Rabu, Desember 27, 2017

Cerpen Nasihat Ibu Karya Awany Sri Bulan

Cerpen Nasihat Ibu Karya Awany Sri Bulan


Nasihat Ibu

Karya : Awany Sri Bulan

Malam minggu... Untuk kesekian kalinya Ci Mei Hua memintaku nginep di agen lagi. Biasa buat menemaninya ngobrol. Pastinya tempatnya di ruang depan agen yang banyak barang dibelakang kotak berat. Buat keluarga kami, keluarga 'Zhao', itu base camp favorit ternyaman buat interaksi. Di tengah ngobrol, tiba-tiba Ci Mei Hua bertanya, "Zhao Yue, di rumah kamu kalo malam minggu begini kira-kira ada yang nyamperin kamu buat ngapelin gak?”
Aku langsung menaikan alis sambil sedikit memonyongkan bibir. 
"Yach, mana aku tau, Ci! Soalnya tadi gak ada yang janji." Ujarku. 
"Ought, begitu? Gimana klo malam minggu ini ada yang apelin kamu tanpa ada janji dulu sama kamu?" Aku merasa Ci Mei Hua ini sedang mengetes! Lalu kujawab, 
"Ah, biar saja. Paling sama Bapak di suruh pulang. Atau di ajak Bapak main karambol sambil nonton bola sama sekalian taruhan! Siapa yang menang biasanya di suruh beliin nasi goreng spesial. Soalnya biasanya bapak selalu kalah main taruhan. Tapi Bapak suka aja!"
"Ha-ha-ha..." Ci Mei Hua tertawa. 
"Bapakmu ada-ada saja yaa!" 
"Yaa begitulah Ci, Namanya juga orang tua." Sahutku santai. 
Tanpa sengaja aku kedua mataku tertuju pada warung bakso Arwan di seberang sana. Bagaikan hantu seketika saja Arwan terlihat muncul di depan warungnya tanpa ketahuan dari mana jalan keluarnya. Kulihat penampilan Arwan cukup keren dan ganteng malam ini. Pasti Arwan mau apel kerumah Joana.
Jadi miris sendiri, gimana tidak? Akukan jomblo? Kapan aku diapelin cowok ganteng n' keren kayak Joana? Aku terus menatap. Terlihat langkah Arwan yang begitu bergegas. Aku menatapnya sampai jauh. Sedangkan Arwan tak sekalipun menoleh padaku! Huftt... Koq rasanya berasa ngenes yaa!
Tapi tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Lucunya gak lama hujan turun, kulihat Arwan balik lagi kewarung baksonya sambil berlari. Aku bengong! Lho? Gak jadi ngapel? Gara-gara turun hujan? Aku gak habis pikir. Saat masih berlari Arwan sempat menoleh padaku. Arwan tertawa karena malu. Akupun juga tertawa demikian pula Ci Mei Hua yang turut melihat. "Kasiaan..." Guman Ci Mei Hua. "Siapa yang kasian?" Sebuah suara sekita muncul.
Itu suara Zhao Ren yang begitu keliatan sosoknya langsung mengambil tempat di sampingku. "Tuh, si Arwan mau apel gak jadi gara-gara." Seruku. 
"Ought..." Zhao Ren manggut-manggut. 
"Klo githu aku beruntung banget dong!" 
"Beruntung gimana?" Aku gak ngerti. 
"Aku beruntung, soalnya tampa susah-susah ngapel aku sudah di apelin sama jejeku yang cantik ini..." Zhao Ren langsung melingkarkan tangannya di bahuku. Tapi aku langsung menunduk, 
"Hoem..." Aku pura-pura muntah. Zhao Ren tertawa kecil. Aku tau Zhao Ren bercanda. Ci Mei Hua tertawa lagi.
"Kalian ini. Kenapa gak pacaran sekalian sih? Kalian sebetulnya sangat serasi lho!" Ujar Ci Mei Hua. 
Aku terdiam. Tapi Zhao Ren langsung menanggapi.
"Gak mungkin, Ci. Kita sudah terlanjur bersama dari bayi. Gak mungkinlah kita punya hubungan selain sodara." 
"Kenapa bisa begitu? Kalian kan gak sedarah." Tanya Ci Mei Hua. 
"Memang, tapi yang jelas aku hanya menginginkan sosok Jeje dari diri Zhao Yue!" Jelas Zhao Ren. 
"Apa keinginan kamu itu gak munafik? Selama ini yang aku lihat kalian berdua selalu bersama dan saling melengkapi. Gimana kalau kelak kalian punya pasangan masing-masing? Apa kebersamaan kalian tidak terasa percuma." 
"Gaklah Ci," Zhao Ren menukas.
"Mungkin Ci Mei Hua kurang tau. Klo kebersamaan keluarga kita berdua sudah ada dari jaman kakek dan nenek moyang kita. Tapi takdir kita hanya sebagai dua keluarga yang saling bersahabat tanpa ikatan perkawinan."
"Jadi gak ada yang percuma, Ci. Yang namanya sodara kan gak harus sedarah. Kalo memang benar sehati-sejiwa setiap melihat raganya mata batin akan melihat darah sendirinya sedang mengalir di tubuhnya. Ikatan kita kuat, Ci." Aku menambahkan.
"Jadi itu alasannya kalian terus bersama?" Selidik Ci Mei Hua. "Gak juga! Karena nasehat Mama!" Bantah Zhao Ren. "Juga Ibuku." Aku menguatkan.
"Sebagai anak, gak mungkinkan kita membantah? Dan kita juga harus berbakti." 
Ci Mei Hua mengangguk pelan dengan muka serius. Semoga kelak tak ada lagi ledekan bila aku sedang bersama Zhao Ren!

Selasa, Desember 26, 2017

Cerpen The Confession Karya Opant Anata

Cerpen The Confession Karya Opant Anata

The Confession

Karya : Opant Anata

Memiliki hubungan spesial dengan rekan kerja seperti memiliki dua sisi. Kita bisa saling bertemu tapi profesionalisme membuat batasan tersendiri. Seperti yang dialami Andi dan Siska. Mereka memang sering berjumpa dan dari sana benih-benih asmara pun timbul.
Setelah tujuh bulan berpacaran, tampaknya Siska ingin melanjutkan hubungan itu ke tahap serius. Sebab penghasilan keduanya dirasa cukup untuk mengadakan resepsi pernikahan sederhana. Andi pun berpikiran sama, hanya saja kali ini harus terganjal dengan pekerjaan yang begitu banyak. Sehingga pikirannya sedang sulit jika harus terbagi fokus.
Dua bulan berlalu, Siska merasa bahwa percakapan mengenai pernikahan selalu dihindari oleh Andi. Namun Siska mencoba sekali lagi untuk memastikan keseriusan Andi. Kebingungan diperlihatkan oleh keduanya. Bagi Andi, keputusan itu harus dipikirkan matang-matang olehnya. Bagi Siska, hubungan mereka yang tak jelas membuatnya ingin putus. Namun Siska ragu memulai dari awal kembali dengan orang lain. Kegusarannya ia tunjukkan dengan tanpa kata.
Beberapa hari ini Siska tak banyak bicara dengan Andi. Hal itu jelas membuat Andi merasa bersalah. Ia tahu bagaimana kekasihnya itu menunjukkan amarahnya. Diam adalah hal yang Andi takutkan. Ketika ia mencoba bicara, Siska selalu membalas dengan singkat atau berpaling dan memilih fokus bekerja.
Pada akhir bulan, hampir separuh pegawai lembur untuk menyelesaikan tugas. Termasuk Andi dan Siska, akan tetapi bagi Andi terasa gusar dan tidak tenang dalam hatinya. Selain ia merasa bersalah pada Siska, ia pun cemburu kala pria-pria mendekati kekasihnya tersebut. Andi ingin sekali bicara padanya, tapi ia menunggu saat yang tepat.
Ketika para pegawai mulai pulang, Andi pun mendekati Siska. Meski sedang bekerja, Siska dapat membagi pikirannya untuk Andi. Hanya saja perbincangan itu tampak tak baik.
"Siska, kau masih marah padaku? Aku memang tak bisa mengekangmu, meski aku sebenarnya masih kekasihmu. Tapi ketika banyak pria mendekatimu, itu membuatku cemburu. Aku ingin kau tetap di sisiku. Seperti saat dulu." Andi mengungkapkan isi hatinya.
"Aku hanya bersikap seperti rekan kerja pada semua orang." Siska berkata singkat dan Andi seperti terlukai hatinya.
"Iya, dan kau juga begitu padaku. Aku masih kekasihmu!" Andi mulai terbawa perasaan dan ucapannya bernada tinggi.
"Apa kau juga menganggapku begitu? Kau selalu menghindar jika kita bicarakan hubungan kita. Kau juga tak pernah menanggapiku saat kita bertemu. Apakah itu sikap sebagai seorang kekasih?" Siska mulai kesal dan meluapkan emosinya.
"Setidaknya kau tidak memicu kecemburuanku dengan berjalan bersama pria lain. Jika perlu esok atau lusa kita melangsungkan janji suci, hanya kita berdua. Agar kau tidak bersikap seperti wanita yang menjajakan diri untuk mereka." Andi bertambah kesal dan perkataannya melukai hati Siska.
"Plak ... Aku tidak ingin menikah dengan orang yang egois sepertimu!" Siska menampar Andi lalu pergi.
Siska pun beranjak menjauh untuk menenangkan diri, dan Andi merasa begitu bodoh dengan kata-kata kasar yang ia lontarkan. Setelah ia berpikir kembali, ia sadar dengan kesalahannya kali ini. Saat Andi memandang meja kerja Siska, ia pun kembali untuk meminta maaf.
"Siska maafkan sikap kasarku. Semua masalah yang datang pada hubungan kita membuatku tak berdaya. Aku sayang padamu. Maksudku, aku tak ingin kau pergi jauh dariku. Bila perlu, tampar aku sekali lagi, berkali-kali jika itu dapat membuatmu memaafkan aku." Andi tertunduk dan mengakui kesalahannya.
"Aku masih sayang padamu. Kumohon kau jangan lagi mengacuhkanku. Aku ingin kau selalu hadir untukku. Entah berapa kali aku pun melukai perasaanmu, aku menyesal kita tak bisa sehangat seperti dulu kala." Siska begitu baik dan dapat memaafkan kesalahan Andi.
"Aku akan mencoba merubah sikapku. Aku merasa malu jika aku ingin menikah denganmu, tapi sifat dan sikapku belum dewasa serta lebih baik. Aku ingin kau selalu bersamaku. Kamu adalah yang terbaik yang aku miliki," ucap Andi.
"Sudahlah, aku tak ingin kau berlama-lama larut pada kesedihan dan rasa bersalahmu. Namun ... Aku tak bisa menjawab permintaanmu kali ini, maaf!" Siska menolak permintaan Andi dan membuat Andi kebingungan.
"Jika aku masih memiliki kesalahan, tolong maafkan aku, tampar saja aku! Mengapa kau lakukan ini padaku?" tanya Andi yang merasa kecewa dengan jawaban Siska.
Siska kembali beranjak dan berlari menjauhi Andi. Namun kali ini Andi mengikuti Siska yang tampak pergi menuju lift. Saat pintu lift terbuka, Siska pun masuk. Namun kala Andi berbelok untuk turut masuk. Ia menabrak Security yang melangkah keluar.
"Awas, Pak! Kau menghalangiku. Aku harus mengejar kekasihku. Ia akan pergi," ucap Andi.
"Pak, pak Andi ... Hey, pak Andi, sadarlah dan dengarkan aku!" Security itu membentak Andi.
..
"Aku datang kemari untuk memberi kabar, bahwa aku menemukan Nona Siska tergeletak di tangga darurat. Sepertinya ia terjatuh dari lantai (7) ini hingga berhenti di lantai tiga. Aku sudah menelepon dan menunggu kedatangan ambulans. Saya harap bapak bisa tenang sekaligus turut membantu mengangkat jasad beliau." Security tersebut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi ... Tadi ... Siska ...." Andi bicara terbata-bata dan tak sadar air matanya mengalir.
Andi melangkah perlahan saat ia mengikuti Security mendekati jasad Siska yang tergeletak. Ia terkejut dan menutup mulutnya yang menganga. Lalu ia mulai menangis histeris sambil mencoba membangunkan Siska.
Terasa sakit hati saat ia menyadari bahwa sedari tadi ia berbincang dengan arwah Siska. Andi meminta maaf atas segala hal dan tampaknya memang itu yang diinginkan agar Siska mengetahui. Andi pun tak bisa berhenti bersedih mengingat semua perkataan yang terlontar dari Siska. Baginya, ia telat menyesali kesalahannya. Sebab adanya kemungkinan Siska terjatuh karena memikirkan kata-kata kasar yang ia ucapkan. Namun ia ingat bahwa Siska ingin Andi tetap menemuinya, Andi pun baru sadar bahwa itu adalah di pembaringan terakhir (pemakaman) Siska.

- selesai -

Cerpen Gara-Gara Kates Karya Airi Cha

Cerpen Gara-Gara Kates Karya Airi Cha


Gara-Gara Kates

Karya : Airi Cha

Tiba-tiba saja seperti dikejar setan, Joena melompat dari pagar kebun milik Pak Kepala kampung, Yan. Wajahnya terlihat begitu berbeda, ia berlari tanpa melihat kiri dan kanan. Maklumlah Joena berlari di pematang sawah.
"Woiii! Warga kampung Cerpenku, kumpul semuaaa!" teriak Joena histeris seakan sedang menyaksikan konser artis papan atas, Bang Iwan.
Sekejap saja seisi kampung yang sedang rehat, berhamburan dari dalam rumah masing-masing. Sutini terlihat menenteng guling busuk. Maklum matanya baru akan terpejam dan berlayar, tapi tiba-tiba saja pemilik suara cempreng itu menganggu ritualnya. Lain lagi dengan artis tiga abad, Dian Sosor bebek, dia muncul seperti Petruk. Lengkap dengan masker lumpur lapindo yang masih mengeluarkan asap.
Arman, Bcpr, Miliani, Gupron dan si Mbah serta Tio ga mau kalah. Dengan sarung yang nyaris melorot mereka balapan untuk sampai terlebih dahulu kehadapan Joena. Bagi mereka jarang-jarang cewek dekil sekelas Za membawa kabar heboh. Biasanya sih doi hanya doyan molor sambil membuat peta pulau seindonesia.
"Ade ape lu, Duyung? Siang lobong berisik dimari?" Iyem mengintrogasi. Sementara Joena sibuk mengatur napas.
"Tarik, tahan, hembuskan perlahan," intruksi Sutini demi melihat si Jerapa mendadak benggek. Joena mengikuti segala perintah si penjual nasduk yang punya body luas kayak lapangan bola itu.
"Tarik, tahan, hembuskan perla ..." ucapan Tini mengantung karena tiba-tiba.
Preet ... preet ... preeet!
Iyem mendadak mengeluarkan bom tak berwujud tetapi mematikan.
"Busyet dah, Mbak Mus! Udah berisik, bau lagi kentutnya," protesku sambil pake masker anti radiasi.
Pletak!
"Diam lu Chadoet!" ucapnya dengan tangan memegang bakiak yang baru saja buat getok palaku.
Arman, Bcpr, Miliani, Tio, serta Gufron tidak berani protes apa pun. Bagi mereka mencari aman dengan cara tutup mulut dan mencium aroma gas Iyem secara diam-diam, itu lebih baik. Dari pada harus rela kepala jadi peank.
"Eh, Duyung! Lu bawa kabar apa? Sampai kayak orang kesirupan?"
"Kesurupan kali, Mbak." Aku protes pada lidah Iyem yang sering kepeleset. Mendadak Iyem membulatkan matanya sebesar biji kedondong. Terang saja kami semua jadi gemetaran. Bukan karena takut, hanya menjaga kemungkinan agar bola mata Iyem ga berloncatan kesana kemari.
"Subahanallah, Yem! Manteman. Luar biasa," ucap Za sambil mengusap wajah.
"Apanya yang luar biasa, Mpok?" tanya Arman penasaran.
"Iya, apaaa!" Sambut kami dengan koor berjamaah.
"Kalian pasti kagak percaya kalau Gue kata," ucapnya semakin membuat penasaran.
"Iye! Lu kate-kate aja, Za." Sewot Tini sambil nguyeng-nguyeng guling busuknya.
"Biar jelas, Gue bawa aja Lu semua ke kebun Pak Yan. Lebih afdol," ucap Za seraya mengajak mereka.
Maka seperti pasukan berani mati, mereka mengikuti Za ke kebun Pak Yan. Tak lama kemudian, sampailah mereka.
"Noh liat," ucapnya sembari menunjuk ke satu arah.
Spontan para hadirin mengikuti arah telunjuk, Za. Termasuk aku.
"Luar biasa, baru kali ini aku melihat pohon pepaya berbuah kates. Ini benar-benar nyata." Berapai-api Za berujar.
Pletaakk!
"Huuu!" teriak para hadirin kecewa.
"Lu mau Gua karungi ya, Duyung?" ancam Iyem dengan kuping berasap.
"Lha salah Gue apa, Yem? Itu kan sesuatu banget!"
"Salahnya! Lu lupa bangun Jerapa! Pepaya, kates, gandul, betik, itu podo wae, sami mawon. Kagak beda!" teriak Iyem.
Lalu ....
"Tangkap, tangkap! Karungi, buang ke laut!" teriak para warga yang merasa dikadali, sambil mengejar Joena yang sudah ngacir terbirit-birit.

Senin, Desember 25, 2017

Cerpen Tidak Berguna Karya Nizam Al-Kahfi PKB



TIDAK BERGUNA
karya: Nizam Al-Kahfi PKB


Masih awal pagi, toko-toko lainnya masih tutup, yang buka hanyalah warung-warung makan dan minum. Aku baru selesai minum. Memang lengang Jalan Bundo awal-awal pagi seperti ini. Aku tampak seekor anjing mencium-cium sesuatu di seberang sana kemudian ia membawa benda itu dengan mulutnya. Ketika ia sudah dekat, aku tampak benda itu seperti tangan yang terputus - mungkin saja tangan boneka. Lembar koran bergulingan ditiup angin perlahan, angin itu berubah jadi angin pusar dan kertas suratkahbar ikut berputar-putar naik kemudian jatuh ketika angin itu berhenti dan hilang. Aneh juga karena angin pusar biasanya hanya ada tengahari atau ketika cuaca sudah panas terik. Seorang pria tua berambut dan berjenggot putih menegurku.

"Maaf," katanya. "Aku terlambat datang. Sudah lama menunggu?"

Sebenarnya aku bukan menunggu; aku cuma berdiri-diri sambil mencungkil-cungkil celah gigi. Aku baru tahu ada toko di sebelah kiriku ini. Ia memasukkan kunci dan membuka pintu tokonya. Pintunya antik, kecil dan hanya bisa dilalui oleh satu orang saja dalam satu waktu. Toko ini menarik perhatianku karena papan labelnya: MENJUAL BARANG-BARANG TIDAK BERGUNA. Menurutku ini agak lucu; jika barang-barang itu tidak berguna siapa pula hendak membelinya.

"Silahkan masuk! Silahkan masuk!"

‍‍Aku mengikutinya naik tangga ke lantai satu. Memasuki tokonya ini, aku hampir-hampir saja tertawa. Memang barang-barang yang dijualnya ini barang-barang tidak berguna: sepatu buruk yang cuma ada sebelah, buku sekolah yang sudah setengah terbakar, celana dalam yang sudah koyak, boneka yang kehilangan tangan, dan segala macam barang yang sebagian pernah aku dan kaumiliki, dan sekarang tidak berguna lagi; barang buangan. Tidak ada satu pun benda yang aku mau.

‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍Ia mambawa aku masuk ke ruang kedua. 

‍‍‍‍‍‍ ‍‍"Ini tempat binatang-binatang piaraaan yang tidak berguna." 

Di sini ada kucing, anjing, kelinci, berbagai jenis burung dan hewan-hewan lain, semuanya di dalam kurungan, tunduk-tunduk, kurus-kurus, berpenyakit, senyap, setiap mata kurasa memandangku seolah-olah aku yang bersalah.

Ia membawa aku masuk ke ruang ketiga.

 ‍‍‍"Ini tempat orang-orang yang tidak berguna," ujarnya.

Di sini ada bayi-bayi yang baru lahir, anak-anak yang kelaparan, remaja pria dan perempuan, aku juga nampak orang dewasa sepertiku, masing-masing mereka menyepi, berpikir berat dalam kurungan. Kemudian aku terlihat dalam beberapa kurungan ada bapa-bapa, ibu-ibu dan nenek-nenek, tunduk-tunduk memeluk lutut. Aku ingin keluar secepat mungkin dari toko ini. Aku tidak ingin melihat semua ini.

"Anak-anak manalah yang sangat kurang ajar dan durhaka ini?" kataku kesal. "Mereka tidak berguna lagi akan orang-orang tua mereka!"

‍‍‍‍‍‍Kemudian orang tua berambut dan berjenggot putih menarik tanganku dan membawa aku ke satu kurungan.

Di situ aku melihat ibuku yang sudah tua duduk memeluk lutut. Ia memandangku seolah-olah tidak lagi kenal kepadaku. Di satu kurungan aku melihat ayahku yang sudah 10 tahun meninggal dunia.
‍‍‍‍‍‍ ‍‍
Aku merenggut dan menarik jenggot orang tua pemilik toko. Aku tidak peduli orang-orang lain itu, tapi mengapa pula ibu dan ayahku berada dan dikurung di sini? 

"Sejak kapan kau mengurung orang tuaku?"

"Ibumu sejak tiga tahun lebih," katanya, "dan ayahmu sejak 9 atau 10 tahun - aku sudah tidak ingat lagi."

"Kau memang kurang ajar!" Aku segera meninggalkan toko ini.

"Aku cuma menjual barang-barang yang tidak berguna." Orang tua itu menertawakanku. Tawanya bergaung.

Aku terus ke mobilku dan menyetir menuju ke desa. Bukan jauh sangat cuma perjalanan lebih sedikit dua jam. Ibu duduk-duduk di luar rumah. Melihat aku datang wajahnya terus berseri-seri. Entah, mungkin saja duduk-duduknya itu duduk menunggu kepulanganku. Dengan bersusah payah ia bangun menggunakan tongkat untuk menyambut kedatanganku, jalannya tidak teguh, aku mengambil dan mencium tangan yang hanya dibalut kulit, terasa tulangnya gemetar. Tangan yang gemetar inilah yang telah membesarkanku, membelai-belaiku, membersihkan najis dan kekotoranku, menyuapi makanan ke mulutku, memberi aku minum saat aku kecil dan tidak berdaya, saat aku sakit, sekarang tangan-tangan ini sudah tinggal tulang, tidak habis-habis ketarnya, dan dengan urat-urat yang timbul. Aku memimpin ibuku masuk ke rumah, jalannya lambat sekali, goyah dan susah. Sangat susah. Entah selama ini siapa yang telah baik hati menjaganya. Ibu tidak pula menyoal kenapa aku tidak pulang-pulang sudah lebih tiga tahun - bahkan hari lebaran pun aku tidak menziarahinya.

"Besok-besok jika kau ada waktu Nak," kata ibu, "bawa ibu menziarahi kuburan ayahmu - sudah lama kita tidak menziarahi kuburnya."

‍‍‍‍‍‍Pagi itu juga aku memandikan ibuku, menggosok daki dan kulit-kulit mati di belakangnya, menyikat rambutnya. Setelah mandi, tolong memakaikan pakaian yang bersih. Ada orang berbaik hati menyumbangkannya pakaian, terima kasih, terima kasih, seharusnya akulah yang memedulinya. Aku tidak menunggu besok-besok lagi, aku membawanya ke pusara ayah pagi itu juga. Semenjak ayah meninggal aku tidak pernah ke makamnya.

"Ayahmu membutuhkan doa anaknya," kata ibu.

Meskipun sudah lebih tiga tahun aku tidak menjenguk ibu, sedikit pun aku tidak melihat tanda-tanda kesal pada wajahnya. Aku rasa ia tidak pernah merasa kesal karena aku adalah anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan.

Minggu, Desember 24, 2017

Cerpen Kempling dan Wataknya Karya Yan Hendra

Kempling dan Wataknya
Karya : Yan Hendra


Sejujurnya, pertama kenal Kempling, saya merasa takut. Wajahnya seperti penjahat yang sering saya lihat di film-film. Tatapannya seperti elang siap menerkam mangsa. Dia pun perokok, sesuatu yang saat itu tabu di masyarakat, sebab usianya belum genap dua belas tahun. Saya tidak tahu apakah dia masih bersekolah atau tidak. Mungkin drop out, sebab tidak sekali pun pernah melihatnya mengenakan baju seragam.
Beberapa teman melarang saya untuk berdekatan dengannya. “Kempling bergajul, merokok, dan tidak pernah salat,” kata mereka. “Dia juga suka menggoda cewek, begadang tiap malam di tempat orang-orang bermain judi.” Tidak heran, sebab mereka anak-anak remaja masjid.
Namun seperti yang juga mereka pahami, jodoh, rezeki dan maut ada di tangan Allah. Saya pun sebenarnya tak ingin berdekatan dengannya, tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya kami dekat, dan semakin dekat hingga menjadi sahabat. Saya adalah satu di antara sahabat dekatnya, hingga kami beranjak jelang dewasa.
Suatu ketika terjadi berita heboh, Marni diberitakan “tek dung” dan Kempling menjadi tersangka. Pak Sadiman tidak terima, dan meminta Kempling untuk bertanggung jawab. Beberapa tetua kampung mendukung dan mendesak, bahkan sahabat-sahabatnya pun ikut menasihati.
“Saya tidak bersalah dan tidak akan bertanggung jawab apapun, karena tidak pernah melakukan perbuatan itu!” sergah Kempling. Dia tidak peduli, meski demikian banyak warga coba menyudutkan dan memaksa, anak itu tetap pada pendirian.
Sebagai sahabat, saya coba menasihati sambil mencari tahu duduk persoalannya.
“Demi Allah, saya tidak melakukannya! Menyentuh tangannya saja tidak pernah,” jawab Kempling dengan tatapan nanar.
Saya percaya, lalu coba bicara dengan beberapa orang tua berpengaruh untuk menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang lebih bijaksana. Alhamdulillah mereka setuju. Tiga minggu kemudian setelah uji DNA dilakukan, hasilnya terbukti. Tidak ada “jejak” Kempling dalam rahim Marni. Lalu siapa pelaku sebenarnya? Hanya Marni dan Alloh yang tahu.
Lalu pesan apa yang hendak dimunculkan dalam cerita di atas?
Seseorang biasanya mengetahui watak dan ciri khas sahabatnya. Sekian tahun bersahabat dengannya, saya mengetahui beberapa watak serta kebiasaannya. Seperti: Kempling itu sebenarnya penakut dengan perempuan, tetapi dia mengamuflasenya dengan pura-pura menjadi sosok lelaki penggoda. Beberapa perempuan yang berani membalas godaannya membuat ia mati kutu. Kempling pun suka berbohong dan mengarang cerita agar di mata orang dia terlihat hebat. Bila ada yang mempertanyakan keabsahan ceritanya, dia berani mengucapkan “demi tuhan”, tetapi bila ia mengatakan “ demi Allah” itu artinya dia tidak berbohong.