Senin, Mei 21, 2018

Cerpen PULANG Oleh Ranung Abadhi

Cerpen PULANG Oleh Ranung Abadhi


PULANG
Oleh:Ranung Abadhi

Malam itu aku masih asyik memainkan ponsel android dengan ngemil kacang atom. Menikmati hari kala ditinggal majikan pergi liburan. Hanya kakek yang telah tertidur lelap sejak sore menjadi teman sekaligus tanggung jawabku.

Entah mengapa ingin sekali membuka galeri foto semasa aku pulang beberapa bulan silam. Banyak cerita dan kenangan kala itu. Hanya fotolah yang menjadi penawar ketika rindu datang menerjang. Aku tertuju pada koleksi foto Yang berisikan kebersamaanku dengan ibu. Entah mengapa Ada rasa ingin segera pulang dan memeluknya erat.

Tak terasa bulir bening itu bercucuran tak terbendung. Kutenangkan diri dengan meminum dua gelas air hangat. Pikiranku kembali melayang mengingat ibu Yang semakin tua. Apalagi beberapa hari ini beliau mengeluh sakit. Rasanya ingin sekali aku meluncur pulang, beruntung ada kakak Yang mengurus ibu di rumah.

Karena terus resah, menelpon ibu adalah Cara terbaik menenangkan pikiranku. Meski sudah larut malam, katahu Ibu pasti belum tidur. Berulang kali aku menelponnya hingga suara lembut wanita yang kucintai itu dapat kudengar. Namun, suaranya tak seperti biasa kali ini lebih lemah. Kala aku menanyakan kondisinya, beliau hanya bilang perutnya masih terasa sakit. Mungkin karena penyakit maag maag akut ditambah beliau harus mengonsumsi obat jantung setiap hari.

Hati ini seakan tertusuk paku nan tajam. Aku hanya bisa menyarankan beliau mencari posisi tidur yang enak dan agar besok dibawa lagi ke dokter. Ibu pun menurut dan berpesan agar aku berhati-hati bekerja Di negeri orang.

***

Siang itu perasaanku tidak enak, apalagi ibu dan kakaku tak dapat kuhubungi sejak pagi. Hanya pesan yang bisa kukirimkan untuk mereka.

Setelah menyiapkan makan Siang untuk kakek, langsung aku menelpon kakakku dan menanyakan kondisi ibu. Dari seberang kakaku berkata pelan tak seperti biasanya dan ini pertanda Ada yang tidak beres. Dengan kata yang hati-hati diucapkan, dia memberitahu bahwa ibu harus opname karena jantung terjadi pembengkakan. Sekujur tubuh ini lemas seketika membayangkan kondisi ibu yang lemah harus berjuang melawan penyakitnya.

Setiap hari, hampir setiap jam Aku menelpon keluarga dan mencari tahu perkembangan ibu. Pada Hari keempat kondisinya telah stabil, makanapun sudah banyak. Berkali-kali Aku menelpon dengan video dengannya. Beliau terlihat senang dan memberiku beberapa pesan. Aku senang melihatku ibu sudah lebih baik. Dokter pun bilang bahwa ibu bisa segera pulang asal kondisinya terus stabil.

Hari itu Jumat subuh, kakak mengirim pesan memintaku telpon. Dengan segera kutelpon kakak, pikiranku hanya tertuju pada ibu Dan ibu. Dari seberang kakaku menjelaskan kondisi ibu Yang tiba-tiba menurun. Aku hanya meminta untuk memberikan Yang terbaik untuk Ibu.

Siang harinya Ibu kritis, Di sini Aku menghubungi semua temanku meminta bantuan doa agar ibu bisa melewati masa Kritis. Alhamdulillah selesai Ashar, ibu sudah mulai stabil dan sadar. Hanya saja beliau belum ingin terlalu banyak bicara.

Namun, tubuh ibukku terus melemah. Malam Hari beliau kritis Dan kondisinya terus menurun. Minggu Kala libur pun Aku lebih memilih menyendiri dengan terus memantau perkembangan ibu. Hingga malam itu menyampaikan pesan dokter bahwa apa pun yang terjadi kami harus siap. Tentu saja ini membuatku begitu hancur, harapan kami pun tipis.

Senin, 9 April 2018 Jam 3 pagi , saat di mana para malaikat turun mengajari mereka Yang bertahan a adalah wwaktunesia adalah saksi bisu terlepasnya dunia. Memisahnya nyawa dari badan yang selama ini telah berjuang melawan sakit yang tak berkesudahan. Pulang adalah obat terbaik untukmu Dan Allah adalah sebaik-baik tempat kembali.

Minggu, Mei 20, 2018

Cerpen DIA AYAHKU BUKAN AYAHMU Oleh Sandra Kirana


DIA AYAHKU, BUKAN AYAHMU
Oleh : Sandra Kirana

Namaku Sintia, aku hidup bersama ayah dan ibuku. Aku adalah anak tunggal. Aku masih kelas 3 SMP. Aku masih terbilang anak yang manja. Setiap hari hidupku penuh dengan keceriaan, dan kebahagiaan. Keluarga kami terbilang cukup harmonis. Jarang sekali ayah dan ibuku bertengkar.
Aku ingin sekali mempunyai deorsng adik. Rasanya, hari-hariku masih terasa sepi. Aku membayangkan bagaimana jika aku mempunyai adik. Pasti aku senang sekali, aku bisa menggendongnya, memangkunya, memeluknya, dan bahkan jika ia besar, aku bisa mengajarkannya belajar, mengajarkannya tentang bagaimana dunia luar dengan baik dan masih banyak lagi. Aku pernah bilang pada ibuku bahwa aku ingin memiliki adik.
"Bu, kapan Sinta punya adik kaya teman-teman Sinta yang lain bu?" Tanyaku meminta.
"Sabar sayang, kita serahin semua sama Allah ya nak." Jawab ibu.
"Tapi jangan lama-lama ya bu, Sinta ga sabar pengen main sama adik. Rasanya kalau main dengan adik orang malah kurang bahagia. Tapi kalau adik sendiri pasti Sinta sangat senang." Ujarku.
Ibu pun hanya tersenyum saja pada perkataanku.
Aku selalu Sholat, mengaji, dan tak lupa aku berdoa kepada Allah agar Ia mengabulkan doaku. Aku selalu menekuni pekerjaan rumahku. Baik itu dalam membantu orangtuaku maupun dalam belajar.
Rasanya aku iri sekali pada teman-temanku yang memiliki adik yang lucu-lucu. Yang bisa mendengar cerita mereka, yang bisa mereka ajak main.
Suatu hari pada saat aku didalam kelas tengah belajar, bu Irma memanggilku untuk dapat segera pulang duluan karena Ibu berada dirumah sakit. Aku kaget, secepatnya aku mengambil tas lalu izin pada wali kelas untuk pulang. Perasaanku cemas tak menentu. Aku menunggu angkot yang tak juga mau berhenti. Akhirnya kudapatkan angkot yang berhenti, lalu aku naik.
Saat aku masih diperjalanan, aku panik sekali. Hatiku terus bertanya-tanya. Ada apa dengan ibuku.
Setelah aku sampai dirumah sakit umum, aku menanyakan nomor kamar dan ruangab yang ditempati ibuku kepada suster disana.
"Sus, orang yang bernama Yanti ada diruangan mana ya?" tanyaku.
"Diruangan anggrek no.103" jawabnya sambil melihat buku daftar pasien.
"Oh, terimakasih Sus."
"Sama-sama."
Aku berlari kecil menuju ruangan yang dikatakan pada suster tersebut. Setelah kutemukan, aku masuk dan kutemui ibu terbaring disana dengan wajah pucat bersama seorang dokter yang memeriksa.
"Ibu saya kenapa Dok?" tanyaku cemas.
"Ibu kamu gapapa, ibumu hanya kelelahan saja. Sebaiknya hindari pekerjaan rumah yang membuatnya terasa lelah karena itu dapat merusak janin yang ada didalam kandungan ibumu." Ujar dokter.
"Ibu saya hamil dok?" tanyaku kaget bukan main.
"Iya, selamat ya. Kamu telah memiliki calon adik."
Aku senang sekali, aku bahagia. Rasa khawatirku tergantikan oleh kabar baik. Sebentar lagi aku akan memiliki seorang adik. Impianku akhirnya terwujud. Terimakasih Ya Allah, engkau mengabulkan doaku.
Sejak ibuku hamil, aku selalu mengingatkan ibu untuk makan, dan menjauhkan pekerjaan yang membuatnya cepat letih. Kadang, aku yang memasak untuk ibu. Dan ayah membantu pekerjaan ibu. Keluarga kami sedikit lagi akan lengkap. Keharmonisan pun semakin bertambah. Setiap pulang sekolah aku melihat keadaan ibu, dan semakin hari perutnya semakin membesar. Kadang, aku membelai perut ibu. Rasanya aku tak sabar melihat adikku.
Dan semakin lama semakin hari, akhirnya usia kandungan ibu sudah mecapai 8 bulan. Namun, betapa sedihnya aku ketika ayah mengatakan bahwa minggu ini ayah akan pergi merantau ke Surabaya. Aku sedih sekali, namun mau bagaimana lagi. Jika ayah tak pergi kesana, penghasilan ayah selama bekerja tak akan mencukupi biaya aku dan adikku. Ibu pun berat hati untuk mencoba mengizinkan ayah pergi kesana. Namun, kami mencoba mengikhlaskan. Ayah bilang, bahwa secepatnya ayah akan pulang.
Akhirnya, pada hari itu juga ayah memutuskan untuk berangkat ke Surabaya. Ibu sedih, dan aku pun menangis. Ayah hanya menitipkan salam rindunya untuk kami dan terutama untuk bayi yang dikandung ibu. Ayah pun pergi dengan berat hati meninggalkan rumah ini.
Walaupun ayah telah berada disana, ayah selalu memberikan kabar. Menanyakan kesehatan kami. Semakin lama ayah disana, semakin berkembanglah janin ibuku. Dan akhirnya ibu pun melahirkan, aku mendampingi ibu disaat nifas.
Ibu melahirkan anak perempuan yang cantik dengan bulu mata yang lentik. Ibu yang masih dalam keadaan sangat lemah memberikan nama untuk adikku pada saat itu juga. Sherly Hania, itu nama yang ibu berikan. Aku amat senang karena adikku telah lahir kedunia. Namun, aku dan ibu merasa ada yang kurang. Ya, kurangnya sosok ayah yang tiada disamping kami. Ayah tak melihat kelahiran adikku karena ayah tak mendapat izin. Aku dan ibu sedih. Ayah hanya berkata bahwa secepatnya ayah pulang. Secepatnya, dan secepatnya selalu ayah katakan seperti itu di telepon. Namun itu semua tak terlalu aku pikirkan. Aku dan ibu masih sibuk mengurus Hania. Kami merawat Hania dengan penuh kasih sayang, mengajarinya sedikit demi sedikit, kadang aku mengajaknya main. Dan semakin hari Hania pun sudah ada perkembangan. Ia mulai bisa merangkak, duduk, berdiri, sedikit berjalan, dan yang lainnya hingga umur adikku sudah berusia 1 tahun.
Semenjak Hania telah berumur 1 tahun, ayah tak lagi memberi kami kabar. Biasanya ayah menanyakan bagaimana keadaan Hania. Namun, sekarang aku tak tahu mengapa ayah tak mengabari. Ibu mencoba menelponnya berkali-kali namun tak pernah aktif. Ibu juga mencoba menelpon perusahaan tempat ayah bekerja namun kabarnya, ayah tak lagi bekerja disitu. Lalu kemana ayah sebenarnya? Aku dan ibu cemas, khawatir. Kasihan Hania kalau ia belum pernah melihat sosok ayahnya. Ibu berusaha mencari ayah lewat kakak dan adiknya di Surabaya namun mereka tak tahu dimana ayah. Sehingga hampir hilanglah keputus asaan ibu mencari ayah. Aku dan ibu berusaha membesarkan Hania walau ayah tak ada disamping kami. Kami ajarkan segalanya tentang Hania.
Dan tahun terus berganti tahun. Hania mulai mengerti semuanya. Namun, kami tak pernah membuka mulut untuk menceritakan tentang ayah kepada Hania. Hania hanya tau bahwa ayah sedang bekerja mencari uang untuknya. Selebihnya kami tak memberitahu Hania.
Hania mulai tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik.
Aku dan ibu sangat menyayanginya. Kami ajarkan dia menjadi orang yang tangguh, mandiri, baik, bertatakrama, berbudi pekerti dan yang lainnya. Kami harus membiasakan ini pada Hania agar suatu saat ia tidak menjadi seseorang yang manja, sombong, dan yang lainnya. Hingga sekarang usianya sudah berumur 9 tahun. Aku juga sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhan adik dan ibuku. Aku menunggu ayah dengan harapan untuk pulang kerumah. Setiap Hania menanyakan ayah, ibu hanya berkata "sabar nak, pasti ayah akan pulang." aku ingin mencari ayah, demi Hania. Hania rindu sosok ayah yang tak ia ketahui wajahnya sedikitpun. Aku terus mencari dan mencari.
Hingga pada suatu hari, pada saat matahari mulai menampakan sinarnya yang amat panas. Aku pergi ke toko buku membelikan buku cerita yang diminta Hania. Namun, sekilas tapi nampak kulihat seorang pria setengah baya sedang berada di sebrang sana, di toko emas bersama seorang anak kecil yang usianya hampir sebaya dengan Hania. Aku seperti mengenal pria itu, kucoba mengingat-ingat kembali wajah itu dan akhirnya kutemukan. Dia ayahku, ayahku yang entah kemana perginya tanpa memberi kabar lagi selama 8 tahun. Ayah yang dirindukan dan dinanti-nantikan oleh seorang gadis kecil yang belum tau apa-apa.
Kutemui sosok pria itu disebrang sana. Ia pun melihat kearahku dengan kaget.
"Sinta?" tanya ayah kaget.
"Ayah?"
"Ayah, siapa kakak itu?" tanya seorang anak yang bersama ayah.
"Ayah Hania menantikanmu, Hania merindukanmu ayah, pulanglah."
"Maafkan ayah nak, telah meninggalkan kalian. Ayah sangat bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Ayah tak dapat lagi bersama kalian karena ayah telah menikahi seorang wanita dan sudah memiliki anak. Ini anak ayah nak." ujarnya dengan rasa salah.
"Ayah, mengapa ayah seperti itu? Kami semua telah lama menantikanmu! Ayah, Sinta mohon kembalilah bersama kami ayah. Ayah, sejahat itukah ayah terhadap kami? Mengapa ayah lebih mementingkan keluarga baru ayah dibanding kami yang lebih lama bersama ayah? Sadarkah ayah? Hania menantimu, dia sangat merindukanmu!" ujarku dengan air mata yang jatuh kepipiku. Ayah hanya terdiam, terdiam tak tau apa yang ia ucapkan lagi.
"Ayah, kembalilah. Untuk Hania ayah, Sinta mohon." kataku memohon pada ayah.
"Maafkan ayah nak, ayah sungguh tidak bisa." jawabnya.
Aku hanya bisa menangis dan menangis. Aku pun pergi meninggalkan ayah dan anaknya. Aku pun memutuskan pulang kerumah dengan lemas, dan wajah penuh air mata. Setelah sampai, ibu melihatku.
"Sinta, ada apa denganmu nak?"
"Bu, Hania ada?"
"Hania sedang keluar nak, ada apa? Katakanlah."
"Bu, ayah bu." kataku memeluk ibu sambil menangis dengan air mata yang semakin deras.
"Mengapa dengan ayah nak?" tanya ibu membalas pelukanku.
Kuceritakan semuanya pada ibu tentang kejadian yang baru kudapat. Ibu mengusap air mataku. Tegarnya ibu, hingga ibu berkata "Sudahlah nak, biarkan mereka bahagia. Itu bukan milik kita. Allah yang menentukan nak. Kita harus menerimanya."
"Sinta ga akan rela bu, ga akan. Dia ayah Sinta, dia ayah Sinta dan Hania bu. Dia ayah kami. Ayah kami." jawbaku yang makin menangis.
"Relakan semuanya nak, tanpanya pun kita bisa membimbing Hania. Kita bisa hidup tanpa dia nak. Kita besarkan Hania ya? Belajar lah ikhlas nak. Terimalah takdir bahwa dia bukan milik kita." Aku hanya mengangguk.
Aku berjanji bahwa aku dan ibu akan membesarkan Hania. Aku dan ibu akan membimbingnya tanpa sosok ayah lagi. Dan sampai kini yang aku tahu ia adalah ayahku, ia milikku. Milikku dan milik Hania walau takdir berkata lain.

Sabtu, Mei 19, 2018

Cerpen Terpejam Dalam Diam Karya marda


Terpejam Dalam Diam
Karya : marda 

Malam tampak gelap awan mulai menghitam aku harap hujan turun, aku masih terhanyut dalam lamunan yg membuat aku lupa dalam segala hal suatu hal yg tidak bisa aku jelaskan?? Rasa sakit yg teramat sangat entahlah....!!!! Aku pikir tuhan akan mengerti dan bisa menghentikan rasa sakit ini, iya sakit yg sampai saat ini masih membekas, hingga rasa nya aku membenci siang, dan selalu menanti malam, sejak kepergian nya aku selalu saja berteman akrab dengan yg nama nya rindu, iya....??!! Terlihat bodoh memang, sambil bernyanyi "jangan pergi-pegi lagi aku tak mau sendiri temani aku tuk sebentar saja agar aku tak kesepian !!!" Iya lagu viera kesepian, sejak kejadian itu aku selalu mendengarkan lagu ini dalam setiap lamunan malam ku, duduk disamping balkon rumah aku menatap awan yg aku harap tidak akan bergantikan siang, iya aku selalu ngerasa sendiri, aku tau kok takdir yg tidak pernah bisa ditentang atau pun ditunda adalah kematian, tetapi....!!! Aku sangat percaya kematian hanya perpindahan alam bukan putus nya suatu hubungan, iya ini sudah 1 tahun berlalu, aku mengantarkan seseorang yg sangat ku nanti kan sampai sekarang, meski aku tau dia tidak akan kembali....!!! Iya wanita yang sangat hebat yg pernah ku kenal, dia sahabat aku wanita cantik berparas manis berambut panjang dan bersikap anggun, seribu pujian puisi pun tidak akan pernah seindah wujud diri nya yg ku kenal sewaktu dia masih hidup, entah dengan kata apa aku mengatakan nya atau pun mengungkap kan nya, aku masih sangat merindukan sosok nya, iya.... ketika tuhan menjeput nya sayang sekali aku tidak ada disamping nya atau pun mencoba menguat kan rasa sakit nya, meski rumah kami hanya beda satu blok saja, iya penyesalan yg bodoh !!! Dan sewaktu aku mendengar pengumuman dimushola komplek aku bergegas berlari kerumah nya, aku tepuk kedua belah pipi aku, aku tatap lagi bendera kuning bertajak dan papan nama ditulis kan nama sahabat aku, wajah aku memerah tubuh ku terasa dingin, jantung aku berdegup kencang, tubuh aku terasa melemah, aku langkah kan kaki memasuki rumah nya dengan keramaian warga yg mempersiap kan kedatangan mayat nya, ku lihat kasur kosong yg dibaca kan ibu-ibu komplek surah yasin, aku berteriak!!! "Hentikan,..sahabat aku belom meninggal dia saja tidak berbaring disini,...!!!" Dari arah belakang rumah ada seorang ibu menghampiri dan bergegas memeluk ku dengan tangisan yg tidak kalah histeris dengan ku..."syfa sudah dipanggil tuhan, yg sabar ibu harap dia kembali, dia masih dirumah sakit perjalanan dibawa pulang kerumah semoga dia kembali" iya ibu itu adalah orang tua sahabat aku, air mata aku terus menetes deras layak nya keran bocor, dengan wajah tidak percaya layak nya orang gila, aku menangis tertawa"hentikan...!­!!" Jerit aku sambil berlutut jatuh kelantai, mamah sahabat aku masih memeluk aku dengan erat, iya aku tahu !!! Bukan hanya aku yg tidak percaya, tpi tuhan bukan begini cara nya, (ucap batin aku) tidak lama kemudian datang ambulance, dengan suara yg kencang seolah mengabarkan kesemua warga komp bahwa ada yg berduka hari itu, entahlah lutut ku semakin melemah, dan aku semakin terjatuh rasa nya, bayangan canda nya tawa nya, rasa nya baru kemaren kami banyak berharap dalam larut nya malam atau pun datang nya hujan, tpi apa ini....!!!! Ini bukan harapan tapi mimpi terburuk ku, sahabat aku digotong banyak orang, dan dibaring kan dikasur yg tadi nya kosong, sekarang sahabat aku berbaring disitu, ku tatap wajah nya dengan tajam, ku genggam jemari nya yg sdh dingin dan kaku, ku lihat bibir nya yg sdh tertutup rapat dan mata nya yg terlelap dalam tidur panjang nya, aku tidak bisa menahan tangis ku, aku menjerit ku peluk dia !!! Tidak ada yg melarang aku karna semua orang tau, kami sangat dekat, aku bisikan kata-kata yg aku harap dia dengar dan bisa bangun dari tidur panjang nya, "syfa ??? Kamu pernah bilang aku perempuan yg kuat tegar, kamu sebut aku sahabat, kamu bilang hal yg paling membuat mu sedih ketika meliat aku menangis kan???!!! Lihat aku sekarang sangat sedih ngeliat kamu terbujur kaku seperti ini?" Ucap aku sambil tersendat dalam berbicara, karna tidak tahan melawan tangis dan rasa berduka aku, ku tatap disamping ku ibu-ibu yg ikut terharu melihat keadaan aku, iya keadaan yg terlihat bodoh !!! "Sudah-sudah kamu sayang dia, tuhan lebih menyayangi nya" ucap ibu-ibu disamping ku.
Dan aku belajar merelekan nya dalam rasa takut aku yg teramat sangat dalam duka ku.
Iya itu sdh berlalu, satu tahun yg lalu...!!! Entah kenapa sejak itu aku tidak mengingin kan sahabat lagi, yg aku tahu dia memang sudah pergi tpi bukan berarti hubungan kami putus, dia tetap sahabat aku, malam sudah larut akhir nya hujan turun, terkadang aku suka bermain hujan meski pun sdh larut malam aku bermain dihalaman rumah aku, terkadang aku berjalan disekeliling komp ku, seolah hujan bisa menyampai kan semua rasa rindu ku dan menemani rasa takut aku, aku hanya akan berharap pada gelap dan hujan, yg aku tahu berharap pada cahaya dikalau gelap, semua terasa mimpi buruk, sejak itu aku membiasakan diri bermain dalam semua rasa takut terlelap dalam gelap bermain dalam dingin, dan aku yakin tuhan udah kasih rumah terindah yg aku harap suatu hari nanti !!! Kita bisa bareng lagi kekal abadi untuk selamanya.

Jumat, Mei 18, 2018

Cerpen BINTANG Karya Cikal Aditya


BINTANG
Karya: Cikal Aditya

Hamparan bola cahaya terhampar diatas sana, tepat di atas kepala-ku, dengan jelas dapat kulihat semuanya, nampak indah. Aku suka, aku sangat suka benda itu. Itu slalu membuat-ku merasa tenang ketika semua masalah hinggap di kehidupan-ku. Bintang.
.
Nama-ku Adeeva Afsheen Meysha. Aku sangat suka dengan benda terang bersinar itu, seakan mereka hidup, ku curahkan semua gundah dan masalahaku pada mereka. Aku tau, ini cukup gila. Namun, apakah aku salah?
.
Setahun sudah aku berpisah dengannya, aku tau, kematian bukan akhir dari segalanya. Namun, kami hanya berpindah alam. Aku slalu paham akan hal itu, tetapi masih jauh dari kata ikhlas aku untuk menerima-nya.
.
Avrilio Arsseha, dia adalah lampu terang di hidupku, sosok yang membawaku pada titik kebahagiaan, mengeluarkanku dari dunia yang pana ini. Namun, Tuhan berkata lain, meski aku menyayangi-nya, namun Tuhan lebih sayang dia, dirinya tak lagi bersamaku. Ia telah tenang di alam sana.
.
Setiap air mata ini tak berhenti, menetes menyesali kepergiannya. Jika saja aku boleh memilih, aku lebih memilih tidak bertemu dengannya, daripada harus ku miliki ‘Ginjal’ ini.
.
Setahun yang lalu, aku mengidap Gagal ginjal, aku tau, itu penyakit yang tak bisa dianggap remeh. Putus asa, benci dan tak semangat, itu yang slalu ku rasakan di hari – hariku setelah aku di diagnosa penyakit ini. Ku rentangkan tanganku, berdiri tegak diatas rel, pikiranku kacau, tak ada lagi semangat dihidup-ku.
.
Teriakan peluit kereta api dengan jelas ku dengar, ku pejamkan mata, aku siap, aku sudah siap. Namun…
“Kau, apa yang kau lakukan?”
.
Tubuhku terhempas, aku merasa tanganku ditarik, apa ini adalah syurga? Apa aku telah berada disisi-Mu Tuhan? Ku buka mata, dan samar – samar kulihat pria yang sedari tadi kutindih, ia menatapku heran dengan ekspresi agak marah.
“Kau tau apa yang kau lakukan,Heh?”
“Kau bisa mati.”
“Itulah tujuanku, kenapa kau menyelamatkan ku? Urus dirimu sendiri, dan tinggalkan aku”
.
Aku bangkit, aku tak tahu siapa dia. Namun, itulah awal pertemuanku dengan-nya. Aku slalu menyesal, menangis, Tuhan, mengapa engkau mempertemukan kami? Jika akhirnya kami dipisahkan? Aku lebih memilih mati dengan penyakit ‘ginjal’ku ini.
.
Singkat cerita, aku telah mengenalnya lebih dalam, dia slalu membuatku nyaman, mengembalikan semua semangat hidupku. Membawaku kembali pada kehidupanku sebelumnya.
.
Pandanganku terhalang cahaya, orang – orang berpakaian hijau mengelilingiku, aku tak bisa mengingat apa yang tejadi sebelumnya. Namun, aku tau, mereka dokter bedah. Sesuatu terasa sakit, menancap di tangan kanan-ku. Pandanganku kabur, Gelap.
“Syukurlah kau selamat, Nak”
.
Suara itu aku kenal, ia menangis? Mengapa? Apa aku sakit? Aku mulai sadar, semua orang berkumpul di dekatku, wajah mereka senang, namun menangis. Apa yang terjadi?
“Syukurlah, kami sangat khawatir padamu,Nak”
.
Ibu? Ia menangis? Ayah juga? Apa yang terjadi, setiap sudut ku pandangi. Namun, aku tak menemukannya, aku tak melihatnya, dimana? Diamana dia? Aku berusaha bangkit dan bertanya pada semua orang, mereka hanya menangis dan mengelus rambutku. Dimana Seha?
.
Seminggu aku dirawat, kini aku telah pulih, tubuhku terasa sehat, Dokter mengizinkan-ku pulang. Ayah dan ibuku juga ada, mereka menemaniku pulang. Namun, lagi – lagi, Seha tak ada. Kemana dia?
Aku khawatir, aku slalu bertanya soal Seha, hingga ayahku menjawab.
“Apa? Seha keluar negeri? Dia sekolah disana?”
“Kenapa dia tidak bilang padaku, kenapa dia membuatku cemas? Apa dia tidak memikirkan perasaanku?”
.
Kala itu aku marah, aku kecewa. Ia pergi disaat aku kritis, ia tak datang, ia tak menemaniku dikala ku tak sadarkan diri. Beberapa media sosialnya tak dapat ku hubungi, sms-ku tak dibalasnya, aku sangat khawatir.
.
Hari ini, aku ulang tahun. Seharusnya aku senang, seharusnya aku bahagia. Namun, semua masih terasa kurang tanpa kehadirannya. Teman – temanku mengucapkan selamat, termasuk tamu – tamu yang datang.
“Nak, kami rasa, kami harus memberikan ini sekarang.”
“Ini, Kado dari Seha”
.
Seha? Dia ingat aku ulang tahun? Bahagia, senang. Aku senang dia masih mengingatku. Kubuka dengan cepat Kado itu.
“Halo Mey, Kalo kamu baca surat ini, berarti kamu udah sehat, ya aku harap kamu sehat – sehat aja.
Oh iya, dan kalo kamu baca surat ini juga, berarti aku udah gak ada”
.
Aku berhenti membaca surat itu, aku menatap Ayah dan Ibu yang terlihat sedih. Mata ku menatap kembali tulisan – tulisan itu.
“Maaf, aku ngasih kadonya lebih dulu, aku minta maaf, aku gak bisa hadir di Ulang tahunmu, tapi harapanku, kamu tetap sehat dan terus jalani hidup ini dengan semangat.
Jika selama ini aku gak ada, aku gak pernah jauh dari kamu kok, aku slalu ada didekat kamu. Aku titipkan ‘Ginjal’ku padamu, jaga baik – baik ya”
.
Air mataku menetes, pandanganku kabur, semua terasa seperti mimpi, sesekali ku tampar wajah, aku ingin bangun, aku tak mau bermimpi buruk seperti ini. Aku ingin bangun.
“Nak, sudah hentikan. Apa yang kau lakukan, sudah.”
“Kami tau, ini berat bagimu, tapi cobalah untuk menerima, dan ikhlas”
****
Setahun berlalu, kini aku masih bisa merasakan nikmatnya hidup. Bukan hal yang mudah untuk menerima kepergian seseorang. Aku slalu menyesal, benar – benar menyesal. Kenapa? Kenapa aku harus bertemu dengannya.
.
Malam – malam kuhabiskan dengan menangis, ku ceritakan semua masalahku pada bola – bola cahaya di langit sana, ku titipkan pesan pada mereka, jaga Seha baik – baik. Katakan padanya, “TERIMA KASIH, AKU SLALU MENCINTAI MU”

Terima Kasih, aku sangat berterima kasih, pada kalian yang sudah baca – baca karya saya. Dengan ini, saya semangat dan terus termotivasi.
Ini cerpen Judul “BINTANG”, terinspirasi dari kehidupan SAHABAT saya yang sangat suka dengan bintang, ia slalu cerita tentang bintang. Apalagi rasi Bintang.
Thanks deh, thanks…

Kamis, Mei 17, 2018

Cerpen WHAT ARE YOU WAITING FOR Karya Yuni Adnya


WHAT ARE YOU WAITING FOR
Karya : Yuni Adnya

Siapa juga yang tidak ingin hidup mapan,memiliki keluarga yang harmonis,menjadi pintar,populer dan perjalanan hidup yang menyenangkan lainnya layaknya kisah dalam drama ya kadang hidup memang tak seindah drama yang akhirnya memiliki kisah happy ending ada yang menderita sampai akhir ada yang berjuang mati-matian untuk namanya bahagia ada yang namanya kehilangan untuk dapat merasakan kehadiran,hidup tak selamanya mudah bagai membalik telapak tangan. Mungkin ada yang memiliki hidup seperti layaknya dalam drama namun itu hanya beberapa saja mungkin nasib mereka sangat beruntung untuk dilahirkan didunia ini.Namaku Ara aku siswa kelas 2 sma tahun ini kehidupan yang aku ceritakan tadi tidaklah semuanya akan terjadi, kadang kita akan merasakan yang namanya bahagia lalu disusul oleh sedih ataupun sebaliknya,aku lahir dari keluarga yang biasa,aku memiliki 1 adik laki-laki namanya kiki,tentu saja aku masih memiliki orang tua yang utuh namun begitulah kadang keluarga kami sangat rukun dan sangat behagia namun kadang pula keluarga kami bertengkar hebat mungkin sampai kami berdunya nyaris tak memiliki orang tua, masalah yang dipertengkarkan banyak mulai dari biaya hidup yang semakin tinggi,pengeluaran yang semakin membesar,pendidikinku dan adikku,dan yang paling kubenci adalah adanya orang ketiga yang mengganggu rumah tangga ayah dan ibuku.

Pagi ini seperti biasa aku menjalani rutinitasku untuk sekolah seperti siswa lainnya pulang sekolah aku akan menggantikan ibuku menjaga ruko kecil yang ibu sewa dan ibu akan pergi mencari pekerjaan lainnya,pekerjaan ibu tak tetap selama itu menghasilkan uang dan dapat menutupi masalah ekonomi keluarga kami ibuku akan kerjakan,ayahku? Setauku ayahku hanya seorang karyawan disebuah toko penghasilannya juga tidak seberapa,kiki? Dia adalah anak emas disini dia adalah kesayangan orang tuaku aku tak mengerti kenapa begitu setauku kiki tak pernah membantu apapun pulang sekolah hanya diam dirumah tidur lalu keluar untuk bermain bersama teman-temanya,prestasi? Ia tak pernah mendapat prestasi apapun baik di akademik maupun non akademik dibandingkan dengan nilai rapotku nilai rapot kiki jauh lebih rendah dariku tapi sudahlah aku tak mau mempermasalahkan hal itu toh aku bangga dengan diriku sendiri aku bisa mencari uang sendiri dan membiayai sekolahku sendiri jadi buat apa aku harus iri keinginanku hanya satu karna selama aku sekolah sma aku tak pernah meminta uang kepada orangtuaku untuk biaya sekolah aku ingin orang tuaku menabungkan uang yang seharusnya mereka berikan untukku untuk biaya sekolah sma akan kugunakan saat aku masuk universitas nanti “buk,beli jeruknya ya 1 kg” akhirnya pelanggan datang lagi “oh ia,silahkan dipilih” sahutku “Ara.?” Sontak kata itu membuatku menoleh kepada si pelanggan itu “ee,,kamu.?” “Tan aku Tan,kamu bodoh sekali aku teman sekelasmu kenapa kamu tak tau namaku” ya aku memang bodoh dia adalah teman laki-laki yang satu kelas denganku semenjak penentuan jurusan di kls 2, aku bukannya tak tau hanya karna baru beberapa minggu sekolah jadi aku tak begitu hafal nama teman-teman baruku “Ara,kamu ngapain disini? Oh kamu yang punya ruko ini ya?kok aku baru liat kamu?pasti ini pengalaman pertama kamu ya jadi pedagang?tenang aja orang-orang disini ramah-ramah kok,wahh kamu benar-benar kelihatan sepeti anak orang kaya yang dihukum orangtuanya” bocah ini memang betul-betul “kamu lucu ya” sahutku sambil tersenyum menahan tawa “jangan bilang kalo kamu suka aku ya” sahut Tan yang membuatku tak bisa menahan tawa,aku tertawa di hadapan tan dan aku membalas pernyataannya “dengar ya anak kaya pertama aku memang bodoh karna tak kenal kamu itu juga bukan salahku tak kenal dengan kamu anak yang bermasalah dan sering bolos, kedua ruko ini bukan punya ku ini adalah ruko yang ibuku sewa,ketiga aku memang setiap hari disini dan yang paling penting aku bukan orang kaya” Tan sama sekali tak membalas perkataanku lalu pergi begitu saja dengan ekspresi malu karna ulah sok taunya itu,ku kejar tan yang belum jauh dari ruko “belum puas.?” Aku hanya tersenyum dan memberikan jeruk yang dia beli lalu pergi “makasi” bisikya pelan aku lalu menoleh kearahnya “lain kali suruh ibumu yang kepasar semua jeruk pilihanmu itu asam loh tampaknya ini pertama kalinya kamu pergi kepasar” “chh dia pikir dia ratunya jeruk”gerutu tan sembari meninggalkan pasar.Pagi ini Ara seperti biasa menunggu angkutan umum untuk menuju sekolahnya namun mungkin kali ini nasib Ara agak sial ara terlambat bangun dan saat menunggu angkutan umumpun sangat lama jadi ara putuskan untuk berjalan kaki setengah perjalanan cuaca mulai mendung dan hujan turun,seragam ara mulai basah belum lagi seragam ara kotor terkena ciprtan lumpur saat ara berlari mencari tempat berteduh “haiss sial sekali”gerutu ara sembil membersilkan bajunya “HEI! RATU JERUK! Mau beragkat bareng?” “kau lagi? Aku malas debat denganmu pergilah” “sudahlah jangan menolak naik saja aku sekolah juga karna ingin tertemu denganmu” tan menggandeng tangan ara dan menyeretnya masuk kedalam mobilnya,suasananya sempat hening keduanya memilih untuk saling diam hingga sampai di sekolah ara langsung turun tampa mengucapkan terima kasih atau basa-basi “chh wanita sombong” ujar tan yg juga pergi untuk memarkir dan pergi menuju kelas sampai jam pulang keduanya tak saling bicara atau sapa seperti mereka tak kenal saja “hei wanita sombong mau kuantar pulang?” ajak Tan kepada Ara “tidak,terima kasih” sahut ara lalu pergi begitu saja “okelah” balas Tan lalu pergi meninggalkan ara “dasar ratu jeruk sudah untung mau kuantar pulang dasar sombong arhhh terserah lah aku tak tertarik lagi” gerutu tan di tengah perjalanan pulang “hahhh ternyata ada juga kehidupan drama di dunia nyata orang kaya seperti tan malah sibuk bermalas-malasan tapi tetap kaya sungguh ini membuatku iri” kata ara menuju perjalanan pulang. Hari esok tetap seperti hari-hari sebelumnya tetap dengan aktifitas yang sama pula tak ada waktu untuk mengeluh ara hanya menjalaninya saja sampai akhirnya ara menginjak kls 3 ara tetap begitu menjadi pekerja keras juga sebagai siswa berprestasi sampai ujian nasional tiba ara datang dan masuk ruang ujian “hey” kata itu terdengar dari arah belakang bangku ara “tan? Ngapain?” “menurutmu?ngapain aku di ruang ujian kalo bukan untuk ujian dasar bodoh” “oh” sahut ara singkat,ujian pun selesai semua siswa meninggalkan ruang ujian “mau aku antar?” tawar tan “tidak,trimakasi” “ayolah sekali ini saja aku ulang tahun hari ini tolong temani aku di hari terakhir ujian ini” “oke lah selamat ulang tahun ya”ucap ara sambil mengulurkan tangannya yang dibalas oleh tan yang lalu menggandeng tangan itu meninggalkan sekolah,mereka berdua pergi ke sebuah taman di dekat danau suasananya tak begitu ramai hanya ada beberapa orang yang lalu lalang di tempat itu taman kecil itu hanya ramai dikunjungi saat ada acara-acara tertentu, “kenapa kesini.?” Tanya ara “tak ada aku hanya menyukai tempat ini tidak terlalu bising jauh dari keributan” ara hanya mengangguk dan duduk di samping tan “mau kemana?” tanya tan, “kemana apanya?” “melanjutkan ke universitas,memang kamu akan turun ke dunia kerja? Setelah lulus ini?” “entahlah aku juga tak tau,kamu sendiri bagaimana tan?” “ayahku menyuruhku ikut ibu ke luar negri untuk melanjutkan pendidikan,mereka memutuskan untuk berpisah dan ibuku pergi ke luar negri untuk melanjutkan bisnisnya.” Tangan ara refleks menepuk pundak tan “semuanya akan baik-baik saja tan”. Tan menoleh ke arah ara menurunkan tangan ara dari pundaknya, menarik tangan itu hingga membawa ara kepelukan tan “ara aku menyayangimu,sebelum aku pergi aku ingin mengatakan hal ini,kamu tak perlu merespon pernyataanku cukup tunggu aku hingga kembali” ara hanya mengangguk perlahan mereka mulai melepaskan pelukan mereka wajah tan mulai mendekati wajah ara hembusan nafas mereka dapat saling mereka rasakan tan mencium ara dengan lembut,

***

Setelah itu mereka saling bertatapan dan tersenyum,seperti itulah cara mereka akhirnya berpisah. Setelah sekian tahun berlalu kini umurku sudah 23 tahun sudah saatnya untuk memulai hal yang kuanggap serius dan pada akhirnya kami bertemu lagi semua datang untuk memberikan selamat, gaun putih bersih bersanding dengan lelaki yang menjadi ciuman pertamaku, ya lelaki itu sudah memenuhi janjinya untuk kembali “Tan” tanganku perlahan meraih uluran tangannya “Slamat menempuh hidup baru” ku ucapkan doaku untuk tan dan pempelai wanitanya yang tampak sangat bahagia.
“cintaku,penantianku,berakhir sampai disini.”

TAMAT