-awang.

”Kenapa Kak? Kok bengong sih?” Nazla memicingkan matanya melihat jauh ke dalam pandangan Nabil.

Nabil tersentak dan seketika itu pula buyarlah khayalannya, ”Apaan sih? Ganggu aja.”

”Ih, kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi galak gitu?” balas Nazla tak kalah galaknya.

”Kamu iseng, tau nggak?” sulut Nabil.

”Kan cuma tanya, kakak kenapa? Kalau nggak ada masalah, ngapain marah-marah?”

Geregetnya Nabil, sampai ia mengambil pisang goreng dari tangan Nazla. Akan tetapi gadis itu menahannya. Tak sengaja rambut panjang Nazla menyentuh pipi kakaknya sehingga posisi mereka berdekatan. Ada perasaan aneh terjadi, darahnya berdesir saat wajahnya berdekatan dengan Nazla. Jantungnya pun berdegup tak menentu. Padahal baru dua menit yang lalu ia terpesona membayangkan kecantikan si A huruf yang sempat diucapkan oleh gadis yang ditemuinya di pasar kemarin sore. Tapi kenapa degupan kepada Nazla melebihi pesonanya.

Di saat yang sama gadis ini merasakan hal yang aneh pada tatapan kakaknya, Entah karena dirinya terlalu dekat dengannya atau karena hal yang lain. Ia menjadi gugup melihat mata laki-laki di hadapannya itu. Lama-kelamaan Nabil sadar dengan yang sedang terjadi. Ia merasa bersalah dengan hal ini. Apa yang aku lakukan? Dia adalah adikku, batinnya. Kemudian ia mulai beringsut menjauh. Ia mengusap wajah dan segera menjauhi adiknya dengan segera mengambil sepeda dan segera pergi ke pasar.

Bersambung

Cerpen Tentang Cerita Cinta (Bagian 1)

Minggu, Desember 02, 2018

Cerpen Hadiah Senja oleh Urvilla Widya

Hadiah Senja
Oleh : Urvilla Widya

Dalam kurun waktu lama. Pak Kardi setia bekerja pada Tuan Bahar. Kini sudah tua renta dan meminta berhenti sebagai pelayan; tangan kanan, dan penasehat dari Tuan Bahar.

"Tuan, saya sudah renta. Saya ingin istirahat dan fokus dengan keluarga hingga waktunya tiba."

"Sebelum berhenti, apakah kamu masih bisa memenuhi permintaan terakhirku?"

"Apa itu, Tuan?"

"Bangunkan rumah yang besar untukku!"

Meski kesal, ia tak sanggup menolak permintaaan tuannya.

Tidak sepenuh hati mengerjakan rumah. Dalam pikirnya Pak Kardi hanya memburu selesai, dan ia berhenti bekerja.

Sangat singkat, rumah besar akhirnya selesai. Pak Kardi berangkat menemui tuan Bahar.

"Tuan, rumah sudah saya selesaikan."
"Benar? Kamu tidak pernah mengecewakan saya. Jadi apakah rumah itu sesuai dengan apa yang saya minta?"
"Rumah itu sesuai dengan apa yang anda minta, Tuan." Pak Kardi menjawab dengan tidak yakin.

"Kalau begitu maukah, Pak Kardi, menerima permintaan terakhir saya?"

"Iya, Tuan." Pak Kardi kesal karena tidak bisa menolak apapun yang diminta tuannya. Namun bila seperti ini terus maka ia tidak akan bisa pensiun. Hatinya marah, dan kesal tapi, bagaimanapun, Tuan Bahar sangat berjasa dalam hidupnya.

"Terimalah rumah itu. Semoga tidak mengecewakan saya."

Pak Kardi, menangis sejadinya-jadinya. Air mata penyesalan itu kentara sekali. 
Pekerjaan setengah hati tersebut adalah miliknya. Seandainya saja aku mengerjakan seperti biasanya. Pasti itu akan lebih nyaman.

Namun, sudah terlambat, Tuan Bahar sudah tidak pernah dijumpai. Pak Kardi masih menanggung beban. Permintaan, maaf!
Cerpen Hadiah Senja

Cerpen Tak Mau Terpisah oleh Asa Amelia Mahardika

TAK MAU TERPISAH
Oleh : Asa Amelia Mahardika

Rintikan air yang turun dari langit mulai membasahi bumi, mengguyur kota Pemalang yang sudah lama rindu dengan kedatangannya.

"Syukurlah ... hujan turun. Mumpung lagi dingin gini, Mama mau Deo masakin apa?" Pandangannya beralih pada sesosok wanita paruh baya yang tengah duduk di kursi goyang dekat jendela.

Sang ibu tidak menjawab. Bukan karena tak mendengar atau alasan lain, tetapi beliau memang tak dapat berbicara seperti layaknya manusia normal.

"Deo masakin mie instan, ya? Atau ... pisang goreng?" Kembali anak lelaki berusia 17 tahun itu menawari berbagai aneka makanan hangat yang siap menemani di dinginnya malam.

Sosok ibu itu tidak akan bisa tergantikan. Dialah wanita super yang pernah Deo temui di dunia ini. Yang merawatnya hingga menjadi lelaki yang bertanggung jawab, displin dan berbagai sifat baik lainnya. Benar orang bilang, anak itu bagai lembaran kertas kosong, mereka lahir, dan berkembang dari yang menuliskannya. Siapa yang menuliskannya? Ya, lingkungan sekitar seperti keluarga.

Bagi Deo, ibu tak akan bisa terpisahkan sejauh apapun jarak yang terbantang. 'Pokoknya, Ibu harus selalu bersama Deo!' Begitu perkataannya dahulu, sampai sekarang Deo masih memegang teguh itu.

*** ***

"Sudah siaap ...!" Remaja berhidung mancung dan berparas tampan khas timur tengah itu menghampiri ibunya, sedikit berlari. Membawa sajian berupa pisang goreng dengan toping cokelat dan keju yang diparut, tak lupa juga susu kental manis sebagai pelengkap.

"Deo suapin, ya, Ma?" Disodorkannya sendok berisi potongan pisang goreng itu yang masih hangat, terlihat dari asap yang masih mengepul.

"Makan yang lahap, ya, Ma? Habiskan saja, Deo bikin banyak kok." Seulas senyum hadir di bibirnya. Tumpukan embun di pelupuk mata perlahan turun, bersamaan dengan derasnya hujan.

"Ma ..., Deo gak mau pisah sama Mama ...," bisiknya lirih seraya mengecup kening ibunya dan memeluk tubuh ringkuhnya itu yang hanya tersisa susunan tulang belulang.

- SELESAI -


Selasa, November 20, 2018

Cerpen Nasihat Kisah Marjo karya Urvilla Widya

Cerpen Nasihat Kisah Marjo karya Urvilla Widya
Cerpen Nasihat Kisah Marjo karya Urvilla Widya

Kisah Marjo
karya: Urvilla Widya

Marjo diringkus, tangannya diikat di tiang listrik, dikerumuni massa. bonyok, lebam, dan mata sipit didapati Marjo.

Marjo telah masuk ke sebuah rumah dikampung sebelah, kampung yang tidak biasa dia jadikan tempatnya mencari makan.

"Bilang! Apa saja yang sudah kamu curi?" seseorang membentak Marjo yang sekarang bertambah gempal dengan melebam.

Marjo adalah seseorang dengan segala perkataan santun. Orang-orang di kampungnya mengakui tidak pernah merasa tersinggung atau marah karena ucapannya.

Namun hal yang tidak disenangi orang-orang darinya adalah dia sangat sering mengambil makanan dari rumah ke rumah tanpa minta izin; kebiasaan ini sudah dia lakukan dari dulu semenjak kecil.

"Aku lapar,Tuan," jawab Marjo.

"Berani-beraninya kamu masuk ke rumah orang dan menghabiskan makan siang mereka! Apa yang kamu curi?" Seorang tua berbicara melayangkan sebuah tamparan ke pipinya.

"Aku hanya lapar, Tuan. Aku ingin makan. Tidakkah Tuan mengasihani aku yang lapar?" Itulah kata-kata Marjo yang menjawab berbagai pertanyaan orang-orang kampung sebelah yang menduganya mencuri; tidak mengatahui kebiasaan yang sudah dianggap wajar di kampungnya.

Tak selang beberapa menit satu pukulan keras mendarat di kepalanya yang menyebabkan dia pingsan. Bersamaan dengan itu tiba-tiba datanglah salah seorang warga kampungnya yangg menjelaskan kalau perilaku yang dilakukan Marjo ini adalah kewajaran. Namun terlambat, Marjo sudah tidak bergerak.

Tidak ada yang mempermasalah kematian Marjo, murni salah paham. Mereka memadati rumah Marjo untuk tahlilan.

Hingga ke tujuh hari Marjo meninggal, rumah Marjo tetap dipenuhi orang-orang. Ini bahkan tidak terjadi kepada ustadz Anwar ketika dia meninggal. Warga terus-menerus datang.

Ibu Marjo sangat terharu dengan hal ini. Anak lajang berumur yang berkegiatan di kebun saja ini adalah satu-satunya keluarganya.

Ibu Marjo menjadi janda sejak 25 tahun yang lalu. dia selalu kecewa ketika dia memasak pada siang hari, Marjo tak pernah menyentuh masakannya, sebab dia merasa punya dapur seluruh warga- terlepas dari itu Marjo adalah anak yang sangat berbakti.

Ibu Marjo juga mengatakan kepada orang-orang yang penasaran terhadap Marjo. bahwa Marjo selalu mengucapkan "alhamdulillah" sampai ashar tiba.

Ketika ashar tiba, doa yang dia ucapkan begini: "Aku beruntung hari ini. Berikan kesetiaan pada suaminya dengan makanan tadi ya Allah. Aku ingin makan lebih enak, ya Allah, maka tambahkanlah rezekinya."

seorang ibu yang merasa suaminya tidak pernah lagi keluar rumah tanpa urusan dan hubungannya semakin baik.

Para suami-suami juga baru menyadari ketika Marjo secara mengendap-ngendap masuk ke rumah dan menghabiskan makanan dirumah mereka, semenjak itu jugalah mereka merasakan masakan istrinya lebih lezat.

Belum habis mereka bercerita mengenai Marjo. Seorang bocah berlari pontang-panting menyusup barisan orang-orang yang bersantap makanan yang disiapkan tuan rumah.

"Pak, Marjo ada dirumah kita!" anak itu memanggil ayahnya, Napas yang cepat dan bersuara keras disertai tangisan, semua orang kaget.

"Tidak mungkin, Marjo sudah meninggal." seorang yg memegang kerupuk di tangannya membantah.

Anak itu tidak menjawab, namun dengan kuat dia menarik tangan ayahnya yang akhirnya berdiri dan menuruti maksud anaknya untuk segera pulang ke rumah untuk menyaksikan Marjo makan.

Warga yang juga penasaran, mengikuti ayah dan anak itu menuju rumahnya.

Betapa terkejut mereka melihat Marjo yang segar bugar dipenuhi lumpur, dengan lahap menyantap makan malam; masih memakai kain kafan.

Dengan hati-hati bapak itu datang menghampiri.

"Marjo?"Wajah ragu yang kentara diperlihatkan.

"Iya, tuan." Marjo menjawab dengan terus menggerakkan tangan melayani mulutnya. "Aku lapar tuan," sambungnya

"Iya Marjo, makanlah." Bapak itu sudah yakin, dihadapannya benar adalah Marjo. Warga pun bukan main terkejutnya.

"Marjo hidup kembali".

Marjo melakukan kembali kebiasaan lama. Marjo yang setelah mati suri sekarang tidak makan di kampungnya lagi. Marjo lebih sering masuk ke kampung lain.

Pada suatu ketika dia datang di malam hari ke rumah di kampung yang jauh. Dia masuk ke rumah orang-orang miskin. Bahkan sering Marjo pulang dalam keadaan lapar, karna yang ia temukan hanya air putih dari air hujan atau air sumur. Marjo pun tak pernah menceritakan masakannya enak atau tidak lagi.

***

Kampung heboh seorang janda tua tidak memiliki apa-apa, akan dinikahi oleh seorang kaya. Kampung heboh pasangan tua mendapatkan hadiah rumah dari orang kaya. Kampung heboh ketika keberuntungan selalu menimpa 'tidak sengaja' menjamu Marjo di rumahnya. Kini kedatangannya kerumah-rumah selalu ditunggu.

"Aku lapar, aku hanya datang dan makan." ucap Marjo takut ketika kembali didesak kerumunan masyarakat.

Senin, November 19, 2018

Cerpen Horor Bunga Kenanga Oleh Azizah Samha

Cerpen Horor Bunga Kenanga Oleh Azizah Samha
Cerpen Horor Bunga Kenanga Oleh Azizah Samha

Bunga Kenanga
Oleh : Azizah Samha

Malam pun larut saat menyusuri jalan bersama temanku. Lampu-lampu terang di pinggir jalan mempercantik suasana malam di Bumi Tegal Boto. Udara segar sehabis hujan membuat badan sedikit kedinginan.

Aku menaiki sepeda motor berdua untuk pergi ke masjid. Sekitar 10 menit memasuki jalan dua arah atau biasa disebut double way, aku hampir sampai ke arah masjid. Namun, saat berbelok ke arah kiri dan melewati jalan dekat masjid, indra penciumanku menghirup harum bunga kenanga yang menyengat hidung.

Aku terdiam sejenak memikirkan harum bunga kenanga. Lalu, bertanya kepada Ismi, "Kamu mencium harum bunga kenanga, nggak?"

"Iya, menyengat banget," jawabnya.

"Kok horor, ya? Biasanya nggak begini." Batinku penuh keheranan.

Aku dan Ismi larut dalam pemikiran dan penciuman masing-masing. "Ya, sudah. Jangan dibahas lagi, kita sudah sampai," ucapku mengubah pembahasan. "Iya, baiklah."

Ciiit! Ban motorku berdecit di parkiran khusus motor. Setelah itu menuju ke arah tempat wudhu dan segala hal yang ada di diri, ku pasrahkan kepada-Nya. Untuk meminta pengampunan dan hajat agar dapat dikabulkan.

Kemudian urusan di masjid selesai. Aku dan Ismi bergegas pulang sambil mengendarai motor. Di jalan yang sama dilewati tadi. Aku masih penasaran untuk mengendus harum bunga kenanga lagi. Tapi, ternyata harum bunga kenanga itu hilang.

"Ismi, nggak ada harum bunga kenanga lagi, ya?" tanyaku sempat heran.

"Iya, nggak ada," jawabnya.

"Coba kamu liat, ada bunga kenanga di area masjid apa nggak?" Aku masih berpikir positif sama hal aneh ini. Siapa tau ada tanaman bunga kenanga. Tapi, pertanyaan ini sungguh tidak mungkin bunga kenanga ada di area masjid kampus.

"Kalau ada bunganya pasti masih bisa tercium, karena ada angin," kata Ismi meyakinkanku.

"Iya, sih. Kok serem!"

"Sepertinya bener ada itu, deh," pekiknya kepadaku. Hingga membuat badan merinding.

"Sudah, nggak usah dibahas lagi!" pintaku tak ingin memikirkan hal aneh.

"Haha, iya nggak usah di bahas."

Motorku melaju menuju arah pulang. Dan kisah ini masih misteri. Apakah ada tanaman bunga kenanga di area masjid kampus?

-Tamat-