Minggu, September 30, 2018

Cerpen Kita Berbeda oleh Yan

Cerpen Kita Berbeda

Kita Berbeda
Oleh: Yan

Apa yang bisa dilakukan di pojok ruang ketika kita reuni untuk kesekian kali. Kau sunyi, aku sepi. Kita buat orkestra dengan irama satu per satu. Ada gitar tanpa senar, drum tanpa tabuh, dengan biola tanpa bow. Cukupkah?

Sebenarnya aku ingin pergi. Tanpamu, juga mereka. Tempat di mana kaki enggan lagi melangkah. Duduk berpayung angin di bawah rindang langit lalu mendengar musik tanpa suara.

Ya hanya aku yang mendengar. Mereka biasa menyebutnya egois. Kau mengerti bila aku tertawa. Sebutan itu aneh. Seperti ludah yang dicipratkan ke atas. Jadi sebaiknya kita bernyanyi apa?

Aku hanya ingin membisu dalam diam. Suara tak lagi berguna ketika telah terjual. Meski kau ganti dengan rekaman, itu basa-basi. Kau mengulang apa yang telah dikatakan. Oleh karena itu aku tak menjawabmu. Jadi duduklah yang manis saat aku memandang ke kanan, maka hadapkan wajahmu ke kiri. Karena begitulah adanya. Kita berbeda.

Sabtu, September 29, 2018

Cerpen Emas Kerajaan Oleh Erza El Ghabiy

Cerpen Emas Kerajaan

Emas Kerajaan
Oleh: Erza El Ghabiy

Seorang Raja sedang gundah gulana terhadap perdagangan emas di kerajaannya. Banyak laporan masuk bila emas di kerajaannya sudah tidak murni lagi. Sang Raja kemudian berinisiatif untuk mengungkap masalah tersebut dengan tangannya sendiri. 

Dalam penyelidikan, Raja harus menyamar menjadi rakyat biasa dan mulai berkeliling ke sekitar toko-toko emas. Didapatilah tiga penjual emas sedang berbincang-bincang.

Ujang : "Aku sudah mencampur emas jualanku dengan 1/4 tembaga kedalamnya."
Anang : "Sedang aku mencampur 1/2 tembaga pada perhiasan yang kubuat."
Kasep : "Aku berbeda dengan kalian. Aku hanya memberi tembaga dengan harga emas."

Raja agak kesulitan untuk memahami maksud perkataan pedagang ke tiga. Setelah sedikit menggali informasi tentang pedagang ketiga alias kasep, raja kembali ke kerajaan. Titah perintah penangkapan pada kasep dikeluarkan.

Setelah Kasep dihadap Raja, Raja bertanya, "Bagaimana kamu bisa memberi pelanggan perhiasan tembaga, sedang mereka kasih kamu emas untuk dibuat?"

"Wahai Raja, tidak hanya pada rakyatmu, tetapi aku juga bisa perlihatkan padamu bagaimana aku melakukannya," jawab Kasep.

Pikir raja tambah heran, maka ia putus untuk mengujinya. Kasep lalu diberikan emas oleh raja untuk membuat kalung emas yang cocok dengan putri raja. Pembuatan perhiasan hanya boleh dilakukan di ruang khusus di istana. Kasep dikawal oleh beberapa prajurit penjaga.

Setelah sore Kasep akan pulang ke rumah, tentu saja emas raja itu tidak boleh di bawa pulang. Sampai di rumah ternyata Kasep kembali bekerja, ia membuat perhiasan yang sama dengan yang ia buat di kerajaan, tetapi menggunakan 99% tembaga. 

Ketika kedua perhiasan tersebut selesai dan besok akan diserahkan pada sang putri. Seperti biasa Kasep katakan pada istrinya, "Persiapkan yogurt dalam ember, sebelumnya kautaruh perhiasan tembaga ini di dalamnya. Besok kaubawa itu yogurt berkeliling istana sambil berteriak menawarkan."

Tiba hari ditunggu, Raja sedikit senang karena ia merasa menang. Si Pengrajin emas itu selalu di jaga ketat dalam pengawasannya, dan emas itu tidak pernah keluar dari ruangannya.

"Wahai Raja, untuk tahap terakhir perhiasan ini harus dicelupkan ke yogurt agar lebih berkilau," tawar Kasep.

Raja menyetujuinya. Di saat yang bersamaan terdengar suara samar dari luar istana yang hendak menjual yogurt. Dipanggillah penjual Yogurt–istri Kasep–itu.

Tak menunggu lama Kasep langsung menyelupkan perhiasan emas ke dalam ember yogurt, sementara dari dalam ember tangan Kasep sedang bergerak menukar perhiasan emas dengan perhiasan tembaga yang sudah dipersiapkan istrinya. Usai dibersihkan dari sisa yogurt, perhiasan itu dipakaikan pada sang putri.

Tertawalah Kasep bersama istrinya saat kembali pulang ke rumah. 

Jumat, September 28, 2018

Cerpen Kematian Seseorang Oleh Zangi Dost

Cerpen Kematian Seseorang

Kematian Seseorang
Oleh: Zangi Dost

"Berbagilah, meskipun dengan cara yang orang lain pun tidak mengerti jika kita sedang berbagi." Begitulah nasihat yang ia dapat saat itu, ketika diaa hendak menyimpan kesakitan hidup seorang diri.

Nyatanya nasihat itu sedikit manjur, perlahan ia membuka diri, memilih siapa yang pantas dijadikan teman. Namun semua itu tidak selamanya, sebab ternyata menaruh kepercayaan kepada manusia seperti membawa telur di atas kertas basah, mudah jatuh dan hancur.

Setelah itu dia kembali berjanji untuk menyimpan segalanya sendiri, terlebih kesakitan. Akan tetapi setiap kesakitan yang mendera hati malah membuat depresi. Kenyataannya ia tidak setabah matahari yang membakar diri hanya untuk dipandang terang oleh yang lain.

Hampir dia mau bunuh diri. Orang itu tidak mengerti apa tujuannya terlahir, yang ia dapati dari kehidupan hanya kesakitan, kesakitan, dan kesakitan yang perlahan-lahan menciptakan kebencian teramat dalam terhadap segala yang berbau kebahagiaan.

Di dunia ini, orang itu merasa hanya dialah yang tidak pernah merasakan kebahagiaan. Jangankan untuk merasa, berkesempatan bahagia pun tidak. Ia menjadi lebih diam dari yang diam, setiap hari hanya mendekam di ruangan meruntuki kehidupan.

Tak ada yang memedulikan, ia mengasingkan diri dan terasing, ia membenci dan dibenci. Bahkan dalam hati muncul sebuah tanya, "Apakah aku masih bagian dari manusia?"

Kamis, September 27, 2018

Cerpen Cukup Sudah Rin! Oleh Yan

Cerpen Cukup Sudah Rin!

Cukup Sudah, Rin!
Oleh: Yan

Hal paling mengerikan pada diri cewek tuh ada dua: pertama, dikejar-kejar mereka padahal kita tidak suka, apalagi cinta; kedua, melakukan cara buruk guna mendapat perhatian.

Keduanya ada pada diri Rin.

Lalu harus dengan cara apa aku mesti menjauh dari cewek kurus yang masih kelas dua SMP itu?

“Rin ....”

“Ya? Ada apa, Kak?” Matanya mulai berkaca-kaca, dan sepertinya siap tumpah.

Hadeeuh, baru menyapa itu saja tuh anak kayaknya sudah ngerti omongan aku selanjutnya. Mesti gimana, dong? Kan nggak seru banget mendadak ada cewek nangis hanya gara-gara kukatakan: i don’t hate you but i don’t like you. It’s mean, i do not love you. Understand?

Pastinya akan ada hujan petir karena wajah mendadak mendung tebal.

“Mmng ... kapan ujian semester?”

“Dua minggu lagi. Kayaknya ini udah tiga kali, deh ....”

“Eh, apa?”

“Kakak nanya soal ujian semester kan udah tiga kali untuk hari ini.”

“Apa iya?”

Rin ngangguk. Senyumnya lebar sebab pernyataan yang diduganya tak keluar dari bibirku.

***

Kalau ada yang tanya, kenapa aku nggak suka pada Rin. Cewek itu kan nggak jelek?

What?! Nggak jelek?!!

Oke, nggak jelek, tapi dia nggak cantik. Kulitnya memang putih, yups! Rambutnya sedikit pirang ... tapi tubuhnya kurus banget, dan ... itu loh! Dia menyimpan gitong di balik bibirnya. Tau kan gitong? Ya udah, nggak usah dibahas.

Anything else?

Dia tuh masih kelas dua SMP, dan aku sudah lulus SMA dua tahun, cuy!

Lho, memangnya kenapa? Kan nggak tua-tua banget.

Okey, tapi yang namanya cinta itu kan susah dipaksa. Kalau ada yang bilang, jalani aja dulu. Nah, bukannya tidak dicoba. Sudah! Dan semakin tidak suka. Alasannya:
jangan bilang dulu pada orangtuamu bahwa aku ini pacarmu!

Huhuhu! Sebal sewaktu dengan entengnya dia bilang dengan bahasa rahasia, bahwa aku ini her boyfriend. What?! Itu makin bikin aku ilfil banget.

Kedua dia ngakalin gini:

Para berandalan mengadang mereka di depan sekolah. Dia dan dua teman perempuan diganggu. Ditarik-tarik mereka sambil terus menggoda. Entah kenapa karena merasa tak ada rasa, tak ada keinginan untuk marah. Apalagi ingin membela. Namun dia ceritakan itu di depan kedua orangtuanya. Coba? Apa maksudnya?

Ya udah, dengan dua teman kudatangi markas berandalan itu. Alih-alih terjadi keributan, suasana malah baik-baik saja. Mereka bersumpah bahwa cerita itu tak ada. Kurang puas, kudatangi kedua teman Rin. Kupaksa mereka mengaku kejadian sebenarnya. Ya Tuhaaan, ternyata Rin memang mengarang cerita!

Maksudnya apa coba? Pengin aku mendadak jadi hero dan jadi dewa penolong? Pengin melihat aku bereaksi melindunginya sebagai seorang kekasih sejati? Hadeeuh ...!

Itu yang kemudian membuatku mulai mengatur jarak. Namun bukannya mengerti dengan kesalahan yang dibuat, Rin malah melakukan tindakan yang sangat ‘luar biasa’.

Plak! Plak!

“Aow! Adouw! Ibu, ya Alloh ... ibu, apa-apaan ini? Masuk kamar langsung mukul pakai sapu?”

“Anak kurang ajar! Berbuat apa kamu sama Rin? Tega kamu bikin malu ibu, ya? Ya Alloooh, kenapa kamu sampai begini? Kenapa kamu tega melakukan hal ini sampai mencoreng aib di muka kami?”

“Bu, Bu ... tenang dulu. Ada apa? Mencoreng aib apa?”

“Masih mau cari alasan? Orang-orang bilang Rin hamil dan itu perbuatan kamu ....”

“Astaghfirullah al’aziim ....”

Dengan susah payah aku mesti menjelaskan kepada ibu, juga bapak. Bahwa itu bukan perbuatanku. Aku sama sekali tidak pernah ‘menyentuh’ Rin. Itu tidak mungkin terjadi.

“Sungguh keterlaluan! Apa maksud kamu menyebarkan cerita bohong kepada semua orang? Apa kamu tidak berpikir, kamu telah membuat aib besar kepada keluargaku? Astaghfirullah al’aziim ... Rin, sungguh! Aku tidak bisa memaafkan kelakuan kamu yang satu ini. Ini benar-benar keterlaluan.”

Rin diam dan seperti biasa ... menangis.

Ini sudah fix. Tak ada ampun lagi. Kuceritakan semua kepada orangtuanya, termasuk bahwa aku ini bukan pacarnya. Bukan siapa-siapa dia juga. Aku cuma sekadar ketua karang taruna dan Rin hanya satu di antara sekian banyak remaja yang tergabung di dalamnya. Tidak lebih!

Setelah kuletakkan jabatan sebagai karang taruna, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Kurasa lebih baik sementara waktu menyingkir dulu ke rumah paman di Jakarta Timur. Fokus kuliah dan melakukan aktivitas lain.

Terakhir dengar kabar katanya Rin mau bunuh diri.

Fine! I don’t care. Perempuan seperti itu sepertinya lebih mengerikan ketimbang hantu.

Rabu, September 26, 2018

Cerpen Miskin Tapi Ganteng Oleh Shadrina Ghassani

Cerpen Miskin Tapi Ganteng

Miskin Tapi Ganteng
Oleh: Shadrina Ghassani

Salam semangat kawan semua. Saya akan berbagi cerita, ini sering banget dijadikan bahan canda saat kumpul bareng teman-teman. Sampai kadang bikin penasaran, ini cerita beneran atau bukan, sih? Gantengnya segimana, gitu? Hehehe. Jadi ceritanya begini ....

Dalam sebuah kamar, di rumah mertua. Sepasang suami istri yang baru saja menikah, terdengar sedang bercakap-cakap.

Istri : Abang ... kenapa sih enggak pernah jujur bilang kalau abang tuh miskin dan nggak punya apa-apa?

Suami : Loh, abang kan selalu bilang ke neng. Tiap kali kita ketemu saat pacaran dulu.

Istri : Masa, sih? Kapan? Kok neng nggak inget?

Suami : Kan abang selalu bilang, sayang ... kamulah satu-satunya milik abang. Terus nengnya selalu jawab, 'ikh abang so sweet'

Istri : Hah ...?! (sambil cemberut)

Suami : Tuh, kan jadi tambah cantik deh kalau cemberut. Lagian kan cowok ganteng itu pasangannya cewek cantik, tapi abang beruntung, malah dapet ceweknya cantiiiikkk bangeeett

Istri : Ah ... Abang. (Tersenyum tersipu malu)