Minggu, Oktober 28, 2018

Cerpen Ego By Nita Sisvia

Ego
By: Nita sisvia

Sepenting itukah ego? Kadang hujanpun, tidak pernah sanggup menurunkannya jika sudah terlalu tinggi, kamu pernah menjadikan posisi egomu lebih keras seperti batu bahkan kamu sendiri sulit untuk memecahkanya.

"Azura, " Aku memanggilnya, membujuknya agar mau pergi menjauh wajahnya hampir saja membiru, terkena tamparan Leon, tidak lain adik kandungku sendiri , yang sudah hampir 5 tahun menjadi suami Azura.

"Tapi Kak Ree, Azura, mau minta maaf sama Mas Leon," Azura menangis terisak, memohon agar aku kembali mengijinkannya mendekati Leon.

"Azura, mengertilah! Leon sedang emosi, dan tidak ingin berbicara denganmu," Kataku berusaha, menenangkan Azura. Meskipun dalam hati Azura sedikit kesal, dia tidak pernah paham, sifat Leon, yang sudah bertahun-tahun menjadi suaminya.

Aku ,melihat mama sedikit ketakutan, tanganya gemetar , mengusap rambut Leon berusaha menenangkan, lalu menasehati Leon, bagaimana tangannya tidak gemetar?? Beberapa menit yang lalu mama menyaksikan sendiri Leon mendorong tubuh Azura, hingga jatuh ke lantai.

"Aku ingin bercerai, dari Azura Ma, Leon sangat muak dengannya, aku bisa membunuhnya, kalau Azura tidak segera pergi dari sini," mendengar ucapan Leon, seperti itu aku dan mama sangat merasa panik, berusaha memisah pertengkaran Azuraa, dan Leon.

***
Gadis kecil, bernama Lena, putri kecil Azura memang tidak sepantasnya, menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya, sekali terlihat mata kecil yang masih sangat polos, sangat ketakutan.

"Mas, " Azura mengabaikanku, tetap saja, mendekati Leon yang masih emosi. Dengan nada suara sedikit terbata-bata, Azura masih berusaha meminta maaf, bagi Leon Azura hanyalah seorang istri egois, tentang banyak hal, semisal masalah uang, bahkan Azura sangat jarang sekali memasak masakan kesukaan Leon.Hingga akhirnya kemarahan Leon memuncak saat Azura sering berbicara kotor, dan kasar kepadanya.

"Ree, tolong ajak Azura, masuk kedalam!" Mama memintaku untuk memisah pertengkaran mereka. Sepertinya Azura tidak menyerah, membuat perasaan Leon luluh, menurutku sudah terlanjur mengeras seperti batu.

"Sekarang, kamu bisa bilang minta maaf, besok kumat lagi, kamu mengulangi kesalahanmu Azura?? Aku muak, setiap hari aku kerja banting tulang, demi kamu, juga anak kita, tapi kenyataanya saat aku telat pulang kerja karena lembur kamu menuduhku lelaki malam, lebih baik kita pisah, atau aku bunuh kamu sekarang, " Azura kembali jatuh tersungkur ke lantai , aku dan mama ,gagal, memisah pertengkaran mereka.

"Azura, aku mohon masuklaah ke dalam!" sedikit kesal memaksanyaa masuk ke dalam.Aku takut, kalau sampai Leon menjadi gelap mata.Azura menangis masuk ke dalam rumah, bersama putri kecilnya.

"Demi , anak kalian,!" nada suara mama terisak , meratapi nasib pernikahan mereka.

Mama, masih gemetar menenangkan Leon yang masih emosi.

"Entahlah sampai kapan, ego siapa yang lebih tinggi???"

Cerpen Ego By Nita Sisvia

Cerpen Sepenggal Kisah di Sini Oleh Yan Hendra

Sepenggal Kisah di Sini
Oleh :  Yan Hendra

Dulu bentuk bangunan dan halamannya tidak seperti itu. Berpagar besi atau kawat ayam, gitu. Halamannya luas dan bangunan belum bertingkat agak menjorok ke dalam.

Sekitar daerah tempat itu belum sepadat dan seramai sekarang. Masih banyak rumah berhalaman luas. Salah satunya persis di sebelah kiri bangunan. Pemilik rumah memiliki halaman luas. Di bawah salah satu pohon rindang depan rumahnya, ia membuka warung kecil. Selain kue-kue, roti, mi instan, juga ada rokok dan kopi sachet-an.

Kisah kami tak seindah cerita-cerita remaja yang ada dalam novel. Ia sepertinya tak menginginkan saya datang sekadar memperkenalkan kepada teman-teman dekat lalu mengatakan, “Kenalin, ini ... mmng ... pacarku.” Saya hanya boleh bermimpi, sebab jangankan seperti itu. Bahkan niat untuk memperkenalkan saya dengan teman-temannya dalam bentuk dan suasana apapun tak ada dalam pikirannya.

Ia juga tak pernah mengajak jalan-jalan ke berbagai tempat yang ada di sana. Mungkin nonton, lihat daerah wisata, atau sekadar makan bakso berdua. Tidak. Walaupun saya yang bayar. Saya datang ke rumahnya, lalu mengobrol dengan seisi rumah. Sudah selesai, ya pulang!

Kesepakatan yang tak pernah kami ikrarkan adalah: saling mempercayai. Dan itu berjalan hingga kini.

Hal menarik adalah ketika seorang temannya bertamu ke rumah. Saat itu saya ada. Dia sungguh kepo. Satu pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam benak adalah: ‘Masa iya cowok Jakarta bisa setia? Jangan-jangancewek di sini hanya untuk sekadar mainan.’

Namun yang keluar dari bibirnya adalah, “Yakin kalau dia nggak punya cowok? Segitu percayanya?”

Itu diucapkan ‘sang teman’ sambil berbisik menjelang sesi makan siang saat penghuni rumah sibuk menyiapkan segalanya.

Bagi saya pertanyaan itu adalah sindiran halus, tapi saya tak menghiraukan dan tetap menjawab dengan benar.

“Saling percaya saja,” kata saya.

Saya merasa ‘sang teman’ mencibir mendengarnya. Jawaban itu mungkin klise baginya.

Sebagai seorang gadis kampung yang lugu, ia tak punya banyak intrik dalam benaknya. Melihat saya setia, ia percaya. Ia mungkin pernah melakukan scan lewat detektor hati. Siapa yang tahu?

Lalu saya?

Tentu saja tak bisa percaya begitu saja, karena saat itu saya sedang mencari istri, bukan pacar. Tahu warung sebelah kiri sekolah yang diceritakan di atas? Nah, saya suka duduk di sana sambil minum kopi. Memandang penghuni gedung sebelah saat pulang.

Tak pernah sekali pun saya lihat ia pulang sambil berjalan bersama seorang lelaki. Atau sore hari saat ia ikut bantu sang bapak berjualan di pasar, tak pernah terlihat bercanda ria dengan begitu akrab dengan laki-laki.

Apakah Ia tahu saya memperhatikannya di warung sebelah sekolah, atau warung rokok dekat pasar? Sama sekali tidak. Setelah kami menikah baru saya beri tahu.

Ia menggeleng-gelengkan kepala.

Kalau datang ke rumahnya jam satu siang, artinya sebelum jam segitu saya sebenarnya sudah datang dan mangkal di warung sebelah sekolah. Kalau datang usai maghrib, artinya saya sudah tiba siang hari dan mengawasinya hingga petang.

Aktivitas yang kedua itu yang membuat saya kadang tiba di Jakarta menjelang dini hari. Atau terpaksa menginap di motel. Bahkan pernah menggelandang di terminal.

Cerpen Sepenggal Kisah di Sini Oleh Yan Hendra

Minggu, September 30, 2018

Cerpen Kita Berbeda oleh Yan

Cerpen Kita Berbeda

Kita Berbeda
Oleh: Yan

Apa yang bisa dilakukan di pojok ruang ketika kita reuni untuk kesekian kali. Kau sunyi, aku sepi. Kita buat orkestra dengan irama satu per satu. Ada gitar tanpa senar, drum tanpa tabuh, dengan biola tanpa bow. Cukupkah?

Sebenarnya aku ingin pergi. Tanpamu, juga mereka. Tempat di mana kaki enggan lagi melangkah. Duduk berpayung angin di bawah rindang langit lalu mendengar musik tanpa suara.

Ya hanya aku yang mendengar. Mereka biasa menyebutnya egois. Kau mengerti bila aku tertawa. Sebutan itu aneh. Seperti ludah yang dicipratkan ke atas. Jadi sebaiknya kita bernyanyi apa?

Aku hanya ingin membisu dalam diam. Suara tak lagi berguna ketika telah terjual. Meski kau ganti dengan rekaman, itu basa-basi. Kau mengulang apa yang telah dikatakan. Oleh karena itu aku tak menjawabmu. Jadi duduklah yang manis saat aku memandang ke kanan, maka hadapkan wajahmu ke kiri. Karena begitulah adanya. Kita berbeda.

Sabtu, September 29, 2018

Cerpen Emas Kerajaan Oleh Erza El Ghabiy

Cerpen Emas Kerajaan

Emas Kerajaan
Oleh: Erza El Ghabiy

Seorang Raja sedang gundah gulana terhadap perdagangan emas di kerajaannya. Banyak laporan masuk bila emas di kerajaannya sudah tidak murni lagi. Sang Raja kemudian berinisiatif untuk mengungkap masalah tersebut dengan tangannya sendiri. 

Dalam penyelidikan, Raja harus menyamar menjadi rakyat biasa dan mulai berkeliling ke sekitar toko-toko emas. Didapatilah tiga penjual emas sedang berbincang-bincang.

Ujang : "Aku sudah mencampur emas jualanku dengan 1/4 tembaga kedalamnya."
Anang : "Sedang aku mencampur 1/2 tembaga pada perhiasan yang kubuat."
Kasep : "Aku berbeda dengan kalian. Aku hanya memberi tembaga dengan harga emas."

Raja agak kesulitan untuk memahami maksud perkataan pedagang ke tiga. Setelah sedikit menggali informasi tentang pedagang ketiga alias kasep, raja kembali ke kerajaan. Titah perintah penangkapan pada kasep dikeluarkan.

Setelah Kasep dihadap Raja, Raja bertanya, "Bagaimana kamu bisa memberi pelanggan perhiasan tembaga, sedang mereka kasih kamu emas untuk dibuat?"

"Wahai Raja, tidak hanya pada rakyatmu, tetapi aku juga bisa perlihatkan padamu bagaimana aku melakukannya," jawab Kasep.

Pikir raja tambah heran, maka ia putus untuk mengujinya. Kasep lalu diberikan emas oleh raja untuk membuat kalung emas yang cocok dengan putri raja. Pembuatan perhiasan hanya boleh dilakukan di ruang khusus di istana. Kasep dikawal oleh beberapa prajurit penjaga.

Setelah sore Kasep akan pulang ke rumah, tentu saja emas raja itu tidak boleh di bawa pulang. Sampai di rumah ternyata Kasep kembali bekerja, ia membuat perhiasan yang sama dengan yang ia buat di kerajaan, tetapi menggunakan 99% tembaga. 

Ketika kedua perhiasan tersebut selesai dan besok akan diserahkan pada sang putri. Seperti biasa Kasep katakan pada istrinya, "Persiapkan yogurt dalam ember, sebelumnya kautaruh perhiasan tembaga ini di dalamnya. Besok kaubawa itu yogurt berkeliling istana sambil berteriak menawarkan."

Tiba hari ditunggu, Raja sedikit senang karena ia merasa menang. Si Pengrajin emas itu selalu di jaga ketat dalam pengawasannya, dan emas itu tidak pernah keluar dari ruangannya.

"Wahai Raja, untuk tahap terakhir perhiasan ini harus dicelupkan ke yogurt agar lebih berkilau," tawar Kasep.

Raja menyetujuinya. Di saat yang bersamaan terdengar suara samar dari luar istana yang hendak menjual yogurt. Dipanggillah penjual Yogurt–istri Kasep–itu.

Tak menunggu lama Kasep langsung menyelupkan perhiasan emas ke dalam ember yogurt, sementara dari dalam ember tangan Kasep sedang bergerak menukar perhiasan emas dengan perhiasan tembaga yang sudah dipersiapkan istrinya. Usai dibersihkan dari sisa yogurt, perhiasan itu dipakaikan pada sang putri.

Tertawalah Kasep bersama istrinya saat kembali pulang ke rumah. 

Jumat, September 28, 2018

Cerpen Kematian Seseorang Oleh Zangi Dost

Cerpen Kematian Seseorang

Kematian Seseorang
Oleh: Zangi Dost

"Berbagilah, meskipun dengan cara yang orang lain pun tidak mengerti jika kita sedang berbagi." Begitulah nasihat yang ia dapat saat itu, ketika diaa hendak menyimpan kesakitan hidup seorang diri.

Nyatanya nasihat itu sedikit manjur, perlahan ia membuka diri, memilih siapa yang pantas dijadikan teman. Namun semua itu tidak selamanya, sebab ternyata menaruh kepercayaan kepada manusia seperti membawa telur di atas kertas basah, mudah jatuh dan hancur.

Setelah itu dia kembali berjanji untuk menyimpan segalanya sendiri, terlebih kesakitan. Akan tetapi setiap kesakitan yang mendera hati malah membuat depresi. Kenyataannya ia tidak setabah matahari yang membakar diri hanya untuk dipandang terang oleh yang lain.

Hampir dia mau bunuh diri. Orang itu tidak mengerti apa tujuannya terlahir, yang ia dapati dari kehidupan hanya kesakitan, kesakitan, dan kesakitan yang perlahan-lahan menciptakan kebencian teramat dalam terhadap segala yang berbau kebahagiaan.

Di dunia ini, orang itu merasa hanya dialah yang tidak pernah merasakan kebahagiaan. Jangankan untuk merasa, berkesempatan bahagia pun tidak. Ia menjadi lebih diam dari yang diam, setiap hari hanya mendekam di ruangan meruntuki kehidupan.

Tak ada yang memedulikan, ia mengasingkan diri dan terasing, ia membenci dan dibenci. Bahkan dalam hati muncul sebuah tanya, "Apakah aku masih bagian dari manusia?"